Sabtu, 25 Mei 2024

REVIEW DRAKOR "VOICE SEASON 4"

Season 4 ini menceritakan tentang Derek Cho, salah satu polisi berkebangsaan AS yang kebetulan ada tugas yang harus dia selesaikan di Korea Selatan, dan di sana dia membawa serta adiknya yaitu Lisa Cho yang berkeinginan mencari ayah kandung mereka, dan beberapa waktu sebelum mereka datang, pembunuhan berantai yang dilakukan oleh orang berpakaian seperti circus dengan mayat yang dikalungi lampu kelap kelip dan biasanya terjadi saat Hari Natal, terjadi. Dan apesnya, Lisa Cho harus menjadi korban salah satu pembunuh berantai itu karena dia nggak sengaja memergoki pembunuhan di unit apartemen yang dekat dengan apartemen yang dia kunjungi untuk menemui salah satu orang yang bisa memberinya petunjuk tentang ayah kandung mereka. Akhirnya Derek Cho memutuskan untuk tinggal di Korea Selatan sampai dia bisa mengungkap dan menangkap pembunuh adiknya. Sebelum kasus pembunuhan yang membuat Lisa Cho jadi korban, Kwon Joo sudah dapat banyak e-mail dari Circus Man yang salah satu isinya adalah memperingatkan pembunuhan selanjutnya yang bakalan terjadi pada sebuah keluarga yang tinggal di sebuah unit apartemen.

Dan guess what? Salah satu klu yang dikasih di awal adalah pelakunya mirip banget sama Kang Kwon Joo alias pemimpin tim Golden Time, tapi sebelum Derek Cho mencurigai Kwon Joo lebih jauh, temannya yang dari AS memeriksa rekaman CCTV yang menunjukkan seseorang yang mirip sama Kwon Joo dan mengkonfirmasi bahwa itu bukanlah Kwon Joo yang asli, melainkan seseorang yang menyamar sebagai Kwon Joo dengan mengenakan topeng dan riasan khusus, tapi kalau dilihat dari perawakannya memang benar benar mirip sama Kwon Joo dan aku pikir Kwon Joo punya kembaran yang terpisah jauh sama dia, tapi ternyata apa yang aku pikirkan nggak terjadi. Ada seseorang dari masa lalu Kwon Joo yang terungkap di sini kenal dan dekat sama Kwon Joo sampai akhirnya dia terobsesi untuk menjadi Kwon Joo, tapi versi jahatnya. Jadi si peniru ini udah nyari tahu banyak soal Kwon Joo dan tahu kalau Kwon Joo punya kelebihan bisa mendengar suara sekecil apapun dari radius tertentu, dan kemampuan itu digunakan untuk menyelamatkan orang orang, sementara si peniru ini membuat alat bantu pendengaran yang membuat dia bisa mendengar suara sekecil apapun bahkan kemampuannya di atas Kwon Joo, tapi kemampuannya justru digunakan untuk membunuh orang orang. Di sini seperti Kwon Joo dihadapkan oleh dirinya sendiri dengan versi yang berbeda dan untungnya Kwon Joo nggak kemakan pancingannya si pelaku sehingga Kwon Joo tetap bisa berpikir jernih kalau dia nggak sama seperti si peniru dirinya. Walaupun si penirunya adalah monster, dia nggak mau jadi monster juga. Konflik yang dihadapi Kwon Joo hampir sama dengan yang dialami oleh Do Kang Woo di season 3 sebelumnya, bedanya kalau Kang Woo memang ada hubungan darah dengan serial killer yang mereka cari, dan Kwon Joo nggak ada hubungan darah dengan si peniru dirinya di season 4 ini.

Duh, sorry ya, malah jadi spill the tea tipis tipis gini.

Sama seperti di season season sebelumnya, di season ini juga mereka masih bertahan sebagai Golden Team yang menangani beberapa kasus di samping mengerjakan kasus utama yang mana beberapa kasus kasus selingannya juga ada yang memberikan mereka klu guna memecahkan kasus utama.

Untuk memburu si Circus Man, serial killer tersebut, mereka rela pindah kantor ke Pulau Vimo sampai pelaku sebenarnya tertangkap dan alasan kenapa season 4 ini lebih epik lagi adalah masalah utama mereka nggak cuma satu, tapi malahan menurutku masih ada satu masalah utama lagi. Yang pertama, jelas, masalah mereka adalah Circus Man yang ternyata akan mengungkap masa lalu Kwon Joo, dan masalah yang kedua adalah misteri Desa Sonang, salah satu desa di Pulau Vimo, yang punya rahasia gelap, hampir mirip sekte sesat tapi ini lebih ke perdukunan, yang mana masalah di Desa Sonang ini juga ada kaitannya sama Circus Man yang mereka cari.

Di episode terakhir season 3 dikasih sebuah epilog yang menurut teoriku, season 4 ada kaitannya dengan situs gelap Dokter Fabvre, tapi ternyata hint tentang situs itu nggak diperlihatkan di awal, justru si serial killernya ini membuat situs gelapnya sendiri yang bernama Circus Man, sebuah situs yang digunakan si serial killer untuk mencari mangsanya. Kalau aku jelasin lebih banyak nanti malah spoiler abis abisan, jadi lebih baik ditonton aja kalau penasaran hehehehe.

Oke, balik ke hint Dokter Fabvre itu tadi yang nggak dikasih di awal season 4, kupikir memang nggak ada hubungannya dengan situs gelap yang muncul di season 3, jadi aku kesampingkan dulu soal situs itu, dan ternyata baru terungkap apa peran situs Dokter Fabvre di season 4 ini menjelang episode akhir (silakan tonton sendiri wkwk).

Premis yang diusung di season 4 ini belum aku temukan di drakor genre crime yang sejauh ini sudah aku tonton karena kalaupun mereka mengusung tema tentang masalah mental atau kejiwaan, pasti yang diusung adalah si serial killer ini mengidap gangguan anti sosial yang mengarah ke psikopat, tapi di season 4 ini berkaitan dengan masalah kepribadian si pelaku yang lebih dari satu, dan itu adalah salah satu kendala terbesar untuk Golden Time dan Derek Cho untuk melacak pelaku sebenarnya karena bahkan pelakunya nggak ingat kalau dia pernah melakukan pembunuhan sebab kepribadiannya sering kali berubah ubah dalam waktu berdekatan.

Aku sendiri merasa "gemas" dengan si serial killernya yang beberapa kali setelah tertangkap bisa kabur, bahkan mendekati akhir, aku pikir si serial killer ini nggak akan berhasil tertangkap karena dihalangi sama masyarakat Desa Sonang karena si pelaku ini adalah cucu dari orang yang dituakan di desa itu, jadi para polisi harus melawan masyarakat desa dan untungnya berhasil sih.

Untuk season 4 aku kasih rating 9/10 dan menurutku juga, Voice dari season 1 sampai 4 ini adalah drama Korea genre crime terbaik yang pernah aku tonton karena bagaimana mereka menangani kasus yang harus dipecahkan oleh Tim Golden Time benar benar keren sehingga alurnya nggak terlalu lambat apalagi terlalu cepat, alurnya pas. Belasan episode menurutku digarap dengan apik dan sesuai porsinya. Sensasi tegang saat memburu pelaku kejahatan juga benar benar bisa dipertahankan sampai di season 4, jadi itu yang bikin Voice series ini bikin ketagihan untuk ditonton.

Menurut kabar sih katanya bakalan ada season 5 sekaligus penutup Voice series, pemainnya masih dengan Kang Kwon Joo, tapi untuk lawan mainnya masih belum tahu dan di season 5 nanti kata penulisnya, akan mengungkap cukup dalam mengenai kemampuan pendengarannya Kwon Joo karena memang di season 1-3, Kwon Joo walaupun tokoh utama, nggak banyak yang tahu gimana latar belakangnya, dan untungnya dikasih sedikit hint di season 4. Nggak sabar buat nunggu season 5 dan kalaupun drakor ini sampai season 10 juga aku bakalan betah nonton selama alurnya masih fresh dan tepat. Pokoknya i'm glad that Voice series is exist karena ini kayak memenuhi kebutuhanku yang haus sama drakor drakor bergenre crime.

Sampai jumpa di review review yang lainnya.
Share:

REVIEW DRAKOR "DUTY AFTER SCHOOL"

Akhirnya selesai juga menonton salah satu drakor dengan tema survival yang menurutku epik dan bagus. Duty After School adalah drama Korea yang menceritakan tentang para murid SMA yang sebentar lagi akan naik kelas 12 dan menghadapi CSAT atau ujian masuk perguruan tinggi yang susahnya minta ampun, tapi alih alih menjalani kehidupan SMA seperti pada umumnya, mereka malah harus melakukan serangkaian pelatihan militer karena ada bola bola misterius yang terbang di langit Korea Selatan dan ketika bola itu jatuh kemudian pecah, makhluk makhluk aneh akan langsung berlari berpencar mencari mereka lalu menjadikan mangsa dan kalau makhluk itu sudah menghinggapi tubuh manusia, manusianya pasti meninggal dalam keadaan yang mengenaskan. Seluruh kota di Korea Selatan hancur berantakan karena kejadian ini dan tentu saja memakan banyak korban. Jalanan yang biasanya ramai jadi sepi. Toko toko ditinggal para pemiliknya. Yang tersisa hanyalah anak anak SMA kelas 12 dan beberapa personel tentara yang harus melawan makhluk itu sampai dinyatakan selesai dengan iming iming siapapun yang berhasil melakukan misi ini sampai akhir akan diberi poin ekstra untuk SCAT nanti. Mereka semangat dong, dan berpikir bahwa ini hanya sebentar, nggak tahunya sampai setahun mereka harus berperang sama makhluk itu dan dijadikan alat pemerintah untuk melawan para makhluk aneh itu sambil menunggu senjata buatan manusia bisa rampung supaya bisa memusnahkan bola bola misterius itu lebih banyak. Total ada 10 episode dan menurutku alurnya pas, nggak terlalu cepat atau terlalu lambat. Konflik yang terjadi di antara mereka juga realistis, khas perdebatan anak anak SMA, persahabatan yang diuji ketika harapan mereka untuk kembali bersekolah seperti normal rasa rasanya nggak akan mungkin tercapai, belum lagi mereka harus kehilangan beberapa orang dan teman karena insiden itu, ditambah harus jauh dari orangtua dan sama sekali nggak tahu keadaan mereka apakah selamat atau enggak, dan ketika harus menghadapinya sampai akhir juga bukan hal yang mudah. Kemistri semua tokohnya terbangun dengan bagus. Pelan pelan mereka jadi dekat dan saling melindungi sampai akhir. Aku kira endingnya sesuai ekspektasiku, mereka diserang sama makhluk makhluk dari bola bola yang jatuh, tapi ternyata endingnya di luar dugaanku. Plot twistnya mantap.

Ada salah satu tokoh yang sebelumnya nggak terlalu krusial menurutku, tapi di akhir dia mengalami pengembangan karakter yang cukup bagus, tokohnya adalah Kook Young Soo. Dia adalah yang paling berambisi untuk ikut CSAT di saat teman temannya sudah nggak semangat lagi, karena apa yang diharapkan dari perjuangan mereka yang seolah tanpa akhir itu? Bertahan hidup aja udah syukur, boro boro mikirin CSAT. Mereka kayak udah kehilangan harapan. Dan mendekati akhir episode, terungkap juga kenapa Young Soo sangat berambisi untuk bisa ikut CSAT dan syok berat setelah tahu kalau CSAT dibatalkan, itu artinya perjuangan mereka untuk membasmi makhluk makhluk itu sia sia, poin tambahan yang dijanjikan ternyata nggak pernah ada, mereka benar benar dijadikan alat sama pemerintah untuk melawan semua makhluk itu tanpa perlindungan dari siapapun. Wajar sih mereka stress, mereka cuma remaja 19 tahun yang cuma kepengin menjalani masa SMA mereka dengan normal. Kook Young Soo ternyata nggak terlahir dari keluarga yang kaya, ibu bapaknya harus kerja keras setiap hari untuk membiayai sekolah dia dan adik adiknya, jadi nggak heran kalau dia berjuang keras banget di tengah kehancuran negaranya akibat para makhluk misterius itu supaya bisa masuk universitas terbaik, dapat pekerjaan terbaik, dan bisa mengubah nasib keluarganya sebab dia nggak mau nasibnya di masa depan kayak ayah ibunya, dia juga nggak mau adik adiknya punya nasib yang sama kayak orangtua mereka, dan di sini, yang tahu soal alasan Young Soo berambisi ikut CSAT cuma Yi Cheol. Teman teman sekelasnya nggak ada yang tahu, bahkan nggak ada yang bertanya kenapa Young Soo seambis itu. Mereka cuma bisa menyalahkan tingkah Young Soo yang nggak bisa menerima kenyataan kalau CSAT buat angkatan mereka dibatalkan. Jang Soo, salah satu tokoh di sini yang kalau nggak salah adalah wakil ketua kelas, berusaha menenangkan Young Soo dengan bilang kalau CSAT nggak diadakan, masih ada tahun depan, tapi itu nggak membuat Young Soo tenang karena Young Soo nggak punya guru privat atau pergi ke tempat bimbel kayak teman temannya. Teman temannya rata rata adalah orang yang mampu secara finansial, jadi kalaupun gap year juga mereka nggak masalah, sementara buat Young Soo, gap year adalah masalah besar buat dia karena dia akan membebani keluarganya. Aku juga nggak bisa menyalahkan Young Soo yang nggak menceritakan soal kenapa dia ambis banget buat ikut CSAT ke teman temannya karena mungkin itu adalah hal memalukan buat diketahui sama banyak orang, tapi di satu sisi aku juga nggak bisa melulu menyalahkan teman teman sekelasnya yang nggak menanyakan kenapa Young Soo seambis itu karena keadaan mereka sendiri juga sulit. Setiap anak punya konflik batin dan pikirannya sendiri, mereka juga udah capek fisik dan batin, jadi kalau harus dituntut ini itu juga bakalan capek berkali kali lipat.

Situasinya sulit dan kacau banget, sampai aku yang nonton udah capek mau menyalahkan siapa dan siapa. Mau nyalahin pemerintahnya karena nggak melindungi anak anak itu, tapi ya gimana, mereka juga kehilangan banyak personel tentara yang membuat mereka harus bertahan hidup dengan mengorbankan anak anak itu sebagai tameng selama mereka mengembangkan senjata untuk memusnahkan bola bola itu dalam waktu yang singkat. Mungkin mereka memang harus berkorban dan dikorbankan, supaya perang melawan para makhluk itu selesai, walaupun memang pelik banget, tapi, yah... begitulah.

Kenapa jadi serius banget gini ya, hehe.

Tapi terlepas dari ini itu, aku berani kasih rating drakor ini 9/10 karena komedinya dapat, kemistri para pemainnya dapat, persahabatannya dapat, perjuangan untuk bertahan hidup juga dapat, endingnya juga mantap walaupun yah wkwkwkwkwkwkwkwkwkwkw ah, sudahlah, tapi di akhir episodenya, beruntung banget dikasih kilasan video "dibuang sayang" istilahnya yang memperlihatkan scene dimana semuanya masih normal dan baik baik aja, di saat mereka semua cuma murid SMA biasa.

Aku nggak tahu banyak soal sinematografi dan unsur unsur dalam film yang harus diperhatikan untuk membuat kritik film dan ulasan, tapi ini adalah caraku mengulas film itu. Memang nggak sesuai dengan pedomannya, tapi semoga bisa dipahami.
Share:

Sabtu, 11 Mei 2024

REVIEW DRAKOR VOICE SEASON 3

Akhirnya aku bisa merampungkan drama Korea Voice season 3 setelah beberapa bulan tidak aku tonton karena ada kesibukan lain. Sempat sempoyongan mengikuti alurnya lagi, tapi lama-lama paham juga.

Semuanya menjadi lebih jelas di season 3. Tim Golden Time masih memburu pelaku kejahatan cyber yang membingungkan di awal–apakah basis mereka di Korea Selatan atau di Jepang? Karena Detektif Do Kang Woo bahkan sempat menghilang selama sekian bulan untuk memburu mereka ke Jepang setelah kejadian di episode terakhir season 2.

Banyak yang harus berkorban di season 3, termasuk di antaranya adalah 2 tokoh utama (aku nggak mau spill siapa aja hahahaha). Aku pikir kasus cyber tentang situs lelang Dokter Fabvre dengan prinsip lelang sebuah lukisan padahal ternyata adalah situs untuk membeli video pembunuhan sadis dan anggota tubuh manusia, nggak ada hubungannya sama sekali dengan Detektif Do Kang Woo, tapi ternyata salah satu pembunuh berantai yang bernama Bang Je Soo yang sudah muncul dan meresahkan Tim Golden Time sejak season 2, memang digunakan untuk mengganggu Kang Woo karena ternyata seseorang yang punya hubungan darah dengan Kang Woo adalah salah satu orang yang paling dicari. Plotnya bagus dan cukup plot twist karena aku pikir selain Bang Je Soo yang terobsesi untuk mengganggu Kang Woo, ada Koichi, salah satu anggota Dokter Febvre yang bukan tokoh baru, melainkan sudah kenal Kang Woo saat Kang Woo masih kecil. Kalau ditarik secara garis besarnya, premis season 2 dan 3 sederhana saja, seseorang yang punya hubungan darah dengan Kang Woo membangun sebuah situs gelap untuk memancing Kang Woo karena dia yakin Kang Woo adalah monster yang sama dengan orang-orang di balik situs gelap tersebut, dan bagaimana premis sederhana itu dikembangkan kemudian dieksekusi dengan cara yang epik, rumit, dan artistik dalam artian “dark” karena beberapa korban yang dibunuh diperlakukan seperti sebuah seni, adalah poin yang bikin aku sukses tepuk tangan untuk Voice season 2 dan 3 ini.

Ending di season 3 ini sungguh………. hmmmm…. hehehehe aku bahkan agak gemas kalau ingat gimana endingnya, tapi menurutku, ending yang bikin “gemas” ini adalah ending yang sudah seharusnya alias sudah tepat. Ending season 3 mengingatkanku pada salah satu drakor yang punya ending sama, yaitu Kill It.

Konflik yang dibangun pada pertengahan season 2 hingga season 3 sangat epik menurutku. Ini adalah jenis konflik internal, konflik pribadi yang akhirnya mengganggu tim Golden Time. Aku juga salut dengan tokoh Detektif Do Kang Woo yang berusaha melawan penyakitnya yang kadang kambuh dan merugikannya karena dia akan kelihatan seperti orang jahat, dan sepanjang season 3 dia berjuang untuk menahan hasratnya menjadi seorang monster karena bagaimanapun, dia adalah seorang detektif, seorang polisi yang tugasnya adalah menyelamatkan masyarakat. Konflik internal yang dihadapi Kang Woo tidak mudah, aku cukup “gemas” karenanya, dan bagaimana ending season 3 yang…. yahhhhh… bikin gagal move on, tapi memang itulah ending yang tepat untuk Kang Woo.

Aku nggak akan bosan bilang kalau Voice adalah salah satu drakor genre crime dan misteri terbaik yang pernah aku tonton. Ah ya, jangan skip prolog season 4 di last episode dari season 3 ya, karena ternyata ada plot twist lain yang lebih besar daripada itu. Klunya adalah, orang yang kita pikir sudah mati di season sebelumnya, ternyata masih ada kaitannya di season 4. Dan premis dari season 4 juga nggak kalah epik. Dan yang berkonflik sekarang adalah Kang Kwon Joo yang harus berhadapan dengan seseorang dengan kemampuan pendengaran yang sama dengannya, tapi digunakan untuk tujuan yang nggak baik. Di season 4 aku rasa akan lebih tegang dan lebih kejar-kejaran karena aku rasa, situs gelap di season 3 belumlah rampung sepenuhnya sebab di season 4 akan disinggung dan mungkin masih jadi masalah utama yang harus mereka brantas bersama.

Nggak sabar untuk nonton season 4 dan kasih reviewnya ke kalian.

Terima kasih untuk suguhan yang memukau dari season 2 sampai 3, ini adalah salah satu drakor yang bikin aku gagal move on, hahahaha. Good job all.

Sampai jumpa di review Voice season 4.
Share:

Sabtu, 30 Maret 2024

YOU ARE THE APPLE OF MY EYE: KISAH CINTA SEDERHANA YANG RUMIT

 

You Are The Apple of My Eye adalah salah satu film Taiwan yang terkenal dan sempat diadaptasi dalam versi Jepang dengan judul yang sama, tapi bagi saya, yang paling “kena” kemistri tokohnya adalah versi originalnya, dengan tokoh perempuan bernama Shen Chia Yi dan tokoh laki-laki bernama Ko Ching Teng (Ko Teng).

Film ini fresh dan jujur walaupun memang agak vulgar menceritakan bagaimana kehidupan anak-anak SMA khususnya imajinasi laki-laki tentang perempuan. Premisnya ringan aja. Menceritakan soal Ko Teng, si murid lelaki yang bisa ditemui di tiap-tiap sekolah di Indonesia. Dia selalu bercanda, sukanya baca komik dan nonton film dewasa, nggak tertarik belajar dan dapat nilai bagus. Kontras sama tokoh utama perempuannya, Shen Chia Yi, yang nggak lain adalah bintang kelas, jadi idola banyak cowok, cantik, kalem, suka belajar dan hidupnya udah ditata sedemikianrupa oleh dirinya sendiri. Mereka berdua yang kontras ini ketemu gara-gara salah satu guru menyuruh Shen Chia Yi mengajari Ko Teng sampai nilainya naik. Awalnya Ko Teng susah banget nurut, tapi lama-lama mereka akrab dan sering belajar bareng bahkan bikin taruhan, siapapun yang nilainya tinggi, harus mengubah penampilan. Lama-lama, Ko Teng naksir Shen Chia Yi. Sebenarnya Shen Chia Yi juga naksir, tapi Ko Teng terlalu kekanakan buat dia, dan menurut Ko Teng, Shen Chia Yi susah dimengerti padahal dia pikir mengerti perempuan itu semudah mengerti ibunya yang akrab sama Ko Teng dan bapaknya.

Ko Teng dengan pemikiran polosnya soal cinta, nggak pernah kepikiran untuk mengubah dirinya menjadi lelaki yang lebih baik buat mendapatkan Shen Chia Yi. Karena dia pikir, perempuan yang suka sama dia pasti bisa nerima apa adanya. Dan karena dari dulu Ko Teng pengin bisa menguasai bela diri, jadilah dia menantang diri sendiri untuk tanding lawan teman-teman asramanya, dan dia mengundang Shen Chia Yi buat nonton sebab Ko Teng pengin membuktikan bahwa dia punya kelebihan yang bisa dibanggakan. Apakah Chia Yi senang sama pembuktian yang dilakukan sama Ko Teng? Ternyata enggak. Karena Chia Yi menurutku adalah cewek yang cinta damai. Segenting apapun keadaannya, jangan sampai ada keributan di depan mata. Apa lagi ini si Ko Teng main nantangin cowok-cowok di asrama buat tanding one by one sama dia, padahal Chia Yi sama sekali nggak minta Ko Teng untuk membuktikan diri dengan cara yang seperti itu.

Chia Yi marah ke Ko Teng dan bilang kalau cowok itu kekanakan dan nggak bisa berubah. Menurutku, Chia Yi maunya Ko Teng tuh berubah jadi cowok kalem yang pintar dan menata masa depannya dengan rapi, kuliah di jurusan bergengsi dan punya penghasilan yang layak buat membangun keluarga kelak, tapi pemikiran Ko Teng masih tentang bagaimana dia menyenangkan diri sendiri karena menurutku Ko Teng belum siap pacaran soalnya dia masih proses mencari jati diri. Dia gegabah macarin Chia Yi karena dia pikir cinta itu sesederhana yang ada di pikirannya, padahal dalam prakteknya rumit. Ko Teng nggak suka dikatain kekanak-kanakan sama Chia Yi, dia malah ngatain balik dan bilang kalau Chia Yi nggak pernah mau mengerti dia. Chia Yi nggak berusaha untuk mengerti kenapa Ko Teng melakukan semua ini. Intinya, prinsip mereka soal hidup aja udah beda, nggak sejalan, jadi kalau diterusin juga nggak akan lama hubungannya.

Karena kecewa, Chia Yi dan Ko Teng nggak kontakan selama beberapa bulan. Selama beberapa bulan itu, Ko Teng sudah anggap dia dan Chia Yi putus, walaupun nggak ada yang ngomong putus duluan. Selama mereka nggak kontakan, Chia Yi ternyata sempat pacaran sama temannya Ko Teng, nggak tau beneran naksir atau cuma kasihan. Dan selama jauh dari Chia Yi, Ko Teng nggak nyadar juga apa kesalahannya. Buat dia, harusnya mencintai Chia Yi bisa sesederhana yang ada di pikirannya soal cinta, harusnya Chia Yi nggak perlu jadi susah dimengerti begini.

Ada salah satu scene sebelum mereka bertengkar, dimana Ko Teng dan Chia Yi jalan-jalan berdua. Mereka kelihatan senang, tapi di penghujung hari yang dihabiskan bersama, Chia Yi nanya ke Ko Teng tentang alasan dia suka sama Chia Yi. Ko Teng nggak bisa jawab karena dia pikir, cinta ya cinta, nggak butuh alasan. Kalau cinta masih pakai alasan, namanya bukan cinta. Tapi Shen Chia Yi nggak puas sama jawabannya Ko Teng. Menurut dia, Ko Teng tuh nggak mikir panjang buat suka sama dia, padahal menurut Chia Yi, Ko Teng harus mikir matang-matang sebelum dia memutuskan buat suka dan pacaran sama Chia Yi. Chia Yi bahkan bilang ke Ko Teng kalau dia nggak seperti yang dibayangkan Ko Teng dan teman-temannya. Dia memang rajin belajar, tapi dia nggak suka bersih-bersih. Kos-kosannya bahkan lebih berantakan dibanding teman sekamarnya. Dia juga sering ceroboh. Intinya, Chia Yi mau kasih paham ke Ko Teng kalau dia bukan Chia Yi yang dianggap “Dewi”. Dia manusia biasa yang punya kekurangan. Chia Yi takutnya, Ko Teng suka sama dia bukan karena dia yang sebenarnya, tapi karena Shen Chia Yi dalam imajinasi Ko Teng sendiri. Tapi untuk pemikiran yang serumit ini, jelas Ko Teng nggak langsung paham. Dia pikir, ya elah, kenapa perasaan suka jadi ribet begini sih?

Scene lainnya yang bikin Chia Yi jadi kurang yakin kalau Ko Teng memahami perasaannya adalah ketika mereka mau lepasin lampion bareng-bareng. Di sana, Ko Teng bilang kalau dia suka sama Chia Yi. Chia Yi udah baper, dia nanya ke Ko Teng, apa kau mau dengar jawabanku? Tapi Ko Teng malah geleng-geleng kepala karena dia takut ditolak sama Chia Yi. Chia Yi agak kecewa karena sikap ragu-ragunya Ko Teng bikin dia mikir, berarti nih cowok nggak peka sama perasaan gue, padahal gue suka juga sama dia.

Shen Chia Yi pikir dia bisa mengubah Ko Teng dari cowok tengil jadi cowok berwibawa, tapi ternyata nggak bisa dan dia kecewa sama Ko Teng dan ekspektasinya. Ko Teng juga nggak bisa memahami Chia Yi karena buat dia, cewek bisa jadi dewasa lebih cepat dibanding cowok. Dan ketika mereka udah dewasa, mereka nggak akan milih cowok kekanakan walaupun mereka sama-sama suka. Chia Yi penginnya hubungan mereka langgeng sampai ke pernikahan, tapi Ko Teng nggak mikir sampai sejauh itu. Dan itulah yang bikin mereka nggak bisa sama-sama buat waktu yang lama sebagai teman seumur hidup.

Share:

Minggu, 11 Februari 2024

THERE IS A PARADOX INSIDE MYSELF

Judulnya doang Inggris, tapi seterusnya akan ditulis pakai Bahasa Indonesia.

Beberapa tahun lalu, sekitar satu sampai dua tahun lalu, aku tertarik dengan tes personality untuk tahu, dari 16 personaliti yang ada, aku masuk yang mana. Aku hampir lupa urutan hasil tesnya, tapi kesemuanya menunjukkan bahwa kepribadianku adalah introvert. Tes pertama hasilnya adalah INFP, lalu berubah ke ISTJ, berubah lagi ke INFJ, dan terakhir kembali lagi ke INFP. Ternyata memang tes kepribadian itu bisa berubah-ubah tergantung situasi dan kondisi diri sendiri pada saat melakukan tes, tapi aku keukeuh ingin mencari tahu aku ini punya kepribadian apa, dan setelah baca-baca di quora, ada yang bilang bahwa untuk mengetahui kepribadianmu yang mana karena pasti bingung sebab suka berubah-ubah hasil tesnya, pilih satu kepribadian yang ciri-cirinya relate sama kamu.

Well, aku memang belum mengenal diriku sebaik dan sedalam itu, tapi aku tahu beberapa hal yang aku rasakan. Dan aku mulai meyakini bahwa aku adalah seorang INFP karena ciri-cirinya menggambarkan “aku banget”. Aku nggak akan menyebutkan semua ciri-ciri orang INFP di sini karena kalian bisa baca sendiri di google banyak banget.

Salah satu ciri yang mau aku highlight di sini adalah tentang seorang INFP yang disebut-sebut sebagai paradoks berjalan alias the walking paradox. Ini terjadi karena kepala mereka terlalu berisik dengan pemikiran-pemikiran yang saling bersilangan. Mereka bisa jadi orang yang percaya dengan cinta, tapi di satu waktu yang sama juga tidak sepenuhnya percaya dengan cinta. Mereka bisa menjadi seseorang yang idealis, tapi di satu sisi juga realistis. Dia bisa jadi orang yang rajin banget, tapi juga malas banget. Dia bisa jadi orang yang setuju dengan suatu pemikiran, tapi di saat yang bersamaan membantah beberapa poinnya. Mereka seperti ada di tengah-tengah dan cenderung netral untuk beberapa kasus.

Dan menjadi seseorang yang seperti itu sangat melelahkan.

Seringkali prinsip hidup yang aku punya harus goyah karena melihat prinsip hidup tokoh lain. Aku meyakini filosofi tokoh A, tapi aku juga menganggap filosofi tokoh B juga ada benarnya. Rasanya susah sekali untuk memegang satu prinsip yang saklek bagiku. Sebab aku terbuka dengan banyak prinsip hidup yang disajikan baik dari segi filsafat atau psikologi atau yang lainnya. Tapi kupikir itu adalah hal yang wajar. Aku masih 22 tahun dan belum tahu banyak soal hidup. Mungkin aku bisa menemukan prinsip hidupku sendiri ketika aku sudah cukup tua.

Share:

Jumat, 26 Januari 2024

KEMUNCULAN AI: SEBUAH PARADOKS ANTARA KEMUDAHAN DAN HILANGNYA KEASLIAN SUATU KARYA

 

Saya kagum dengan animasi-animasi karya Hayao Miyazaki yang menampilkan suasana zaman yang belum modern. Hayao Miyazaki pernah mengatakan bahwa ia adalah manusia yang lebih cocok hidup di era yang belum modern. Ia nggak akan pernah relate dengan hal-hal modern saat ini.

Sejenak, saya seperti menemukan teman sepemikiran. Karena saya sendiri nggak suka perubahan teknologi yang terlalu cepat ini. Kemajuan teknologi tidak dibarengi oleh kesiapan manusia. Beberapa ASN yang sudah berumur senja harus menguasai teknologi modern dalam hitungan minggu atau bahkan bulan. Kemajuan teknologi membuat beberapa manusia yang tidak bisa menggunakannya terkesan seperti manusia yang tertinggal.

Walaupun di satu sisi beberapa hal menjadi mudah, seperti ketika belanja dan pesan makanan nggak perlu datang ke tempatnya, bisa transfer jarak jauh tanpa harus ke bank, sampai bisa pesan ojek lewat hape, tapi kemajuan teknologi jadi cukup merugikan ketika ia sudah memasuki dunia seni apalagi semenjak kemunculan AI atau Artificial Intelligent. Sekarang, orang yang nggak bisa menggambar pun bisa menggambar dengan bantuan AI, yang sibuk nggak ada waktu untuk mengerjakan esai, bisa dibantu dengan AI. Pekerjaan memang menjadi lebih cepat, tapi apakah semuanya yang cepat selalulah baik? Padahal dalam penciptaan sebuah karya seni, khususnya gambar, bukanlah sesuatu yang dapat dikerjakan dalam waktu singkat. Bisa berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Dan semenjak kemunculan AI, orang-orang bisa menggambar hanya dengan mengetikkan prompt, tekan enter, dan BOOM! Mereka sudah mendapatkan gambar digital yang diinginkan sesuai dengan prompt. Bahkan ketika saya mencoba salah satu jasa menggambar dengan AI gratis, AI juga memberikan beberapa referensi mengenai gambar-gambar lain yang relevan dengan prompt, yang tentunya tidak sebagus referensi gambar kalau menggunakan AI berbayar.

Banyak protes yang dilayangkan oleh para seniman khususnya yang bergerak di seni menggambar dan sejenisnya. Kemunculan AI membuat para seniman konvensional yang masih menggunakan kuas, kanvas, pensil, sketchbook, dan media non elektronik untuk menggambar tergerus eksistensinya. Menggunakan AI dinilai lebih praktis dibanding menyewa jasa illustrator konvensional. Belum lagi AI juga mencuri data-data dari gambar-gambar seniman yang diunggah ke internet tanpa seizin senimannya dan tentu saja hal ini tidak membuat para seniman menerima kompensasi atas data-data karya mereka yang dicuri untuk pengembangan AI.

Dalam salah satu video youtube yang mewawancarai Hayao Miyazaki dan melihat bagaimana beliau bekerja di balik layar untuk menghasilkan animasi-animasi Ghibli yang epik, saya cukup terkejut saat melihat bahwa beliau masih menggunakan kertas-kertas untuk menggambar karakternya menggunakan pensil lalu mewarnainya dengan pensil warna dan cat air. Saya pikir, sekelas Hayao Miyazaki pasti sudah menggambar menggunakan peralatan menggambar modern, tapi saya kagum dengan beliau yang selalu berusaha menjaga keaslian dari karyanya dengan tetap menggambarnya dengan cara yang tidak modern. Hal ini juga seperti gayung bersambut karena Hayao Miyazaki didukung oleh industry kreatif Jepang yang menghargai proses pembuatan karya dengan cara konvensional, baru nanti mereka yang akan mentransfer atau mengadaptasikannya dalam bentuk animasi digital, dengan tetap memperbolehkan Hayao Miyazaki mengawasi proses pengerjaannya dari awal hingga akhir. Dari kertas ke animasi digital. Padahal Jepang adalah salah satu negara dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat. Bahkan sekadar alat memesan es krim di toko-toko sudah menggunakan robot pintar, tapi untuk urusan seni, saya menghargai Jepang yang masih mau menerima karya-karya seniman yang digambar di atas kertas.

Maka dari itu, saya katakan bahwa saya cukup relate dengan apa yang disampaikan oleh Hayao Miyazaki yang kalimatnya saya tulis di awal tulisan ini. Enggak semua perubahan yang serba memudahkan urusan manusia ini lantas membuat saya ikut merasa senang. Menurut hemat saya, ada beberapa hal yang tetap harus dijaga keasliannya dan dibiarkan konvensional. Seharusnya teknologi bisa hidup berdampingan dengan karya-karya konvensional, bukan malah menindas dan menggerus eksistensi seniman-seniman yang tidak menggunakan alat-alat modern untuk menciptakan karya seni.

Penikmat karya konvensional memang akan selalu ada. Sama halnya beberapa orang masih menyukai buku fisik dibanding buku digital, begitupun beberapa orang pasti lebih suka menikmati karya seni dalam bentuk lukisan di atas kanvas dibanding gambar-gambar AI yang modern, tapi kemunculan AI masih menjadi momok yang membuat tidur para seniman tidak nyenyak. Dan sudah seharusnya nasib para seniman di negeri ini lebih diperhatikan dan dihargai.

Share:

PROSES KREATIF ADALAH “MENJINAKKAN” YANG “LIAR” DI DALAM DIRI

Proses kreatif yang saya maksud di sini adalah proses menciptakan sebuah karya. Saya meyakini kalau karya saya tercipta dari sisi liar dalam diri sendiri. Sisi liar didapat dari perasaan duka, kecewa, dan melihat kasus-kasus tidak manusiawi yang berserakan entah di sekeliling saya atau di media sosial. Sisi liar itu seperti campuran antara ramuan bernama realita dan imaji. Realitanya ada sebuah kasus yang sederhana, tapi setelah bertemu dengan imaji yang liar, mereka dicampurkan dan jadilah sebuah premis cerita yang kompleks, rumit, dan boleh jadi penuh dengan hal-hal yang tidak menyenangkan. Atau sebaliknya. Ketika mendapati ada sebuah kasus yang rumit, lalu realita itu bertemu dengan imaji, biasanya akan saya uraikan dari yang tadinya berbentuk gumpalan benang yang telah digulung menjadi helai-helai benang yang dirajut menjadi baju. Entah baju itu cocok dipakai di momen yang sedih atau menggembirakan (alias masuk ke cerita yang sad ending atau happy ending). Imaji saya kadang lebih liar ketika saya biarkan ia berkembangbiak dengan cara membelah diri. Imaji liar itu akan menghasilkan dua naskah yang punya dua ending—sad ending atau happy ending.

Dan kemudian, ketika menulis menjadi sebuah profesi, maka sesuatu yang liar itu harus dijinakkan menurut hemat saya. Mengutip dari apa yang dikatakan oleh Dee Lestari dalam bincang-bincangnya bersama Maudy Ayunda di kanal youtubenya, Dee Lestari mengatakan bahwa proses menciptakan karya baginya harus ada dalam struktur yang pakem, bukan liar. Apalagi untuk seseorang yang menjadikan menulis sebagai profesi. Yang saya tangkap di sini, maksudnya adalah, sebagai seorang penulis, tentu saja kita butuh alur dan plot juga beberapa detail lainnya. Tidak bisa kita hanya menulis dengan bermodalkan keliaran imaji tanpa disusun alurnya dari awal hingga akhir, hingga menjadi satu kesatuan novel yang utuh. Sederhananya, penulis memang harus punya alur, plot, dan segala unsur yang harus ada dalam novel di buku catatannya.

Jika Dee Lestari harus menggunakan struktur yang jelas saat menulis supaya imajinya tidak melenceng keluar garis yang telah ditentukan, Stephen King pernah mengatakan bahwa ia bahkan tidak pernah mencatat ide ceritanya di dalam buku catatan. Ia hanya mengingat ide ceritanya dan semua mengalir begitu saja sampai menjadi sebuah buku.

Di sini, saya tidak bermaksud membandingkan dua teknik menulis yang dilakukan oleh dua penulis di atas. Dua-duanya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, dan dua-duanya tidak ada yang sepenuhnya salah atau benar. Sebab menurut saya, dalam proses menciptakan sebuah karya, ada kalanya kita harus “melanggar” beberapa pakem yang ada.

Istilah lain menyebut bahwa penulis yang merancang alur dan plot ceritanya dari awal sampai akhir dinamakan architect writer. Dan yang tidak merancang alur dan plot disebut gardener writer. Arsitek diibaratkan adalah seseorang yang penuh perencanaan, sementara tukang kebun tidak punya rencana yang rinci dalam melakukan pekerjaannya—ia hanya melakukan apa yang ada di depan mata.

Sejak 2016 hingga sekarang masih aktif menulis di platform menulis dan membaca novel online, saya meyakini kalau saya adalah tipe gardener writer alias enggak pernah merancang alurnya dari awal hingga akhir. Saya hanya menulis berdasarkan apa yang saya ingat. Namun ketika tingkat sensitivitas diri meningkat, kepala saya menjadi berisik menerima ide-ide yang berlalu lalang. Kepala saya jadi berisik. Positifnya, tidak pernah kehabisan ide. Negatifnya, saya kualahan untuk menuliskannya dalam bentuk tulisan. Bahkan seringnya hanya saya abaikan dan tidak saya tulis sekalipun dalam bentuk cerpen. Kalaupun saya tulis, paling mentok hanya sebatas premis. Di sini, saya masih mengalami kesulitan untuk menggunakan teknik architect writer, yang menyusun keseluruhan isi novelnya dengan rinci. Karena ketika saya membuat plot dan semua unsur yang harus masuk dalam novel saya, naskah itu jadi tidak pernah saya selesaikan karena saya merasa sudah “menyelesaikannya” ketika menulis plot kasar dari awal sampai akhir. Kalau harus menuangkannya dalam bentuk narasi deskriptif, maka saya merasa harus bekerja dua kali. Padahal untuk menjadi novelis, kedisiplinan dalam berkarya harus dilatih dan dijadikan habit. Saya selalu ingin jadi novelis, tapi belum mampu mengatasi writers block yang ditimbulkan bukan karena kehabisan ide, tapi karena saya kesusahan untuk mengeksekusi sebuah ide karena plotnya belum saya rancang dengan jelas, tapi kalau plotnya saya rancang, yang ada nggak saya tulis sampai selesai. Ini adalah sebuah paradoks yang berusaha saya taklukkan supaya saya nggak dibikin takluk sama paradoks itu sendiri.

Saya masih “liar” dalam hal menciptakan karya. Dan belum menemukan cara untuk “menjinakkannya” untuk dimasukkan ke dalam struktur yang rapih.

But, still. I will do my best. Saya rasa, yang perlu saya lakukan hanya banyak-banyak menulis dan membaca sampai saya menemukan teknik kepenulisan saya sendiri.

Share:

Kamis, 25 Januari 2024

CERITA DARI MAHASISWI KUPU-KUPU ALIAS KULIAH-PULANG, KULIAH-PULANG

 Cerita dari Mahasiswi Kupu-Kupu

 

Beberapa bulan sebelum aku masuk kuliah sebagai mahasiswa baru, aku sangat berambisi untuk mengikuti banyak kegiatan dan organisasi di perkuliahan supaya aku bisa mendapatkan banyak teman sekaligus pengalaman, dan kalau melihat kenyataannya sekarang, aku hampir-hampir enggak percaya kalau aku pernah punya semangat yang menggebu-gebu seperti itu dulu, tapi setelah masuk perkuliahan, ada banyak hal yang membuatku harus beradaptasi, apalagi waktu aku harus kuliah online, sehingga aku harus memahami sistem kerjanya. Kakak tingkatku pernah bilang bahwa di masa kita masih maba, memahami karakter dosen saat mengajar di kelas adalah sesuatu paling penting yang harus pelajari supaya kedepannya kita paham aturan main dari masing-masing dosen saat memberikan tugas, jadi aku memutuskan untuk beradaptasi dan membaca karakter dosenku selama beberapa bulan dan aku baru bisa membiasakan diri ketika aku sudah ada di semester tiga karena ibarat kata, aku udah nggak kagok lagi sama jurusanku.

Kilas balik, aku nggak pernah melakukan konsultasi kepada guru BK atau orang tuaku tentang jurusan apa yang harus aku ambil karena kalau aku bertanya pada orang tuaku dan mereka menyuruhku untuk masuk ke salah satu jurusan yang mereka inginkan, aku takut tidak bisa memenuhi permintaan mereka, ataupun kalau aku bisa memenuhinya, aku menjadi tidak bisa menikmati perkuliahanku karena mata kuliah yang aku pelajari jauh dari apa yang aku pahami. Aku pernah ingin masuk jurusan hukum, tapi membayangkan kalau harus menghafalkan banyak pasal yang membuatku pusing, aku undur diri. Mau masuk akuntansi supaya bisa cari kerja dengan cepat setelah lulus nanti, aku sama sekali nggak pernah bersahabat baik dengan pelajaran yang banyak angkanya. Aku nggak paham tentang hutang dan neraca, jadi daripada aku bisa masuk tapi nggak bisa keluar, aku memutuskan untuk mencoret jurusan akuntansi dari daftar jurusan yang akan aku pilih. Ingin masuk ilmu sosiologi, aku akhirnya sadar kalau sosiologi adalah mata pelajaran yang cukup sulit aku pahami saat SMA karena terlalu banyak istilah rumit yang memang susah dipahami, jadi aku coret juga sosiologi dari daftar jurusan yang akan aku pilih. Ingin pilih sastra Indonesia, takutnya nanti nggak dapat kerja yang baik karena jurusan itu cukup banyak diragukan oleh lingkungan tempat tinggalku tentang prospek kerjanya, yang belakangan malah membuatku menyesal kenapa aku nggak masuk sasindo mengikuti kata hatiku karena ternyata semakin kesini, aku semakin menyukai sastra dan dunia kepenulisan. Dan karena nggak mau jadi guru, jelas aku nggak memilih FKIP, dan disinilah aku sekarang, di jurusan Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya. Yang aku pelajari adalah sejarah murni, sejarah yang dari akarnya, bukan sejarah yang ditambahi unsur pendidikan seperti jurusan FKIP sejarah.

Karena sibuk bertahan hidup di jurusan ini, ketika teman-temanku mendaftar organisasi, UKM, dan HMJ, aku hanya diam saja dan benar-benar nggak punya minat lagi untuk masuk ke organisasi atau UKM atau HMJ di jurusanku. Kukira, semester selanjutnya aku akan punya semangat itu lagi, tapi di sinilah aku, sampai aku semester tujuh pun, aku nggak pernah ikut satu organisasi, UKM, apalagi HMJ. Anggapan ‘mahasiswi apatis’ mulai menggerayangi benakku. Memang nggak ada yang mengatakan secara langsung kalau aku adalah mahasiswi apatis, tapi aku merasa sendiri bahwa aku punya label itu, sehingga untuk membuktikan bahwa aku bukanlah mahasiswi apatis, aku punya keinginan untuk ikut demo. Waktu itu, ada dua demo besar yang terjadi, yaitu tentang OMNIBUS LAW dan UU Cipta Kerja. Banyak teman jurusanku ikut turun ke jalan, dan waktu aku mau ikutan, aku nggak sengaja baca salah satu story whatsapp temanku yang bilang bahwa “ngapain ikut demo kalau nggak paham sama isu yang mau didemokan, mending ikut demo pas udah paham masalahnya apa, supaya pas turun ke jalan tau apa yang mau diorasikan”—di sana aku merasa tertampar—kayak, oh, iya juga ya, bener. Akhirnya aku mengurungkan niat untuk ikut demo, karena waktu itu aku juga nggak diperbolehkan sama orang tuaku untuk turun ke jalan. Akhirnya supaya aku merasa “menjadi bagian” dari perjuangan teman-teman, aku me-retweet banyak tweet tentang demo-demo besar itu di twitter. Cerita yang dibagikan macam-macam, sampai akhirnya aku melihat sisi demo yang lain, yang membuatku mempertanyakan apakah wajar suasana demo yang sekarang malah seperti panggung untuk sekadar bikin konten di sosial media? Bahkan ada yang bikin video joget bareng-bareng, dan drama lainnya yang bikin suasana demo seperti bukan sedang demo. Banner dan kertas-kertas yang diusung untuk memprotes kebijakan pemerintah juga banyak yang kata-katanya nggak relevan dengan apa yang akan mereka demokan. Semuanya jadi melenceng jauh dari ekspektasiku tentang suasana demo. Bahkan setelah demo selesai, ada yang mengupload foto mereka ke sosial media dengan caption-caption pembangkit semangat, dan aku bertanya, perlukah mengupload foto selfie saat demo ke sosial media untuk membakar semangat pelajar yang lain? Berapa banyak yang orasi dan berapa banyak yang ikut demo hanya untuk kebutuhan konten di sosial media? Dua hal itu jadi bias di mataku.

Permasalahanku nggak sampai sana aja, aku juga merasa ingin diakui bahwa aku ini bukan mahasiswi apatis dengan memperbaiki selera humorku. Selera humorku receh, biasanya, tapi aku mulai ada keinginan untuk punya selera humor yang cerdas, alias yang mau ketawa aja aku harus mikir dan membaca. Akhirnya aku mengikuti banyak akun meme sejarah di instagram dan beberapa kali mengupload meme-meme itu ke story whatsappku setelah aku paham tentang meme itu sehingga kalau ada orang yang reply untuk menanyakan tentang apa maksud meme itu, aku bisa menjawabnya dan aku dianggap pintar. Tapi ternyata, dari sekian ratus kontak teman yang aku simpan, bisa dihitung jari, bahkan Cuma satu-dua orang yang menanyakan maksud meme yang aku posting, sisanya hanya melihat, lalu sudah. Kemudian aku menjadi agak kesal tentang kenapa mereka, teman-temanku yang masih muda ini nggak peduli sama sejarah bangsanya sendiri, bla, bla, bla. Aku merasa kecewa dan malu karena ekspektasiku adalah mereka akan peduli dengan meme yang aku posting, padahal enggak sama sekali. Mereka punya kehidupan sendiri yang jauh lebih penting dibanding mikirin sejarah bangsa atau bahkan demo-demo besar di luaran sana.

Di sana aku sadar, ternyata ketika kita nggak jadi diri sendiri, rasanya sangat berat dan melelahkan. Semakin aku berusaha membuat orang-orang terkesan, semakin mereka enggak terkesan. Butuh waktu beberapa bulan untuk aku mulai bisa menghilangkan kebiasaan “haus pengakuan orang lain” ini. Salah satu cara yang aku lakukan adalah menghapus aplikasi sosial media yang aku punya, bahkan beberapa akun sosmed juga aku hapus, dan aku juga mengaktifkan fitur mute pada semua story whatsapp teman-temanku dan berhenti untuk upload story whatsapp terlalu banyak, sampai akhirnya aku nggak pernah upload apa-apa di sosial media, dan kalaupun upload, rentang waktunya pasti sekian bulan atau sekian tahun, sampai beberapa teman ada yang bertanya apakah nomor atau sosmedku masih aktif atau nggak.

Bahkan, aku juga menghapus aplikasi quora—dimana quora adalah sosial media yang bisa digunakan untuk tanya jawab semua hal—aku awalnya aktif sekali di quora sekadar untuk membaca dan menjawab beberapa pertanyaan ringan yang masuk, tapi lama-lama, terlalu banyak informasi yang aku konsumsi di quora membuatku kecanduan dan melupakan beberapa hal di dunia nyata yang harus aku selesaikan. Aku bahkan merasa jadi orang paling bodoh di antara sekian banyak pengguna quora yang punya jawaban-jawaban fantastis untuk pertanyaan yang berat. Too much information will kill you, dan kadang itu memang benar. Akhirnya, aku menyudahi keaktifanku di quora. Aku mencoba hidup tanpa media sosial, and guess what? Ternyata rasanya jauh lebih baik.

Aku sudah mulai jarang membandingkan diri sendiri dengan kehidupan orang lain di sosmed, aku lebih fokus dengan diri sendiri, dan melakukan banyak hal di dunia nyata daripada di sosmed.

Sampai sekarangpun, aku masih orang yang apatis dan nggak tau banyak soal isu-isu dunia bahkan di negaraku sendiri, karena aku sibuk menata kehidupan dan diri sendiri yang masih kacau, dan menurutku itu nggak apa-apa ketika aku nggak tau tentang banyak hal, karena manusia pada dasarnya nggak tau banyak hal, tapi bukan berarti rasa simpati harus berkurang karena tidak memedulikan atau tahu banyak hal. Menurutku kita punya kendali untuk menyeleksi hal-hal apa yang harus dipedulikan dan tidak. Karena aku mulai paham ketika ada banyak masalah pribadi yang datang dalam hidupku, ketika masalah itu berlalu-lalang, aku tahu kalau aku harus menyelesaikan masalahku dulu, urusan masalah di luar diriku, masalah negara dan lain sebagainya, biarlah menjadi tugas orang-orang yang ada di bidangnya, aku hanya ingin menjadi manusia biasa-biasa saja yang membantu semampunya dan tetap berkarya.


Share:

Senin, 22 Januari 2024

Berhenti Belajar Setelah Menjadi Orangtua adalah Kesalahan


Baru-baru ini saya berpikir tentang apa yang saya cantumkan sebagai judul tulisan kali ini, tapi pemikiran semacam itu tidak langsung saya setujui karena saya merasa pemikiran itu terlalu “liar” dan “tidak sopan” untuk dikemukakan bahkan sekadar dimiliki, tapi lambat laun, serangkaian peristiwa terjadi dalam hidup saya dan saya melihat beberapa kasus serupa yang saya alami juga dialami oleh orang lain—entah sudah atau sedang dialami.

Menurut saya belajar adalah proses seumur hidup, yang biarpun sudah tua, belajar hal-hal kecil—entah tetap melakukan hal yang sama atau mencoba hal baru, melakukan hal yang sama terus menerus juga merupakan proses pembelajaran, adalah sesuatu yang dilakukan sepanjang hidup secara sadar atau tidak. Contohnya saja, belajar bertahan hidup. Mau hidup yang dituju sederhana atau mewah, pasti di dalamnya, seorang manusia pasti belajar. Mereka belajar karena mendapatkan pelajaran yang harus dipelajari agar paham aturan main dan tidak melakukan kesalahan yang sama berulang kali. Dan ketika mereka paham aturan mainnya, mereka bisa survive.

Salah satu hal yang paling penting adalah belajar menjadi orangtua baik belajar sebelum menjadi dan saat menjadi orangtua. Kekerasan dalam rumah tangga yang mana anak bisa jadi salah satu korbannya, dan tindak kekerasan pada anak bisa diatasi apabila tiap-tiap individu ada kemauan untuk belajar mempersiapkan diri sebelum mereka menjadi orangtua. Bahkan sebelum mereka menimang anak kandung mereka, mereka harus memvisualisasikan tingkah seorang anak itu seperti apa, fase apa saja yang akan dia lalui di masa tumbuh kembangnya, perubahan apa saja yang akan dirasakan dan dialami baik secara fisik maupun mental oleh sang anak, bagaimana seharusnya mereka sebagai orangtua mampu mengambil tindakan yang tegas tanpa menggunakan kekerasan pada anak, dan ilmu parenting dan psikologi anak lainnya.

Katakanlah belajar menjadi orangtua sebelum menjadi orangtua sungguhan adalah baik, tapi terus belajar bahkan ketika seseorang telah menjadi orangtua juga enggak kalah baik. Malahan, bisa saya katakan itu adalah yang paling baik. Dengan terus belajar menjadi orangtua bahkan ketika sudah menjadi, mereka dapat memutus pepatah yang mengatakan bahwa “orangtua selalu benar”. Dan karena mereka memahami bahwa sebagai orangtua mereka bisa salah, setiap kesalahan yang mereka lakukan, entah besar atau kecil, pasti tidak ada kata gengsi untuk mengaku salah dan minta maaf kepada anak-anak mereka.

Mengaku salah dan minta maaf mungkin kelihatan sepele, tapi nyatanya tidak semua orang mampu melakukannya karena merasa selalu benar. Perasaan ini akan terus ada di dalam diri seseorang yang enggan mengaku salah dan minta maaf. Menumpuk di sana, mengendap, membuat jiwa dan fisiknya sakit, lalu menyakiti orang lain entah yang dikenal atau tidak dikenal, hanya karena sebuah perasaan berulang yang belum selesai dalam dirinya. Pada akhirnya, tanpa sadar, ia telah menciptakan lingkaran setan yang semakin membesar dan membesar. Ia menjelma menjadi pusaran yang bisa menyedot orang lain yang tidak bersalah masuk ke dalam lubang kesengsaraan yang ia buat.

Seseorang akan terlahir kembali ketika ia menjadi orangtua. Seorang perempuan dan laki-laki lahir tiga kali. Perempuan lahir sebagai anak, istri, dan ibu. Laki-laki juga lahir sebagai anak, suami, dan seorang ayah. Ketika seseorang paham kalau ia lahir kembali ketika menjadi orangtua, maka ia akan mengosongkan gelasnya. Mengosongkan gelas artinya siap untuk mengisinya dengan ilmu-ilmu parenting yang baru, yang berbeda dengan zaman ketika dirinya masih menjadi seorang anak. Mengisi gelas dengan ilmu-ilmu parenting yang sesuai dengan jiwa zaman seorang anak ketika dilahirkan, artinya ia menghargai karunia Tuhan yang berharga. Bahwa anak ini lahir di zaman yang berbeda jauh denganku, maka bagaimana aku mendidiknya tidak bisa disamakan dengan bagaimana cara orangtuaku mendidikku dulu. Maka aku harus belajar lagi dari nol tentang ilmu menjadi orangtua yang menyesuaikan keadaan zaman dimana anakku akan lahir.

Setelah gelasnya penuh ketika waktunya tiba untuk menjadi orangtua, ia menggunakan air pengetahuan itu untuk mengasuh anaknya sesuai dengan umur mereka bertumbuh. Kemudian ia akan mengosongkan gelasnya lagi untuk bisa mengisi dengan ilmu-ilmu parenting tentang bagaimana cara memahami pikiran dan sikap seorang anak yang berusia tiga belas tahun, empat belas, lima belas, tujuh belas, atau bahkan dua puluh tahun. Setiap sekian tahun pertumbuhan anak adalah tangga perubahan. Dan setiap perubahan perlu diikuti supaya ilmu parenting yang dipunya terus diupdate dan diupgrade.

Terus belajar bahkan ketika seseorang sampai di suatu posisi atau jabatan, dan mau untuk terus mengupgrade diri, sama sekali tidak ada ruginya.

 

Share:

Kamis, 18 Januari 2024

PER-EMPU-AN


Hari ini adalah kelahiran adikku yang nomor tujuh. Perempuan. Bapak tetap mau menggendong dan mengajaknya bicara, tapi sebenarnya aku tahu jauh di dalam hatinya ia masih menginginkan lahirnya anak laki-laki dari rahim ibuku. Ibuku sudah berumur 40 tahun, tapi bapak seolah enggan mengerti dan tekadnya yang bulat itu sekaras baja. Ia tidak akan berhenti membuahi Ibu sebelum ia mendapatkan anak lelaki. Zaman sudah modern dan kudengar kau bisa memprogramkan jenis kelamin anakmu kelak. Jika kau ingin anakmu lelaki, maka kau dan istrimu harus banyak makan daging, sementara jika kau ingin anak perempuan, kau dan istrimu harus lebih banyak makan sayur. Menurut kepercayaan orang dulu juga mengatakan demikian. Jika saat ibunya hamil sangat suka makan daging, dipastikan kalau kelak anak yang lahir adalah lelaki, begitupun ketika si ibu hamil lebih suka makan sayur, maka yang keluar adalah bayi perempuan. Meskipun tidak seratus persen akurat bisa membuat anakmu lahir dengan jenis kelamin yang kau inginkan, menurutku tidak ada salahnya dicoba. Ibu masih dalam keadaan terbaring lelah di brankar rumah sakit dengan posisi menyusui adikku yang ketujuh ketika bapak kembali mengutarakan keinginannya terang-terangan. Aku ingin kita terus berusaha sampai mendapatkan anak lelaki. Ibu tidak menjawab—tidak menolak ataupun setuju. Ibu tahu ia tidak punya pilihan. Apa yang bapak inginkan adalah perintah dan ibu harus memenuhinya. Hanya karena ibu selalu melahirkan secara normal dan lancar dari anak pertama hingga yang ketujuh, bapak mengira kalau ia telah dimudahkan untuk memiliki banyak anak.

        Ibu pernah menyarankan untuk mengikuti KB, tapi bapak bersikeras untuk tidak ikut dalam program pemerintah yang sok mengendalikan populasi penduduk dengan mencegah bayi-bayi baru lahir. Bapak bilang kalau pemerintah telah menentang rezeki yang telah Tuhan berikan kepada hamba-Nya. Bapak akan sangat cerewet tentang ini, sehingga aku dan ibu sudah kebal mendengar ocehannya yang selalu sama. Aku sudah mencoba mengatakannya dengan cara baik-baik, tapi bapak tetap tidak mau mendengarkan. Ia tetap ingin punya anak lelaki dari hasil darah dagingnya sendiri. Ambisi bapak sampai membuat adik keduaku bertanya padaku pada suatu malam sebelum kami tidur. Apakah bapak tidak suka punya kami sebagai anak-anaknya hanya karena kami perempuan? Aku tidak mampu menjawabnya, begitu juga ibu kalau seandainya ia tahu tentang ini. Bertanya pada bapak, kami hanya akan dapat jawaban-jawaban klise yang tidak memuaskan. Bapak sayang pada kalian semua, mau anak bapak perempuan atau lelaki. Bapak sangat ingin punya anak lelaki supaya kalau bapak meninggal nanti, ada yang menjaga kalian. Adikku yang nomor tiga kemudian menyahut, memangnya kami perempuan tidak bisa menjaga diri sendiri, Pak? Zaman sekarang perempuan sudah boleh belajar ilmu bela diri, jadi bapak tidak usah khawatirkan tentang hal itu. Dan bapak akan menjawab lagi bahwa kodrat perempuan adalah dilindungi oleh kaum lelaki dan bukan melindungi, sebab perempuan adalah kaum yang lemah secara tenaga dan fisik dibandingkan lelaki. Perempuan-perempuan di luar sana yang menjadi petinju, binaragawan, ataupun atlet-atlet bela diri hanya berusaha melawan kodrat mereka sebagai perempuan yang sudaha seharusnya berperangai lemah lembut, tidak punya otot, apalagi belajar bela diri yang kebanyakan diajarkan oleh kaum lelaki.

        Kami ingin mendebat lagi jawaban bapak, tapi bapak tidak menerima sanggahan apapun atas pendapatnya, jadi kami memutuskan diam dan hanya mendiskusikannya saat bapak tidak di rumah. Aku, adik kedua, dan adik ketigaku sering berdiskusi mengenai isu-isu perempuan. Dalam hal ini, untungnya bapak masih sudi memberikan kami pendidikan walaupun kami selalu menemui kesulitan karena ada banyak anak bapak yang harus sekolah, tapi dengan buku-buku bacaan yang tidak banyak, kami hanya mengandalkan informasi yang didapat dari internet tentang isu-isu perempuan di zaman modern ini. Kami mempelajari bagaimana sejarah perempuan dan pergerakannya, dan diam-diam melakukan diskusi dan analisis bersama atas isu-isu yang ada—menjadikan kami cukup kritis dan melek soal isu-isu kaum kami walaupun kami tidak membicarakannya di forum-forum resmi sebab setelah pulang sekolah, kegiatan kami disibukkan dengan mengurus seluruh pekerjaan rumah, merawat ibu, dan juga adik-adik kami yang masih kecil-kecil.

            Aku sudah sering sekali mendengarkan para tetangga mengatakan betapa gampangnya ibuku hamil lalu melahirkan banyak anak dengan lancar—bahkan tidak sedikit yang memuji ibu dengan menyebutnya seperti kucing betina yang bisa melahirkan banyak anak dengan lancar dan baik-baik saja. Mereka mengatakan pujian itu sambil tersenyum dan tertawa-tawa ringan. Ibu yang pada dasarnya tidak banyak bicara dan melawan, hanya tersenyum maklum pada lelucon mereka, entah sebenarnya ibu menerima atau menolak kata-kata mereka, aku tidak tahu. Ibu tidak pernah marah pada anak-anaknya kalau sedang tantrum—membuat para tetangga berdecak kagum. Katanya, ibu adalah manusia paling sabar di dunia karena kalau mereka punya anak sebanyak ibu pasti sudah gila dan tensi darah mereka akan sering naik. Bahkan kemungkinan besar mereka akan mati di tempat karena pembuluh darah pecah atau struk karena harus mengurus banyak anak ditambah dengan suaminya sendiri—yang diutarakan mereka lagi-lagi dengan nada bercanda.

            Kuakui, ibu memang penyabar, tapi aku tidak lantas setuju dengan perkataan ibu-ibu yang lain kalau mereka harus memakai kekerasan fisik atau verbal untuk mendisiplinkan anak-anaknya. Kalau adik-adikku tantrum di depan ibu dan mereka tidak mau diurus kami, ibu hanya akan menatap mereka, melamun, dan diam sampai mereka lelah dan tertidur. Kadang, ibu memilih ikut menangis bersama dengan mereka karena tidak kuat lagi menahan beban di depan anak-anaknya. Adik-adik kami akan tambah menangis saat melihat ibu menangis karena lelah mengurus mereka yang kadang susah patuh, tapi tangis mereka reda juga pada akhirnya. Kurasa selain sabar, ibu juga telah lama mati rasa. Mungkin ia merasakannya saat punya anak ketiga, atau bahkan keempat, kelima, atau keenamnya. Mati rasa membuat ibu hanya bisa diam dan menatap lelah tingkah adik-adik kami. Kurasa ibu juga membatin dan meratap. Kapan kiranya ini semua akan berhenti. Bukannya ia menolak rezeki Tuhan, tapi hamil tua dan melahirkan sangat membuatnya kelelahan baik secara fisik maupun mental. Dan suaminya selalu menganggap kalau ibu baik-baik saja hanya karena ibu tidak pernah menunjukkan kelelahannya dan terima-terima saja.

            Pernah sekali waktu aku menyampaikan pendapat yang sama untuk kesekiana kalinya pada ibu, kenapa kita tidak membawa kasus ini ke kantor polisi atau lembaga perlindungan anak dan perempuan. Kujelaskan pada ibu bahwa ini adalah bentuk penindasan dan penjajahan modern bagi perempuan. Aku bisa memviralkan kisah ibu supaya banyak orang yang membantu dan kasus ini menang, sebab zaman sekarang, sebuah kasus harus viral dulu baru dilirik dan diperhatikan. Kubilang pada ibu bahwa ini adalah saat yang tepat untuk berhenti. Bahkan aku menyarankan ibu untuk bercerai saja dengan bapak.

            Lama aku menunggu untuk mendengar jawaban Ibu yang tidak bisa aku baca apa yang sedang ia pikirkan melalui sorot matanya. Kupikir Ibu tidak akan menjawabnya, jadi aku melanjutkan pekerjaanku melipat pakaian bayi yang menumpuk—yang sudah diturunkan secara turun-temurun selama masih bisa dikenakan. Pada akhirnya, Ibu buka suara juga. Tidak semudah itu, Nak. Sekarang kau sudah cukup umur untuk mengerti apa yang akan aku katakan. Setiap kali aku menolak berhubungan dengannya, ia akan mengomel panjang lebar dan tidak pulang satu sampai dua hari. Aku merasa seperti perempuan paling berdoa di dunia hanya karena menolak punya anak darinya lagi. Aku mencoba menceritakan tentang apa yang aku alami pada salah satu teman yang punya banyak anak sepertiku, tapi ia bahagia-bahagia saja punya banyak anak di usianya yang seumuran denganku, bahkan sekarang ia sedang hamil tua untuk anaknya yang kesembilan. Ia mengaku tidak lelah, tapi mengapa aku lelah. Aku mulai mempertanyakan perasaan yang aku rasakan. Temanku berkata bahwa sebaiknya aku turuti saja apa yang suamiku mau daripada ia mencari wanita lain di luar sana, berselingkuh dariku, lalu meninggalkan aku dan anak-anakku tanpa warisan apapun sebab aku pun hanya lulusan SMP saat menikah dengan bapakmu. Dengan banyak anak dan hanya lulusan SMP, setelah bercerai darinya, apa kau pikir aku masih bisa memberi makan dan baju yang layak untuk kalian? Ini seperti lingkaran setan, tapi aku tidak tahu caranya berhenti, sehingga aku membiarkannya saja. Lagipula, Nak, saat kau menjadi ibu dan istri kelak, perasaanmu akan mati rasa perlahan, dan itu adalah hal yang wajar.

            Aku menggeleng, menolak pendapat Ibu, tapi aku tidak bisa mendebat jawabannya karena aku tidak ingin membuatnya semakin lelah. Dua puluh lima tahun hidupku, satu-satunya lelaki yang aku kenal hanyalah kakek dan bapak. Kakek punya banyak anak, sepuluh jumlahnya. Kurasa bapak mengikuti jejak langkah kakek untuk tidak ikut program KB dan terus berusaha sampai ia mendapat anak lelaki. Ini salah. Perempuan bukanlah pabrik bayi. Tubuh perempuan seharusnya menjadi miliknya sekalipun ia telah bersuami. Jika memang nasibku akan berakhir seperti Ibu dan nenek, aku tidak ingin menikah. Sayangnya, sebulan setelah kelahiran adikku yang ketujuh, bapak mengejutkanku dengan membawa seorang lelaki yang empat tahun lebih tua dibanding aku, kami disuruh berkenalan, tanpa basa-basi bapak langsung mengatakan bahwa kami telah dijodohkan sejak lama tanpa sepengetahuan aku dan lelaki itu, tiga bulan lagi adalah pernikahan kami, dan kami tidak boleh menolak. Kabar ini kudengar di Hari Perempuan Nasional, dimana televisi di ruangan itu menyiarkan berita terkini mengenai beberapa perempuan yang melakukan demo di depan kantor pemerintahan untuk mendesak pemerintah mengesahkan undang-undang kekerasan seksual dan mengurangi kekerasan pada perempuan dan anak. Aku menoleh pada layar televisi dan membaca salah satu kertas karton yang diusung tinggi-tinggi penuh semangat oleh para kaumku yang bertuliskan “PEREMPUAN BUKAN PABRIK BAYI!! RAHIM DAN TUBUHKU ADALAH OTORITASKU!!”

Share:

Rabu, 17 Januari 2024

NEPAL DARURAT PERDAGANGAN PEREMPUAN

Nepal adalah salah satu negara di Asia Selatan yang cukup dekat dengan India. Selain terkenal dengan tradisi uniknya yaitu tradisi Dewi Kumari (tradisi untuk memilih seorang gadis yang belum haid untuk dijadikan Dewi Kumari guna melayani umat Hindu yang datang ke kuil setelah memenuhi syarat-syarat fisik seorang dewi), namun di balik itu, setiap negara pasti memiliki sisi kelamnya masing-masing, tidak terkecuali dengan Nepal—negara yang dijuluki negara seribu kuil. Perdagangan perempuan adalah salah satu masalah serius yang terjadi di negara tersebut. Cara pelaku untuk merayu korbannya sama; diiming-imingi oleh pekerjaan yang layak atau akan menikah dengan suami yang baik dengan keuangan yang stabil di India, membuat gadis-gadis Nepal tergiur. Parahnya, agen-agen yang menyalurkan perempuan-perempuan ini adalah orang-orang yang dikenal, seperti tetangga ataupun anggota keluarga sendiri tante atau paman.
(Rita Dhungel MacEwan: 2021) Perdagangan manusia di Nepal sudah ada sejak zaman Dinasti Rana pada tahun 1846 – 1950 yang mana gadis-gadis dari Himalaya dan Bukit Tengah dibawa ke Kathmandu, berharap mereka menjadi pelayan kerajaan, namun malah dipersembahkan sebagai hadiah kepada raja India dan diharuskan menghibur raja Rana. Bahkan setelah Dinasti Rana runtuh, tradisi ini masih ada sehingga keturunan anak Rana yang membawa lari para perempuan penghibur istana ke India, mereka kemudian menjadi korban perdagangan manusia dengan dijual di rumah-rumah pelacuran di India untuk bertahan hidup.

(Tej Shrestha, TOPICS : Ending slavery in Nepal - The Himalayan Times) Sumber lain mengatakan bahwa perdagangan manusia di Nepal dilarang selama masa pemerintahan Dinasti Rana pada tahun 1925, yang mana pidato Chandra Shumsher pada tanggal 28 November 1924 juga menginginkan penghapusan perbudakan, namun praktek perbudakan di Nepal masih ada dan dilakukan di kalangan masyarakat dalam tradisi yang bernama Hilaya dan Kamaiya, terlepas dari Konstitusi tahun 1990 yang menyatakan kebebasan dari “perbudakan, perhambaan, atau kerja paksa dalam bentuk apapun”, namun nyatanya masyarakat Nepal harus menunggu hingga 17 Juli 2000 untuk penghapusan perdagangan dan perbudakan manusia di Nepal secara resmi.

(Ms. Sadhna Mishra: 2017) Salah satu penyebab perdagangan perempuan di Nepal adalah konflik bersenjata yang terjadi antara partai komunis Maoist Nepal yang ingin menggulingkan kekuasaan monarki Nepal karena menganggap bahwa sistem monarki Nepal sudah kuno dan harus segera diganti ke bentuk pemerintahan yang lebih modern, yang mana konflik ini berlangsung dari tahun 1996 hingga 2006. Sepanjang konflik berlangsung, masyarakat Nepal mendapatkan teror baik dari polisi setempat maupun kelompok Maoist Nepal sehingga membuat laki-laki melarikan diri dari rumah dan meninggalkan anak serta istri mereka. Anak dan istri yang ditinggalkan oleh suami mau tidak mau harus bermigrasi ke negara tetangga Nepal yang terdekat yaitu India untuk mencari pekerjaan, dan berpotensi mengalami perdagangan manusia berkedok pengiriman tenaga kerja.

Selain itu, akar masalah ini juga diperparah ketika Nepal mengalami gempa bumi dahsyat pada tahun 2015 yang membuat banyak rumah runtuh dan orang kehilangan harta benda serta tulang punggung mereka. Beberapa wanita yang kehilangan suami mereka dalam insiden ini, otomatis tidak punya pilihan selain menjadi tulang punggung dan merantau ke negara yang lebih besar namun masih dekat dengan Nepal, yaitu India. Sejak saat itulah, perempuan-perempuan yang berniat memperbaiki nasib di India malah ditipu oleh agen-agen pencari pekerjaan yang membuat mereka kebanyakan berakhir di rumah-rumah bordil India. Beberapa ada yang berhasil melarikan diri dari India, beberapa lagi tidak karena rumah-rumah bordil dijaga lumayan ketat. Dan ini menjadi semacam lingkaran setan karena ketika perempuan-perempuan muda Nepal lainnya terjebak di dalam rumah bordil yang sama dengan perempuan Nepal yang sudah lebih dulu ada di tempat itu, mereka sulit keluar karena beberapa perempuan Nepal yang bekerja cukup lama di rumah bordil telah menjadi mucikari dan mencari perempuan-perempuan Nepal untuk rumah bordil tempat mereka bekerja. Biasanya perempuan-perempuan Nepal akan diambil dari desa-desa yang masih kekurangan secara ekonomi, kemudian membawanya ke Kathmandu (ibukota Nepal) dan di sana, ia akan dimasukkan ke India. Dokumen-dokumen penting mereka ditahan oleh agen-agen yang mencarikan mereka “pekerjaan” dan dengan itulah mereka malah dikirim ke rumah-rumah bordil. Sehingga saat ada yang berhasil kabur dan ingin melaporkannya kepada polisi India, dengan dokumen yang telah disita, hal itu menjadi tidak mudah. 

 Pada tahun 2019, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia memperkirakan bahwa 1,5 juta orang Nepal rentan terhadap perdagangan manusia. Para pelaku perdagangan orang memanfaatkan perbatasan terbuka Nepal dengan India untuk membawa perempuan dan anak-anak Nepal ke India guna diperdagangkan sebagai pekerja seks. Para migran yang tidak terdaftar dan sebagian besar orang Nepal yang melakukan perjalanan melalui perbatasan terbuka dengan India yang mana mereka menjadi rentan terhadap kerja paksa dan perdagangan orang karena terlalu bergantung pada agen perekrutan yang tidak resmi. Para pelaku perdagangan orang mengeksploitasi laki-laki, perempuan, dan anak-anak Nepal di Nepal, India, Timur Tengah, dan Asia Timur di bidang konstruksi, pabrik, tambang, pekerjaan rumah tangga, mengemis, dan industri hiburan orang dewasa. Jumlah orang Nepal yang bekerja di Timur Tengah diperkirakan oleh pemerintah mencapai 1,5 juta orang yang terdiri dari sebagian besar laki-laki bekerja di bidang konstruksi di Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab. Dalam beberapa kasus lainnya, para majikan menahan paspor mereka dan tidak membayarkan gaji selama beberapa bulan.

Karena pemerintah memberlakukan pembatasan terhadap pekerja rumah tangga perempuan ke negara-negara Teluk, sebagian besar pekerja rumah tangga Nepal yang bekerja di Irak, Kuwait, dan Arab Saudi tidak memiliki izin kerja yang sah dan bermigrasi melalui jalur yang tidak resmi, yang menyebabkan mereka memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap perdagangan manusia. Visa turis, pelajar, pernikahan, dan kerja digunakan oleh para pelaku perdagangan orang untuk membawa orang-orang Nepal ke negara-negara Eropa dan Australia. Pemeriksaan sebelum keberangkatan yang tidak ketat di bandara Kalkota dan Chennai serta kebiasaan menyuap petugas India di Mumbai dan New Delhi juga dilakukan oleh para pelaku supaya dapat menerbangkan para buruh migran Nepal ke negara-negara ketiga tanpa dokumen yang lengkap. Selain itu, para pelaku perdagangan manusia juga membawa orang-orang Nepal melalui Sri Lanka dan Burma. Pada masa pandemic Covid-19, penggunaan sosial media sebagai media untuk menjerat korban adalah hal yang umumnya dilakukan oleh para pelaku.

Pada tahun 2019, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia memperkirakan bahwa 1,5 juta orang Nepal rentan terhadap perdagangan manusia. Para pelaku perdagangan orang memanfaatkan perbatasan terbuka Nepal dengan India untuk membawa perempuan dan anak-anak Nepal ke India guna diperdagangkan sebagai pekerja seks. Para migran yang tidak terdaftar dan sebagian besar orang Nepal yang melakukan perjalanan melalui perbatasan terbuka dengan India yang mana mereka menjadi rentan terhadap kerja paksa dan perdagangan orang karena terlalu bergantung pada agen perekrutan yang tidak resmi. Para pelaku perdagangan orang mengeksploitasi laki-laki, perempuan, dan anak-anak Nepal di Nepal, India, Timur Tengah, dan Asia Timur di bidang konstruksi, pabrik, tambang, pekerjaan rumah tangga, mengemis, dan industri hiburan orang dewasa. Jumlah orang Nepal yang bekerja di Timur Tengah diperkirakan oleh pemerintah mencapai 1,5 juta orang yang terdiri dari sebagian besar laki-laki bekerja di bidang konstruksi di Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab. Dalam beberapa kasus lainnya, para majikan menahan paspor mereka dan tidak membayarkan gaji selama beberapa bulan. Karena pemerintah memberlakukan pembatasan terhadap pekerja rumah tangga perempuan ke negara-negara Teluk, sebagian besar pekerja rumah tangga Nepal yang bekerja di Irak, Kuwait, dan Arab Saudi tidak memiliki izin kerja yang sah dan bermigrasi melalui jalur yang tidak resmi, yang menyebabkan mereka memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap perdagangan manusia. Visa turis, pelajar, pernikahan, dan kerja digunakan oleh para pelaku perdagangan orang untuk membawa orang-orang Nepal ke negara-negara Eropa dan Australia.

Pemeriksaan sebelum keberangkatan yang tidak ketat di bandara Kalkota dan Chennai serta kebiasaan menyuap petugas India di Mumbai dan New Delhi juga dilakukan oleh para pelaku supaya dapat menerbangkan para buruh migran Nepal ke negara-negara ketiga tanpa dokumen yang lengkap. Selain itu, para pelaku perdagangan manusia juga membawa orang-orang Nepal melalui Sri Lanka dan Burma. Pada masa pandemic Covid-19, penggunaan sosial media sebagai media untuk menjerat korban adalah hal yang umumnya dilakukan oleh para pelaku. Menurut data penegakan hukum, usia perempuan dan anak perempuan Nepal yang berisiko tinggi menjadi korban perdagangan manusia ada di kisaran usia 11-25 tahun.

REFERENSI:

Rita Dhungel MacEwan, “Unpacking Human Trafficking from Neoliberalism and Neoconservatism Paradigms in Nepal: A Critical Review”, University Canada, 2021

Tej Shrestha, (TOPICS : Ending slavery in Nepal - The Himalayan Times

Ms. Sadhna Mishra, “Armed Conflict and Human Trafficking in Nepal”, IOSR Journal of Humanities and Social Science, Vol. 22, Banaras Hindu University, India, Juli 2017 2022

Trafficking in Person Report - U.S. Embassy in Nepal (usembassy.gov) 2023

Trafficking in Persons Report: Nepal - U.S. Embassy in Nepal (usembassy.gov)
Share:

Senin, 15 Januari 2024

KIAT-KIAT MENULIS CERITA FIKSI DENGAN TEMA "OLD MONEY"

Belakangan ketika saya mengamati konten-konten di sosial media, tren yang cukup naik sekarang adalah pembahasan mengenai “old money” setelah tren mengenai “crazy rich” sudah mulai meredup. Nah, sebenarnya apa sih “old money” itu? Sederhananya, “old money” adalah istilah yang disematkan kepada orang-orang yang sudah kaya sejak mereka lahir dimana biasanya kekayaan mereka akan diwariskan secara turun-temurun. Topik ini kemudian menarik perhatian dan mulai dilirik sebagai salah satu tema yang bisa ditulis dalam bentuk fiksi. Saya belum pernah menulis cerita fiksi tentang “old money”, sehingga tips ini berdasarkan pengamatan saya saja. Mungkin aka nada penambahan nantinya setelah saya punya pengalaman sendiri dalam menulis cerita fiksi dengan tema ini. Berikut adalah tips menulis cerita fiksi dengan tema “old money”.

1. Riset secara Mendalam Jika kita bukan termasuk orang-orang yang terlahir dari kalangan “old money”, maka riset secara mendalam harus dilakukan untuk bisa membuat pembaca merasakan tema yang disajikan, walaupun beberapa dari kita ada yang terlahir dari kalangan “old money”, tetap saja harus riset supaya punya amunisi atau bahan untuk mulai meracik cerita yang diinginkan. Apa saja yang harus diriset?

a. Silsilah Keluarga 
    
Jelas. Latar belakang, silsilah keluarga, anggota keluarga siapa yang paling menonjol, dari mana sumber kekayaan mereka, keluarga mereka sudah ada sejak tahun berapa, seperti apa karakter masing-masing dari mereka, dsb. Hal ini membutuhkan ketelitian dan ketekunan karena otomatis kita harus membuat silsilah keluarga secara runtut dengan banyaknya tokoh sebab silsilah keluarga biasanya merupakan silsilah keluarga besar baik dari garis keturunan ayah dan ibu.

b. Jiwa Zaman

Istilah jiwa zaman saya dapatkan saat saya menempuh pendidikan di jurusan Ilmu Sejarah. Dosen saya selalu menyinggung tentang seorang sejarawan harus mampu melihat, membayangkan, bahkan merasakan jiwa zaman dari suatu peristiwa bersejarah seolah kita hidup di zaman itu. Dengan meriset tentang jiwa zaman dari sebuah keluarga kaya raya yang hidup sejak tahun 1920-an, misalnya, kita bisa mengetahui bagaimana kondisi sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan di suatu negara pada zaman itu. Dari riset mengenai jiwa zaman keluarga tersebut yang hidup pada tahun 1920-an, kita bisa menulis tentang bisnis apa saja yang ramai peminatnya pada zaman itu, bagaimana mereka mengelolah bisnis tersebut, apa saja kendalanya, bagaimana mereka berinteraksi dengan sesama keluarga yang kaya raya, dan untuk mengetahui detail-detail kecil seperti selera fashion, makanan yang kerap dihidangkan dalam acara perjamuan, table manner pada tahun 1920-an, percakapan apa saja yang biasanya dibahas pada saat menghadiri sebuah perjamuan atau pesta dansa, orang-orang dari profesi apa saja yang dapat menghadiri acara tersebut, sampai bagaimana cara mereka berinteraksi dengan satu sama lainnya saat mengobrolkan topik-topik yang penting dan berat sampai hanya sebatas bergosip belaka. Kita bisa melihat semuanya dari sejarah kebudayaan pada sebuah kelompok keluarga bangsawan di suatu negara yang latar tempatnya sudah kita tetapkan. Sehingga sangat penting untuk menentukan latar tempat, latar suasana, latar waktu, jenis alur (apakah alur maju, mundur, atau campuran), tokoh utama, premis, dan plot untuk memudahkan riset tentang apa saja yang perlu diketahui.

c. Bedakan antara “Orang Kaya Baru” dan “Old Money”

Orang kaya baru biasanya mengenakan banyak asesoris seperti perhiasan entah di leher, pergelangan tangan, telinga, jari, bahkan hingga pergelangan kaki. Untuk urusan fashion, boleh jadi mereka mengenakan baju-baju dengan warna mencolok, sementara orang-orang “old money” cenderung tampil dengan sedikit asesoris, pakaiannya sederhana namun elegan. Ia tidak mengenakan banyak perhiasan karena biasanya ia tidak ingin menunjukkan seberapa kaya keluarganya. Justru mereka lebih suka mengenakan beberapa asesoris kecil sebagai pemanis, namun satu atau sepasang asesoris itu punya harga yang fantastis. Dalam hal ini, meski[un kita harus memahami perbedaan antara dua hal tersebut, tetap saja kita tidak boleh menjelekkan atau terlalu mengagungkan salah satu dari dua kelompok tersebut. Kita hanya melihat perbedaannya tanpa bermaksud menjelekkan atau mendeskeditkan suatu kelompok masyarakat tertentu.

d. Konflik di dalam Keluarga “Old Money”

Hal yang tidak kalah penting untuk diriset secara mendalam adalah konflik internal maupun eksternal yang biasanya dialami oleh keluarga-keluarga “old money”. Apalagi biasanya keluarga “old money” akan mewariskan kekayaannya pada salah satu ahli waris dan pasti ada konflik yang cukup rumit di dalamnya. Walaupun semua anggota keluarganya kaya, tapi konflik tersebut bisa jadi masih bisa ditemui. Riset juga tentang kasus-kasus yang menimpa keluarga “old money” pada umumnya adalah tipe kasus yang bagaimana. Apakah kasus perebutan warisan, kasus perselingkuhan, atau kasus-kasus lainnya yang berpotensi menggambarkan sisi lain dari keluarga “old money”. Karena keluarga mana saja, yang “old money” atau bukan, pasti punya konflik di dalamnya. Misalnya, kita akan mengambil konflik tentang perebutan warisan, maka kita harus mempertanyakan beberapa hal, seperti bagaimana cara keluarga “old money” dalam menghadapi konflik semacam itu? Apa yang akan mereka lakukan? Begitu pula jika kita mengambil konflik tentang perselingkuhan pada salah satu pasangan di sebuah keluarga “old money”. Apa yang menyebabkan perselingkuhan itu terjadi? Bagaimana cara keduanya menghadapi hal tersebut? Apa reaksi keluarga besarnya? Apa keputusan yang diambil? Kenapa dia mengambil keputusan itu? Apa dampak dari keputusan yang dia ambil?

e. Konflik Pribadi Anggota Keluarga “Old Money”

Pepatah terkenal mengatakan bahwa “money can’t buy you happiness”, tapi di satu sisi, Eminem, salah satu rapper kondang, pernah berkata “money can’t buy you happiness, but crazy ass happiness”. Ada yang setuju bahwa uang tidak bisa membeli kebahagiaan, tapi ada juga yang tidak setuju karena untuk mencapai kebahagiaan secara duniawi, orang pasti butuh uang untuk misalnya, membeli sesuatu yang dia inginkan sebagai bentuk self reward. Anggota keluarga “old money” saya yakin punya konflik pribadi, baik yang masih muda, paruh baya, atau yang telah berumur senja. Kita bisa meriset tentang konflik internal apa saja yang mereka rasakan sebagai anak dari keturunan keluarga yang sudah kaya sejak tujuh turunan. Kalau mereka merasakan insecure, biasanya insecure karena apa? Apakah mereka tidak tenang karena setiap pergerakan keluarganya selalu menjadi sorotan media? Apakah mereka ada yang sengaja menyembunyikan asal-usulnya untuk maksud tertentu? Dan dalam hal ini, kita harus menempatkan diri kita sebagai “mereka” walaupun mungkin saja kita bukanlah keturunan keluarga “old money”. Kita harus memahami psikologis orang-orang kaya, bagaimana etos kerja mereka, bagaimana mereka menjaga hubungan baik dengan relasi, bagaimana mereka mengatasi konflik internal maupun eksternal, bagaimana mereka menghadapi media, dan lain sebagainya.

f. Profesi Anggota Keluarga “Old Money”

Biasanya keluarga “old money” punya satu bisnis yang mereka kelola secara turun temurun, dan dalam hal ini, kita juga harus melakukan riset mendalam terkait bisnis yang telah diwarisi turun-temurun, bagaimana track recordnya—sama seperti sebuah kerajaan, pasti di perusahaan yang sudah diwariskan turun-temurun, pasti ada masa keemasan dan masa kegelapan. Siapa yang mendirikan perusahaan itu pertama kali, tahun berapa, bagaimana cara kerjanya, apa saja kendalanya, apa saja konfliknya, pada masa kepemimpinan siapakah perusahaan itu mencapai keuntungan paling besar, karena apa, bagaimana etos kerja pemimpin tersebut sampai membuat perusahaan itu mencapai puncak kejayaannya, apakah inovasi yang dia lakukan, lalu pada masa kepemimpinan siapakah perusahaan tersebut nyaris runtuh, apa penyebabnya, siapa yang mengambil alih, bagaimana cara mengatasinya, dan lain sebagainya. Tentu saja, ini bukanlah hal yang mudah. Maka dari itu, menurut saya pribadi, cerita fiksi dengan tema “old money” adalah salah satu cerita yang paling sulit untuk saya kerjakan karena butuh riset bertahun-tahun untuk memahami bagaimana rasanya hidup sebagai mereka, apalagi ketika saya datang dari keluarga yang biasa-biasa saja.

g. Kisah Romansa di Kalangan Keluarga “Old Money”

Kebanyakan untuk mempertahankan reputasi dan sebagai bentuk penguatan perusahaan yang telah dikelola secara turun-temurun, pernikahan untuk kepentingan memperkuat bisnis sangat mungkin terjadi. Orang-orang “old money” adalah orang yang sangat memperhatikan bibit, bebet, dan bobot dari calon menantu yang akan mendampingi anak-anak mereka, tidak jarang mereka harus terlibat dalam suatu perjodohan. Konflik dalam romansa keluarga “old money” yang paling umum adalah pernikahan dengan wanita atau lelaki yang berasal dari kalangan yang bukan keturunan “old money” dan pernikahan yang terjadi di kalangan keturunan “old money” itu sendiri. Konflik pasti terjadi di sini dan paling banyak disorot. Harus kita riset dan buat plotnya seruntut mungkin tentang tokoh old money kita akan menikah dengan siapa. Jika ia menikahi wanita atau pria dari kalangan yang bukan “old money” apa reaksi keluarga besarnya, apa yang menjadi syarat untuk menjadi menantu mereka, apakah ada penolakan atau justru keluarganya sangat terbuka, atau apakah tokoh old money kita menolak atau menerima perjodohan yang direncanakan orangtuanya, kalau mereka menolak bagaimana upayanya dan apa alasannya, kalau dia menerima apa alasannya, atau apakah tokoh old money kita menikah dengan pasangan pilihannya, bagaimana deskripsi pasangan mereka secara fisik dan non fisik, dimana mereka bertemu, dan bagaimana mereka bisa sukses menjalin hubungan dan memutuskan untuk menikah, gambarkan juga bagaimana kehidupan pernikahan mereka, apakah konfliknya akan berat atau ringan. Kalau konfliknya berat, bagaimana konfliknya? Kalau konfliknya ringan, juga bagaimana konflik itu berjalan dan terselesaikan? Dalam hal ini, lebih berkesan menurut saya jika seseorang dapat menulis dengan tipe slow-burn-romance, atau alur cerita romansa yang terjadi perlahan—dengan kata lain, mereka tidak jatuh cinta dan menjalin hubungan secara tiba-tiba, namun perlahan—memberikan alasan yang meyakinkan kepada satu sama lainnya untuk mau berkomitmen hingga ke jenjang pernikahan. Sehingga fokusnya adalah tentang bagaimana cara mereka berkenalan dengan orang baru, cara memperlakukan orang yang mereka sayang, bagaimana interaksi antar keduanya yang dideskripsikan dengan detail dari sisi psikologis kedua tokohnya. Konflik di tengah hubungan mereka yang masih pada tahap kenalan atau sudah menjadi sepasang kekasih juga perlu dihadirkan supaya cerita romansanya tidak melulu mendeskripsikan tentang rasa manis, tapi macam-macam rasa lainnya. Menurut saya, seorang lelaki atau perempuan harus memiliki alasan mengapa mereka memperlakukan pasangan mereka seperti raja dan ratu atau orang yang paling spesial. Misalnya karena si perempuan adalah sosok yang selalu mendukung dan menemaninya dalam masa-masa sulit, atau tentang pemikirannya mengenai hal-hal krusial yang mengagumkan, atau kebaikan hatinya, kehangatan sikapnya, kelembutan perangainya, alasan-alasan itu bisa menjadi alasan si lelaki memperlakukannya sebagai sosok ratu dalam hidupnya, begitu pula sebaliknya. Saya masih susah memahami bagaimana cara menggambarkan “cinta tanpa alasan” karena menurut saya, setiap cinta yang tercipta pasti memiliki alasan. Setiap perasaan ingin berkomitmen dengan seseorang pasti memiliki beberapa alasan, baik fisik maupun non fisik. Dan dalam hal ini, kalau saya memposisikan diri sendiri sebagai keturunan “old money”, maka dalam menjalin hubungan romansa, saya akan menilik bibit, bebet, dan bobotnya. Sehingga kisah romansa yang tercipta bukan melulu tentang pria kaya yang menghadiahkan mansion mewah, jet pribadi, kapal yach pribadi, atau liburan ke salah satu tempat paling indah di bumi dengan harga fantastis untuk seorang wanita yang dicintainya. Dalam kehidupan nyata memang ada hal semacam itu, namun akan lebih terasa realistis apabila disertai alasan yang logis. Apalagi orang-orang “old money” biasanya sangat hati-hati dalam menggunakan uang mereka karena telah dibekali ilmu keuangan yang bagus.

2. Menonton Film tentang “Old Money”

Untuk bisa menggambarkan atau mengimajinasikan keluarga “old money” itu seperti apa, maka salah satu hal yang bisa dilakukan untuk merefresh otak sekaligus riset dengan cara yang menyenangkan adalah menonton film dengan tema serupa. Di google banyak yang merekomendasikan film-film dengan tema tersebut. Catat hal-hal penting tentang bagaimana gambaran hidup mereka dalam film itu, lalu lakukan metode ATM (amati, tiru, modifikasi) jika memang ingin membuat cerita fiksi old money yang terinspirasi dari salah satu film tersebut. Ingat ya, harus dimodifikasi, jangan berhenti di tahap amati dan tiru saja. Menonton film dengan tema yang akan kita tulis menurut saya bisa membangkitkan motivasi untuk menyelesaikan tulisan kita. Alangkah lebih baik jika setelah menonton filmnya, kita membuat resensi film untuk mengetahui keseluruhan isi film yang dideskripsikan dengan bahasa sendiri, juga mengetahui kekurangan dan kelebihan film atau bahkan dari sisi tokoh-tokohnya. Dari sana, kita bisa melihat celah mana yang bisa kita ambil untuk dijadikan tema utama atau premis untuk membuat cerita old money versi kita sendiri.

3. Membuat Playlist dan Moodboard yang Vibesnya tentang Old Money

Kalau kalian suka menulis di platform menulis dan membaca novel seperti Wattpad, Dreame, dsb, mungkin kalian sudah tidak asing dengan moodboard dan playlist yang biasanya digunakan sebagai pendukung cerita fiksi yang sedang dibuat. Saya pribadi juga suka membuat moodboard dan playlist untuk menulis suatu tema tertentu. Apabila cerita yang saya tulis temanya adalah kerajaan, biasanya saya mencari instrument tradisional atau intrumen-instrumen lawas yang bisa membangun mood dan imajinasi saya semakin tajam dalam menuliskannya, kalau saya sedang menulis cerita yang akan memiliki sad ending, maka saya juga akan membuat playlist berisi lagu-lagu sedih dengan lirik menyayat hati yang sesuai dengan tema yang akan saya tulis (misalnya sumber kesedihan dari cerita itu adalah struggle yang dihadapi remaja zaman sekarang, generasi sandwich, dst, maka saya akan mencari lirik lagu yang menggambarkan sub tema ini supaya lebih relate dan terasa vibesnya ketika saya menulis), sama halnya dengan ketika kalian ingin menulis cerita fiksi dengan tema “old money”. Di youtube dan spotify sudah banyak sekali orang-orang yang membuatkan playlist dengan tema tersebut, kalian bisa memilih dan mendengarkannya, atau kalau kurang puas, kalian bisa mencari rekomendasi lagu dan membuat playlist kalian sendiri—supaya tingkat sensitivitas, kepekaan, dan imajinasi kita saat menulis tema tersebut bisa benar-benar menyala.
Share: