Sabtu, 25 Mei 2024
REVIEW DRAKOR "DUTY AFTER SCHOOL"
Sabtu, 11 Mei 2024
REVIEW DRAKOR VOICE SEASON 3
Sabtu, 30 Maret 2024
YOU ARE THE APPLE OF MY EYE: KISAH CINTA SEDERHANA YANG RUMIT
You Are The Apple of My Eye adalah salah satu film Taiwan yang terkenal dan sempat diadaptasi dalam versi Jepang dengan judul yang sama, tapi bagi saya, yang paling “kena” kemistri tokohnya adalah versi originalnya, dengan tokoh perempuan bernama Shen Chia Yi dan tokoh laki-laki bernama Ko Ching Teng (Ko Teng).
Film ini fresh dan jujur walaupun memang agak
vulgar menceritakan bagaimana kehidupan anak-anak SMA khususnya imajinasi
laki-laki tentang perempuan. Premisnya ringan aja. Menceritakan soal Ko Teng,
si murid lelaki yang bisa ditemui di tiap-tiap sekolah di Indonesia. Dia selalu
bercanda, sukanya baca komik dan nonton film dewasa, nggak tertarik belajar dan
dapat nilai bagus. Kontras sama tokoh utama perempuannya, Shen Chia Yi, yang
nggak lain adalah bintang kelas, jadi idola banyak cowok, cantik, kalem, suka
belajar dan hidupnya udah ditata sedemikianrupa oleh dirinya sendiri. Mereka
berdua yang kontras ini ketemu gara-gara salah satu guru menyuruh Shen Chia Yi
mengajari Ko Teng sampai nilainya naik. Awalnya Ko Teng susah banget nurut,
tapi lama-lama mereka akrab dan sering belajar bareng bahkan bikin taruhan,
siapapun yang nilainya tinggi, harus mengubah penampilan. Lama-lama, Ko Teng
naksir Shen Chia Yi. Sebenarnya Shen Chia Yi juga naksir, tapi Ko Teng terlalu
kekanakan buat dia, dan menurut Ko Teng, Shen Chia Yi susah dimengerti padahal
dia pikir mengerti perempuan itu semudah mengerti ibunya yang akrab sama Ko
Teng dan bapaknya.
Ko Teng dengan pemikiran polosnya soal cinta,
nggak pernah kepikiran untuk mengubah dirinya menjadi lelaki yang lebih baik
buat mendapatkan Shen Chia Yi. Karena dia pikir, perempuan yang suka sama dia
pasti bisa nerima apa adanya. Dan karena dari dulu Ko Teng pengin bisa
menguasai bela diri, jadilah dia menantang diri sendiri untuk tanding lawan
teman-teman asramanya, dan dia mengundang Shen Chia Yi buat nonton sebab Ko
Teng pengin membuktikan bahwa dia punya kelebihan yang bisa dibanggakan. Apakah
Chia Yi senang sama pembuktian yang dilakukan sama Ko Teng? Ternyata enggak.
Karena Chia Yi menurutku adalah cewek yang cinta damai. Segenting apapun
keadaannya, jangan sampai ada keributan di depan mata. Apa lagi ini si Ko Teng
main nantangin cowok-cowok di asrama buat tanding one by one sama dia, padahal Chia
Yi sama sekali nggak minta Ko Teng untuk membuktikan diri dengan cara yang
seperti itu.
Chia Yi marah ke Ko Teng dan bilang kalau cowok
itu kekanakan dan nggak bisa berubah. Menurutku, Chia Yi maunya Ko Teng tuh berubah
jadi cowok kalem yang pintar dan menata masa depannya dengan rapi, kuliah di
jurusan bergengsi dan punya penghasilan yang layak buat membangun keluarga
kelak, tapi pemikiran Ko Teng masih tentang bagaimana dia menyenangkan diri
sendiri karena menurutku Ko Teng belum siap pacaran soalnya dia masih proses
mencari jati diri. Dia gegabah macarin Chia Yi karena dia pikir cinta itu
sesederhana yang ada di pikirannya, padahal dalam prakteknya rumit. Ko Teng
nggak suka dikatain kekanak-kanakan sama Chia Yi, dia malah ngatain balik dan
bilang kalau Chia Yi nggak pernah mau mengerti dia. Chia Yi nggak berusaha
untuk mengerti kenapa Ko Teng melakukan semua ini. Intinya, prinsip mereka soal
hidup aja udah beda, nggak sejalan, jadi kalau diterusin juga nggak akan lama
hubungannya.
Karena kecewa, Chia Yi dan Ko Teng nggak
kontakan selama beberapa bulan. Selama beberapa bulan itu, Ko Teng sudah anggap
dia dan Chia Yi putus, walaupun nggak ada yang ngomong putus duluan. Selama
mereka nggak kontakan, Chia Yi ternyata sempat pacaran sama temannya Ko Teng,
nggak tau beneran naksir atau cuma kasihan. Dan selama jauh dari Chia Yi, Ko
Teng nggak nyadar juga apa kesalahannya. Buat dia, harusnya mencintai Chia Yi
bisa sesederhana yang ada di pikirannya soal cinta, harusnya Chia Yi nggak
perlu jadi susah dimengerti begini.
Ada salah satu scene sebelum mereka bertengkar,
dimana Ko Teng dan Chia Yi jalan-jalan berdua. Mereka kelihatan senang, tapi di
penghujung hari yang dihabiskan bersama, Chia Yi nanya ke Ko Teng tentang
alasan dia suka sama Chia Yi. Ko Teng nggak bisa jawab karena dia pikir, cinta
ya cinta, nggak butuh alasan. Kalau cinta masih pakai alasan, namanya bukan
cinta. Tapi Shen Chia Yi nggak puas sama jawabannya Ko Teng. Menurut dia, Ko
Teng tuh nggak mikir panjang buat suka sama dia, padahal menurut Chia Yi, Ko
Teng harus mikir matang-matang sebelum dia memutuskan buat suka dan pacaran
sama Chia Yi. Chia Yi bahkan bilang ke Ko Teng kalau dia nggak seperti yang
dibayangkan Ko Teng dan teman-temannya. Dia memang rajin belajar, tapi dia
nggak suka bersih-bersih. Kos-kosannya bahkan lebih berantakan dibanding teman
sekamarnya. Dia juga sering ceroboh. Intinya, Chia Yi mau kasih paham ke Ko
Teng kalau dia bukan Chia Yi yang dianggap “Dewi”. Dia manusia biasa yang punya
kekurangan. Chia Yi takutnya, Ko Teng suka sama dia bukan karena dia yang
sebenarnya, tapi karena Shen Chia Yi dalam imajinasi Ko Teng sendiri. Tapi
untuk pemikiran yang serumit ini, jelas Ko Teng nggak langsung paham. Dia
pikir, ya elah, kenapa perasaan suka jadi ribet begini sih?
Scene lainnya yang bikin Chia Yi jadi kurang
yakin kalau Ko Teng memahami perasaannya adalah ketika mereka mau lepasin
lampion bareng-bareng. Di sana, Ko Teng bilang kalau dia suka sama Chia Yi. Chia
Yi udah baper, dia nanya ke Ko Teng, apa
kau mau dengar jawabanku? Tapi Ko Teng malah geleng-geleng kepala karena
dia takut ditolak sama Chia Yi. Chia Yi agak kecewa karena sikap ragu-ragunya
Ko Teng bikin dia mikir, berarti nih cowok nggak peka sama perasaan gue,
padahal gue suka juga sama dia.
Shen Chia Yi pikir dia bisa mengubah Ko Teng
dari cowok tengil jadi cowok berwibawa, tapi ternyata nggak bisa dan dia kecewa
sama Ko Teng dan ekspektasinya. Ko Teng juga nggak bisa memahami Chia Yi karena
buat dia, cewek bisa jadi dewasa lebih cepat dibanding cowok. Dan ketika mereka
udah dewasa, mereka nggak akan milih cowok kekanakan walaupun mereka sama-sama
suka. Chia Yi penginnya hubungan mereka langgeng sampai ke pernikahan, tapi Ko
Teng nggak mikir sampai sejauh itu. Dan itulah yang bikin mereka nggak bisa
sama-sama buat waktu yang lama sebagai teman seumur hidup.
Minggu, 11 Februari 2024
THERE IS A PARADOX INSIDE MYSELF
Judulnya doang Inggris, tapi seterusnya akan ditulis pakai Bahasa Indonesia.
Beberapa tahun lalu, sekitar satu sampai dua
tahun lalu, aku tertarik dengan tes personality untuk tahu, dari 16 personaliti
yang ada, aku masuk yang mana. Aku hampir lupa urutan hasil tesnya, tapi
kesemuanya menunjukkan bahwa kepribadianku adalah introvert. Tes pertama
hasilnya adalah INFP, lalu berubah ke ISTJ, berubah lagi ke INFJ, dan terakhir
kembali lagi ke INFP. Ternyata memang tes kepribadian itu bisa berubah-ubah
tergantung situasi dan kondisi diri sendiri pada saat melakukan tes, tapi aku
keukeuh ingin mencari tahu aku ini punya kepribadian apa, dan setelah baca-baca
di quora, ada yang bilang bahwa untuk mengetahui kepribadianmu yang mana karena
pasti bingung sebab suka berubah-ubah hasil tesnya, pilih satu kepribadian yang
ciri-cirinya relate sama kamu.
Well, aku memang belum mengenal diriku sebaik
dan sedalam itu, tapi aku tahu beberapa hal yang aku rasakan. Dan aku mulai
meyakini bahwa aku adalah seorang INFP karena ciri-cirinya menggambarkan “aku
banget”. Aku nggak akan menyebutkan semua ciri-ciri orang INFP di sini karena
kalian bisa baca sendiri di google banyak banget.
Salah satu ciri yang mau aku highlight di sini
adalah tentang seorang INFP yang disebut-sebut sebagai paradoks berjalan alias
the walking paradox. Ini terjadi karena kepala mereka terlalu berisik dengan
pemikiran-pemikiran yang saling bersilangan. Mereka bisa jadi orang yang
percaya dengan cinta, tapi di satu waktu yang sama juga tidak sepenuhnya
percaya dengan cinta. Mereka bisa menjadi seseorang yang idealis, tapi di satu
sisi juga realistis. Dia bisa jadi orang yang rajin banget, tapi juga malas banget.
Dia bisa jadi orang yang setuju dengan suatu pemikiran, tapi di saat yang
bersamaan membantah beberapa poinnya. Mereka seperti ada di tengah-tengah dan
cenderung netral untuk beberapa kasus.
Dan menjadi seseorang yang seperti itu sangat
melelahkan.
Seringkali prinsip hidup yang aku punya harus
goyah karena melihat prinsip hidup tokoh lain. Aku meyakini filosofi tokoh A,
tapi aku juga menganggap filosofi tokoh B juga ada benarnya. Rasanya susah
sekali untuk memegang satu prinsip yang saklek bagiku. Sebab aku terbuka dengan
banyak prinsip hidup yang disajikan baik dari segi filsafat atau psikologi atau
yang lainnya. Tapi kupikir itu adalah hal yang wajar. Aku masih 22 tahun dan
belum tahu banyak soal hidup. Mungkin aku bisa menemukan prinsip hidupku sendiri
ketika aku sudah cukup tua.
Jumat, 26 Januari 2024
KEMUNCULAN AI: SEBUAH PARADOKS ANTARA KEMUDAHAN DAN HILANGNYA KEASLIAN SUATU KARYA
Saya kagum dengan animasi-animasi karya Hayao
Miyazaki yang menampilkan suasana zaman yang belum modern. Hayao Miyazaki
pernah mengatakan bahwa ia adalah manusia
yang lebih cocok hidup di era yang belum modern. Ia nggak akan pernah relate
dengan hal-hal modern saat ini.
Sejenak, saya seperti menemukan teman
sepemikiran. Karena saya sendiri nggak suka perubahan teknologi yang terlalu
cepat ini. Kemajuan teknologi tidak dibarengi oleh kesiapan manusia. Beberapa
ASN yang sudah berumur senja harus menguasai teknologi modern dalam hitungan
minggu atau bahkan bulan. Kemajuan teknologi membuat beberapa manusia yang
tidak bisa menggunakannya terkesan seperti manusia yang tertinggal.
Walaupun di satu sisi beberapa hal menjadi
mudah, seperti ketika belanja dan pesan makanan nggak perlu datang ke
tempatnya, bisa transfer jarak jauh tanpa harus ke bank, sampai bisa pesan ojek
lewat hape, tapi kemajuan teknologi jadi cukup merugikan ketika ia sudah
memasuki dunia seni apalagi semenjak kemunculan AI atau Artificial Intelligent.
Sekarang, orang yang nggak bisa menggambar pun bisa menggambar dengan bantuan
AI, yang sibuk nggak ada waktu untuk mengerjakan esai, bisa dibantu dengan AI.
Pekerjaan memang menjadi lebih cepat, tapi apakah semuanya yang cepat selalulah
baik? Padahal dalam penciptaan sebuah karya seni, khususnya gambar, bukanlah
sesuatu yang dapat dikerjakan dalam waktu singkat. Bisa berbulan-bulan bahkan
bertahun-tahun. Dan semenjak kemunculan AI, orang-orang bisa menggambar hanya
dengan mengetikkan prompt, tekan enter, dan BOOM! Mereka sudah mendapatkan
gambar digital yang diinginkan sesuai dengan prompt. Bahkan ketika saya mencoba
salah satu jasa menggambar dengan AI gratis, AI juga memberikan beberapa
referensi mengenai gambar-gambar lain yang relevan dengan prompt, yang tentunya
tidak sebagus referensi gambar kalau menggunakan AI berbayar.
Banyak protes yang dilayangkan oleh para
seniman khususnya yang bergerak di seni menggambar dan sejenisnya. Kemunculan AI
membuat para seniman konvensional yang masih menggunakan kuas, kanvas, pensil,
sketchbook, dan media non elektronik untuk menggambar tergerus eksistensinya. Menggunakan
AI dinilai lebih praktis dibanding menyewa jasa illustrator konvensional. Belum
lagi AI juga mencuri data-data dari gambar-gambar seniman yang diunggah ke
internet tanpa seizin senimannya dan tentu saja hal ini tidak membuat para
seniman menerima kompensasi atas data-data karya mereka yang dicuri untuk
pengembangan AI.
Dalam salah satu video youtube yang
mewawancarai Hayao Miyazaki dan melihat bagaimana beliau bekerja di balik layar
untuk menghasilkan animasi-animasi Ghibli yang epik, saya cukup terkejut saat
melihat bahwa beliau masih menggunakan kertas-kertas untuk menggambar
karakternya menggunakan pensil lalu mewarnainya dengan pensil warna dan cat
air. Saya pikir, sekelas Hayao Miyazaki pasti sudah menggambar menggunakan
peralatan menggambar modern, tapi saya kagum dengan beliau yang selalu berusaha
menjaga keaslian dari karyanya dengan tetap menggambarnya dengan cara yang
tidak modern. Hal ini juga seperti gayung bersambut karena Hayao Miyazaki
didukung oleh industry kreatif Jepang yang menghargai proses pembuatan karya
dengan cara konvensional, baru nanti mereka yang akan mentransfer atau
mengadaptasikannya dalam bentuk animasi digital, dengan tetap memperbolehkan Hayao Miyazaki mengawasi proses pengerjaannya dari awal hingga akhir. Dari kertas ke animasi
digital. Padahal Jepang adalah salah satu negara dengan perkembangan teknologi
yang sangat pesat. Bahkan sekadar alat memesan es krim di toko-toko sudah menggunakan robot
pintar, tapi untuk urusan seni, saya menghargai Jepang yang masih mau menerima
karya-karya seniman yang digambar di atas kertas.
Maka dari itu, saya katakan bahwa saya cukup
relate dengan apa yang disampaikan oleh Hayao Miyazaki yang kalimatnya saya
tulis di awal tulisan ini. Enggak semua perubahan yang serba memudahkan urusan
manusia ini lantas membuat saya ikut merasa senang. Menurut hemat saya, ada
beberapa hal yang tetap harus dijaga keasliannya dan dibiarkan konvensional.
Seharusnya teknologi bisa hidup berdampingan dengan karya-karya konvensional,
bukan malah menindas dan menggerus eksistensi seniman-seniman yang tidak
menggunakan alat-alat modern untuk menciptakan karya seni.
Penikmat karya konvensional memang akan selalu
ada. Sama halnya beberapa orang masih menyukai buku fisik dibanding buku
digital, begitupun beberapa orang pasti lebih suka menikmati karya seni dalam
bentuk lukisan di atas kanvas dibanding gambar-gambar AI yang modern, tapi
kemunculan AI masih menjadi momok yang membuat tidur para seniman tidak
nyenyak. Dan sudah seharusnya nasib para seniman di negeri ini lebih
diperhatikan dan dihargai.
PROSES KREATIF ADALAH “MENJINAKKAN” YANG “LIAR” DI DALAM DIRI
Proses kreatif yang saya maksud di sini adalah proses menciptakan sebuah karya. Saya meyakini kalau karya saya tercipta dari sisi liar dalam diri sendiri. Sisi liar didapat dari perasaan duka, kecewa, dan melihat kasus-kasus tidak manusiawi yang berserakan entah di sekeliling saya atau di media sosial. Sisi liar itu seperti campuran antara ramuan bernama realita dan imaji. Realitanya ada sebuah kasus yang sederhana, tapi setelah bertemu dengan imaji yang liar, mereka dicampurkan dan jadilah sebuah premis cerita yang kompleks, rumit, dan boleh jadi penuh dengan hal-hal yang tidak menyenangkan. Atau sebaliknya. Ketika mendapati ada sebuah kasus yang rumit, lalu realita itu bertemu dengan imaji, biasanya akan saya uraikan dari yang tadinya berbentuk gumpalan benang yang telah digulung menjadi helai-helai benang yang dirajut menjadi baju. Entah baju itu cocok dipakai di momen yang sedih atau menggembirakan (alias masuk ke cerita yang sad ending atau happy ending). Imaji saya kadang lebih liar ketika saya biarkan ia berkembangbiak dengan cara membelah diri. Imaji liar itu akan menghasilkan dua naskah yang punya dua ending—sad ending atau happy ending.
Dan kemudian, ketika menulis menjadi sebuah
profesi, maka sesuatu yang liar itu harus dijinakkan menurut hemat saya.
Mengutip dari apa yang dikatakan oleh Dee Lestari dalam bincang-bincangnya
bersama Maudy Ayunda di kanal youtubenya, Dee Lestari mengatakan bahwa proses menciptakan karya baginya harus ada
dalam struktur yang pakem, bukan liar. Apalagi untuk seseorang yang menjadikan
menulis sebagai profesi. Yang saya tangkap di sini, maksudnya adalah,
sebagai seorang penulis, tentu saja kita butuh alur dan plot juga beberapa
detail lainnya. Tidak bisa kita hanya menulis dengan bermodalkan keliaran imaji
tanpa disusun alurnya dari awal hingga akhir, hingga menjadi satu kesatuan
novel yang utuh. Sederhananya, penulis memang harus punya alur, plot, dan
segala unsur yang harus ada dalam novel di buku catatannya.
Jika Dee Lestari harus menggunakan struktur
yang jelas saat menulis supaya imajinya tidak melenceng keluar garis yang telah
ditentukan, Stephen King pernah mengatakan bahwa ia bahkan tidak pernah
mencatat ide ceritanya di dalam buku catatan. Ia hanya mengingat ide ceritanya
dan semua mengalir begitu saja sampai menjadi sebuah buku.
Di sini, saya tidak bermaksud membandingkan dua
teknik menulis yang dilakukan oleh dua penulis di atas. Dua-duanya punya
kelebihan dan kekurangan masing-masing, dan dua-duanya tidak ada yang
sepenuhnya salah atau benar. Sebab menurut saya, dalam proses menciptakan
sebuah karya, ada kalanya kita harus “melanggar” beberapa pakem yang ada.
Istilah lain menyebut bahwa penulis yang
merancang alur dan plot ceritanya dari awal sampai akhir dinamakan architect writer.
Dan yang tidak merancang alur dan plot disebut gardener writer. Arsitek
diibaratkan adalah seseorang yang penuh perencanaan, sementara tukang kebun
tidak punya rencana yang rinci dalam melakukan pekerjaannya—ia hanya melakukan
apa yang ada di depan mata.
Sejak 2016 hingga sekarang masih aktif menulis
di platform menulis dan membaca novel online, saya meyakini kalau saya adalah
tipe gardener writer alias enggak pernah merancang alurnya dari awal hingga
akhir. Saya hanya menulis berdasarkan apa yang saya ingat. Namun ketika tingkat
sensitivitas diri meningkat, kepala saya menjadi berisik menerima ide-ide yang
berlalu lalang. Kepala saya jadi berisik. Positifnya, tidak pernah kehabisan
ide. Negatifnya, saya kualahan untuk menuliskannya dalam bentuk tulisan. Bahkan
seringnya hanya saya abaikan dan tidak saya tulis sekalipun dalam bentuk cerpen.
Kalaupun saya tulis, paling mentok hanya sebatas premis. Di sini, saya masih
mengalami kesulitan untuk menggunakan teknik architect writer, yang menyusun
keseluruhan isi novelnya dengan rinci. Karena ketika saya membuat plot dan
semua unsur yang harus masuk dalam novel saya, naskah itu jadi tidak pernah
saya selesaikan karena saya merasa sudah “menyelesaikannya” ketika menulis plot
kasar dari awal sampai akhir. Kalau harus menuangkannya dalam bentuk narasi
deskriptif, maka saya merasa harus bekerja dua kali. Padahal untuk menjadi
novelis, kedisiplinan dalam berkarya harus dilatih dan dijadikan habit. Saya
selalu ingin jadi novelis, tapi belum mampu mengatasi writers block yang
ditimbulkan bukan karena kehabisan ide, tapi karena saya kesusahan untuk
mengeksekusi sebuah ide karena plotnya belum saya rancang dengan jelas, tapi
kalau plotnya saya rancang, yang ada nggak saya tulis sampai selesai. Ini
adalah sebuah paradoks yang berusaha saya taklukkan supaya saya nggak dibikin
takluk sama paradoks itu sendiri.
Saya masih “liar” dalam hal menciptakan karya.
Dan belum menemukan cara untuk “menjinakkannya” untuk dimasukkan ke dalam
struktur yang rapih.
But, still. I will do my best. Saya rasa, yang perlu saya lakukan hanya banyak-banyak menulis dan membaca sampai saya menemukan teknik kepenulisan saya sendiri.
Kamis, 25 Januari 2024
CERITA DARI MAHASISWI KUPU-KUPU ALIAS KULIAH-PULANG, KULIAH-PULANG
Cerita dari Mahasiswi Kupu-Kupu
Beberapa bulan sebelum aku masuk kuliah sebagai mahasiswa baru, aku sangat berambisi untuk mengikuti banyak kegiatan dan organisasi di perkuliahan supaya aku bisa mendapatkan banyak teman sekaligus pengalaman, dan kalau melihat kenyataannya sekarang, aku hampir-hampir enggak percaya kalau aku pernah punya semangat yang menggebu-gebu seperti itu dulu, tapi setelah masuk perkuliahan, ada banyak hal yang membuatku harus beradaptasi, apalagi waktu aku harus kuliah online, sehingga aku harus memahami sistem kerjanya. Kakak tingkatku pernah bilang bahwa di masa kita masih maba, memahami karakter dosen saat mengajar di kelas adalah sesuatu paling penting yang harus pelajari supaya kedepannya kita paham aturan main dari masing-masing dosen saat memberikan tugas, jadi aku memutuskan untuk beradaptasi dan membaca karakter dosenku selama beberapa bulan dan aku baru bisa membiasakan diri ketika aku sudah ada di semester tiga karena ibarat kata, aku udah nggak kagok lagi sama jurusanku.
Kilas balik, aku nggak pernah melakukan konsultasi kepada guru BK atau orang tuaku tentang jurusan apa yang harus aku ambil karena kalau aku bertanya pada orang tuaku dan mereka menyuruhku untuk masuk ke salah satu jurusan yang mereka inginkan, aku takut tidak bisa memenuhi permintaan mereka, ataupun kalau aku bisa memenuhinya, aku menjadi tidak bisa menikmati perkuliahanku karena mata kuliah yang aku pelajari jauh dari apa yang aku pahami. Aku pernah ingin masuk jurusan hukum, tapi membayangkan kalau harus menghafalkan banyak pasal yang membuatku pusing, aku undur diri. Mau masuk akuntansi supaya bisa cari kerja dengan cepat setelah lulus nanti, aku sama sekali nggak pernah bersahabat baik dengan pelajaran yang banyak angkanya. Aku nggak paham tentang hutang dan neraca, jadi daripada aku bisa masuk tapi nggak bisa keluar, aku memutuskan untuk mencoret jurusan akuntansi dari daftar jurusan yang akan aku pilih. Ingin masuk ilmu sosiologi, aku akhirnya sadar kalau sosiologi adalah mata pelajaran yang cukup sulit aku pahami saat SMA karena terlalu banyak istilah rumit yang memang susah dipahami, jadi aku coret juga sosiologi dari daftar jurusan yang akan aku pilih. Ingin pilih sastra Indonesia, takutnya nanti nggak dapat kerja yang baik karena jurusan itu cukup banyak diragukan oleh lingkungan tempat tinggalku tentang prospek kerjanya, yang belakangan malah membuatku menyesal kenapa aku nggak masuk sasindo mengikuti kata hatiku karena ternyata semakin kesini, aku semakin menyukai sastra dan dunia kepenulisan. Dan karena nggak mau jadi guru, jelas aku nggak memilih FKIP, dan disinilah aku sekarang, di jurusan Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya. Yang aku pelajari adalah sejarah murni, sejarah yang dari akarnya, bukan sejarah yang ditambahi unsur pendidikan seperti jurusan FKIP sejarah.
Karena sibuk bertahan hidup di jurusan ini, ketika teman-temanku mendaftar organisasi, UKM, dan HMJ, aku hanya diam saja dan benar-benar nggak punya minat lagi untuk masuk ke organisasi atau UKM atau HMJ di jurusanku. Kukira, semester selanjutnya aku akan punya semangat itu lagi, tapi di sinilah aku, sampai aku semester tujuh pun, aku nggak pernah ikut satu organisasi, UKM, apalagi HMJ. Anggapan ‘mahasiswi apatis’ mulai menggerayangi benakku. Memang nggak ada yang mengatakan secara langsung kalau aku adalah mahasiswi apatis, tapi aku merasa sendiri bahwa aku punya label itu, sehingga untuk membuktikan bahwa aku bukanlah mahasiswi apatis, aku punya keinginan untuk ikut demo. Waktu itu, ada dua demo besar yang terjadi, yaitu tentang OMNIBUS LAW dan UU Cipta Kerja. Banyak teman jurusanku ikut turun ke jalan, dan waktu aku mau ikutan, aku nggak sengaja baca salah satu story whatsapp temanku yang bilang bahwa “ngapain ikut demo kalau nggak paham sama isu yang mau didemokan, mending ikut demo pas udah paham masalahnya apa, supaya pas turun ke jalan tau apa yang mau diorasikan”—di sana aku merasa tertampar—kayak, oh, iya juga ya, bener. Akhirnya aku mengurungkan niat untuk ikut demo, karena waktu itu aku juga nggak diperbolehkan sama orang tuaku untuk turun ke jalan. Akhirnya supaya aku merasa “menjadi bagian” dari perjuangan teman-teman, aku me-retweet banyak tweet tentang demo-demo besar itu di twitter. Cerita yang dibagikan macam-macam, sampai akhirnya aku melihat sisi demo yang lain, yang membuatku mempertanyakan apakah wajar suasana demo yang sekarang malah seperti panggung untuk sekadar bikin konten di sosial media? Bahkan ada yang bikin video joget bareng-bareng, dan drama lainnya yang bikin suasana demo seperti bukan sedang demo. Banner dan kertas-kertas yang diusung untuk memprotes kebijakan pemerintah juga banyak yang kata-katanya nggak relevan dengan apa yang akan mereka demokan. Semuanya jadi melenceng jauh dari ekspektasiku tentang suasana demo. Bahkan setelah demo selesai, ada yang mengupload foto mereka ke sosial media dengan caption-caption pembangkit semangat, dan aku bertanya, perlukah mengupload foto selfie saat demo ke sosial media untuk membakar semangat pelajar yang lain? Berapa banyak yang orasi dan berapa banyak yang ikut demo hanya untuk kebutuhan konten di sosial media? Dua hal itu jadi bias di mataku.
Permasalahanku nggak sampai sana aja, aku juga merasa ingin diakui bahwa aku ini bukan mahasiswi apatis dengan memperbaiki selera humorku. Selera humorku receh, biasanya, tapi aku mulai ada keinginan untuk punya selera humor yang cerdas, alias yang mau ketawa aja aku harus mikir dan membaca. Akhirnya aku mengikuti banyak akun meme sejarah di instagram dan beberapa kali mengupload meme-meme itu ke story whatsappku setelah aku paham tentang meme itu sehingga kalau ada orang yang reply untuk menanyakan tentang apa maksud meme itu, aku bisa menjawabnya dan aku dianggap pintar. Tapi ternyata, dari sekian ratus kontak teman yang aku simpan, bisa dihitung jari, bahkan Cuma satu-dua orang yang menanyakan maksud meme yang aku posting, sisanya hanya melihat, lalu sudah. Kemudian aku menjadi agak kesal tentang kenapa mereka, teman-temanku yang masih muda ini nggak peduli sama sejarah bangsanya sendiri, bla, bla, bla. Aku merasa kecewa dan malu karena ekspektasiku adalah mereka akan peduli dengan meme yang aku posting, padahal enggak sama sekali. Mereka punya kehidupan sendiri yang jauh lebih penting dibanding mikirin sejarah bangsa atau bahkan demo-demo besar di luaran sana.
Di sana aku sadar, ternyata ketika kita nggak jadi diri sendiri, rasanya sangat berat dan melelahkan. Semakin aku berusaha membuat orang-orang terkesan, semakin mereka enggak terkesan. Butuh waktu beberapa bulan untuk aku mulai bisa menghilangkan kebiasaan “haus pengakuan orang lain” ini. Salah satu cara yang aku lakukan adalah menghapus aplikasi sosial media yang aku punya, bahkan beberapa akun sosmed juga aku hapus, dan aku juga mengaktifkan fitur mute pada semua story whatsapp teman-temanku dan berhenti untuk upload story whatsapp terlalu banyak, sampai akhirnya aku nggak pernah upload apa-apa di sosial media, dan kalaupun upload, rentang waktunya pasti sekian bulan atau sekian tahun, sampai beberapa teman ada yang bertanya apakah nomor atau sosmedku masih aktif atau nggak.
Bahkan, aku juga menghapus aplikasi quora—dimana quora adalah sosial media yang bisa digunakan untuk tanya jawab semua hal—aku awalnya aktif sekali di quora sekadar untuk membaca dan menjawab beberapa pertanyaan ringan yang masuk, tapi lama-lama, terlalu banyak informasi yang aku konsumsi di quora membuatku kecanduan dan melupakan beberapa hal di dunia nyata yang harus aku selesaikan. Aku bahkan merasa jadi orang paling bodoh di antara sekian banyak pengguna quora yang punya jawaban-jawaban fantastis untuk pertanyaan yang berat. Too much information will kill you, dan kadang itu memang benar. Akhirnya, aku menyudahi keaktifanku di quora. Aku mencoba hidup tanpa media sosial, and guess what? Ternyata rasanya jauh lebih baik.
Aku sudah mulai jarang membandingkan diri sendiri dengan kehidupan orang lain di sosmed, aku lebih fokus dengan diri sendiri, dan melakukan banyak hal di dunia nyata daripada di sosmed.
Sampai sekarangpun, aku masih orang yang apatis dan nggak tau banyak soal isu-isu dunia bahkan di negaraku sendiri, karena aku sibuk menata kehidupan dan diri sendiri yang masih kacau, dan menurutku itu nggak apa-apa ketika aku nggak tau tentang banyak hal, karena manusia pada dasarnya nggak tau banyak hal, tapi bukan berarti rasa simpati harus berkurang karena tidak memedulikan atau tahu banyak hal. Menurutku kita punya kendali untuk menyeleksi hal-hal apa yang harus dipedulikan dan tidak. Karena aku mulai paham ketika ada banyak masalah pribadi yang datang dalam hidupku, ketika masalah itu berlalu-lalang, aku tahu kalau aku harus menyelesaikan masalahku dulu, urusan masalah di luar diriku, masalah negara dan lain sebagainya, biarlah menjadi tugas orang-orang yang ada di bidangnya, aku hanya ingin menjadi manusia biasa-biasa saja yang membantu semampunya dan tetap berkarya.
Senin, 22 Januari 2024
Berhenti Belajar Setelah Menjadi Orangtua adalah Kesalahan
Baru-baru ini saya berpikir tentang apa yang saya cantumkan sebagai judul tulisan kali ini, tapi pemikiran semacam itu tidak langsung saya setujui karena saya merasa pemikiran itu terlalu “liar” dan “tidak sopan” untuk dikemukakan bahkan sekadar dimiliki, tapi lambat laun, serangkaian peristiwa terjadi dalam hidup saya dan saya melihat beberapa kasus serupa yang saya alami juga dialami oleh orang lain—entah sudah atau sedang dialami.
Menurut saya belajar
adalah proses seumur hidup, yang biarpun sudah tua, belajar hal-hal kecil—entah
tetap melakukan hal yang sama atau mencoba hal baru, melakukan hal yang sama
terus menerus juga merupakan proses pembelajaran, adalah sesuatu yang dilakukan
sepanjang hidup secara sadar atau tidak. Contohnya saja, belajar bertahan
hidup. Mau hidup yang dituju sederhana atau mewah, pasti di dalamnya, seorang
manusia pasti belajar. Mereka belajar karena mendapatkan pelajaran yang harus
dipelajari agar paham aturan main dan tidak melakukan kesalahan yang sama
berulang kali. Dan ketika mereka paham aturan mainnya, mereka bisa survive.
Salah satu
hal yang paling penting adalah belajar menjadi orangtua baik belajar sebelum
menjadi dan saat menjadi orangtua. Kekerasan dalam rumah tangga yang mana anak
bisa jadi salah satu korbannya, dan tindak kekerasan pada anak bisa diatasi
apabila tiap-tiap individu ada kemauan untuk belajar mempersiapkan diri sebelum
mereka menjadi orangtua. Bahkan sebelum mereka menimang anak kandung mereka,
mereka harus memvisualisasikan tingkah seorang anak itu seperti apa, fase apa
saja yang akan dia lalui di masa tumbuh kembangnya, perubahan apa saja yang
akan dirasakan dan dialami baik secara fisik maupun mental oleh sang anak,
bagaimana seharusnya mereka sebagai orangtua mampu mengambil tindakan yang
tegas tanpa menggunakan kekerasan pada anak, dan ilmu parenting dan psikologi
anak lainnya.
Katakanlah
belajar menjadi orangtua sebelum menjadi orangtua sungguhan adalah baik, tapi
terus belajar bahkan ketika seseorang telah menjadi orangtua juga enggak kalah
baik. Malahan, bisa saya katakan itu adalah yang paling baik. Dengan terus
belajar menjadi orangtua bahkan ketika sudah menjadi, mereka dapat memutus
pepatah yang mengatakan bahwa “orangtua selalu benar”. Dan karena mereka
memahami bahwa sebagai orangtua mereka bisa salah, setiap kesalahan yang mereka
lakukan, entah besar atau kecil, pasti tidak ada kata gengsi untuk mengaku
salah dan minta maaf kepada anak-anak mereka.
Mengaku salah
dan minta maaf mungkin kelihatan sepele, tapi nyatanya tidak semua orang mampu
melakukannya karena merasa selalu benar. Perasaan ini akan terus ada di dalam
diri seseorang yang enggan mengaku salah dan minta maaf. Menumpuk di sana,
mengendap, membuat jiwa dan fisiknya sakit, lalu menyakiti orang lain entah
yang dikenal atau tidak dikenal, hanya karena sebuah perasaan berulang yang
belum selesai dalam dirinya. Pada akhirnya, tanpa sadar, ia telah menciptakan
lingkaran setan yang semakin membesar dan membesar. Ia menjelma menjadi pusaran
yang bisa menyedot orang lain yang tidak bersalah masuk ke dalam lubang
kesengsaraan yang ia buat.
Seseorang
akan terlahir kembali ketika ia menjadi orangtua. Seorang perempuan dan
laki-laki lahir tiga kali. Perempuan lahir sebagai anak, istri, dan ibu.
Laki-laki juga lahir sebagai anak, suami, dan seorang ayah. Ketika seseorang
paham kalau ia lahir kembali ketika menjadi orangtua, maka ia akan mengosongkan
gelasnya. Mengosongkan gelas artinya siap untuk mengisinya dengan ilmu-ilmu
parenting yang baru, yang berbeda dengan zaman ketika dirinya masih menjadi
seorang anak. Mengisi gelas dengan ilmu-ilmu parenting yang sesuai dengan jiwa
zaman seorang anak ketika dilahirkan, artinya ia menghargai karunia Tuhan yang
berharga. Bahwa anak ini lahir di zaman yang berbeda jauh denganku, maka
bagaimana aku mendidiknya tidak bisa disamakan dengan bagaimana cara orangtuaku
mendidikku dulu. Maka aku harus belajar lagi dari nol tentang ilmu menjadi
orangtua yang menyesuaikan keadaan zaman dimana anakku akan lahir.
Setelah
gelasnya penuh ketika waktunya tiba untuk menjadi orangtua, ia menggunakan air
pengetahuan itu untuk mengasuh anaknya sesuai dengan umur mereka bertumbuh.
Kemudian ia akan mengosongkan gelasnya lagi untuk bisa mengisi dengan ilmu-ilmu
parenting tentang bagaimana cara memahami pikiran dan sikap seorang anak yang
berusia tiga belas tahun, empat belas, lima belas, tujuh belas, atau bahkan dua
puluh tahun. Setiap sekian tahun pertumbuhan anak adalah tangga perubahan. Dan
setiap perubahan perlu diikuti supaya ilmu parenting yang dipunya terus
diupdate dan diupgrade.
Terus belajar
bahkan ketika seseorang sampai di suatu posisi atau jabatan, dan mau untuk terus
mengupgrade diri, sama sekali tidak ada ruginya.
Kamis, 18 Januari 2024
PER-EMPU-AN
Hari ini adalah kelahiran adikku yang nomor tujuh. Perempuan. Bapak tetap mau menggendong dan mengajaknya bicara, tapi sebenarnya aku tahu jauh di dalam hatinya ia masih menginginkan lahirnya anak laki-laki dari rahim ibuku. Ibuku sudah berumur 40 tahun, tapi bapak seolah enggan mengerti dan tekadnya yang bulat itu sekaras baja. Ia tidak akan berhenti membuahi Ibu sebelum ia mendapatkan anak lelaki. Zaman sudah modern dan kudengar kau bisa memprogramkan jenis kelamin anakmu kelak. Jika kau ingin anakmu lelaki, maka kau dan istrimu harus banyak makan daging, sementara jika kau ingin anak perempuan, kau dan istrimu harus lebih banyak makan sayur. Menurut kepercayaan orang dulu juga mengatakan demikian. Jika saat ibunya hamil sangat suka makan daging, dipastikan kalau kelak anak yang lahir adalah lelaki, begitupun ketika si ibu hamil lebih suka makan sayur, maka yang keluar adalah bayi perempuan. Meskipun tidak seratus persen akurat bisa membuat anakmu lahir dengan jenis kelamin yang kau inginkan, menurutku tidak ada salahnya dicoba. Ibu masih dalam keadaan terbaring lelah di brankar rumah sakit dengan posisi menyusui adikku yang ketujuh ketika bapak kembali mengutarakan keinginannya terang-terangan. Aku ingin kita terus berusaha sampai mendapatkan anak lelaki. Ibu tidak menjawab—tidak menolak ataupun setuju. Ibu tahu ia tidak punya pilihan. Apa yang bapak inginkan adalah perintah dan ibu harus memenuhinya. Hanya karena ibu selalu melahirkan secara normal dan lancar dari anak pertama hingga yang ketujuh, bapak mengira kalau ia telah dimudahkan untuk memiliki banyak anak.
Ibu pernah menyarankan untuk mengikuti KB,
tapi bapak bersikeras untuk tidak ikut dalam program pemerintah yang sok
mengendalikan populasi penduduk dengan mencegah bayi-bayi baru lahir. Bapak
bilang kalau pemerintah telah menentang rezeki yang telah Tuhan berikan kepada
hamba-Nya. Bapak akan sangat cerewet tentang ini, sehingga aku dan ibu sudah
kebal mendengar ocehannya yang selalu sama. Aku sudah mencoba mengatakannya
dengan cara baik-baik, tapi bapak tetap tidak mau mendengarkan. Ia tetap ingin
punya anak lelaki dari hasil darah dagingnya sendiri. Ambisi bapak sampai
membuat adik keduaku bertanya padaku pada suatu malam sebelum kami tidur. Apakah bapak tidak suka punya kami sebagai
anak-anaknya hanya karena kami perempuan? Aku tidak mampu menjawabnya,
begitu juga ibu kalau seandainya ia tahu tentang ini. Bertanya pada bapak, kami
hanya akan dapat jawaban-jawaban klise yang tidak memuaskan. Bapak sayang pada kalian semua, mau anak
bapak perempuan atau lelaki. Bapak sangat ingin punya anak lelaki supaya kalau
bapak meninggal nanti, ada yang menjaga kalian. Adikku yang nomor tiga kemudian
menyahut, memangnya kami perempuan tidak bisa menjaga diri sendiri, Pak? Zaman
sekarang perempuan sudah boleh belajar ilmu bela diri, jadi bapak tidak usah
khawatirkan tentang hal itu. Dan bapak akan menjawab lagi bahwa kodrat
perempuan adalah dilindungi oleh kaum lelaki dan bukan melindungi, sebab
perempuan adalah kaum yang lemah secara tenaga dan fisik dibandingkan lelaki.
Perempuan-perempuan di luar sana yang menjadi petinju, binaragawan, ataupun
atlet-atlet bela diri hanya berusaha melawan kodrat mereka sebagai perempuan
yang sudaha seharusnya berperangai lemah lembut, tidak punya otot, apalagi
belajar bela diri yang kebanyakan diajarkan oleh kaum lelaki.
Kami ingin
mendebat lagi jawaban bapak, tapi bapak tidak menerima sanggahan apapun atas
pendapatnya, jadi kami memutuskan diam dan hanya mendiskusikannya saat bapak
tidak di rumah. Aku, adik kedua, dan adik ketigaku sering berdiskusi mengenai
isu-isu perempuan. Dalam hal ini, untungnya bapak masih sudi memberikan kami
pendidikan walaupun kami selalu menemui kesulitan karena ada banyak anak bapak
yang harus sekolah, tapi dengan buku-buku bacaan yang tidak banyak, kami hanya
mengandalkan informasi yang didapat dari internet tentang isu-isu perempuan di
zaman modern ini. Kami mempelajari bagaimana sejarah perempuan dan
pergerakannya, dan diam-diam melakukan diskusi dan analisis bersama atas
isu-isu yang ada—menjadikan kami cukup kritis dan melek soal isu-isu kaum kami
walaupun kami tidak membicarakannya di forum-forum resmi sebab setelah pulang
sekolah, kegiatan kami disibukkan dengan mengurus seluruh pekerjaan rumah,
merawat ibu, dan juga adik-adik kami yang masih kecil-kecil.
Aku sudah
sering sekali mendengarkan para tetangga mengatakan betapa gampangnya ibuku
hamil lalu melahirkan banyak anak dengan lancar—bahkan tidak sedikit yang
memuji ibu dengan menyebutnya seperti kucing betina yang bisa melahirkan banyak
anak dengan lancar dan baik-baik saja. Mereka mengatakan pujian itu sambil
tersenyum dan tertawa-tawa ringan. Ibu yang pada dasarnya tidak banyak bicara
dan melawan, hanya tersenyum maklum pada lelucon mereka, entah sebenarnya ibu
menerima atau menolak kata-kata mereka, aku tidak tahu. Ibu tidak pernah marah
pada anak-anaknya kalau sedang tantrum—membuat para tetangga berdecak kagum.
Katanya, ibu adalah manusia paling sabar di dunia karena kalau mereka punya
anak sebanyak ibu pasti sudah gila dan tensi darah mereka akan sering naik.
Bahkan kemungkinan besar mereka akan mati di tempat karena pembuluh darah pecah
atau struk karena harus mengurus banyak anak ditambah dengan suaminya
sendiri—yang diutarakan mereka lagi-lagi dengan nada bercanda.
Kuakui, ibu memang
penyabar, tapi aku tidak lantas setuju dengan perkataan ibu-ibu yang lain kalau
mereka harus memakai kekerasan fisik atau verbal untuk mendisiplinkan
anak-anaknya. Kalau adik-adikku tantrum di depan ibu dan mereka tidak mau
diurus kami, ibu hanya akan menatap mereka, melamun, dan diam sampai mereka
lelah dan tertidur. Kadang, ibu memilih ikut menangis bersama dengan mereka
karena tidak kuat lagi menahan beban di depan anak-anaknya. Adik-adik kami akan
tambah menangis saat melihat ibu menangis karena lelah mengurus mereka yang
kadang susah patuh, tapi tangis mereka reda juga pada akhirnya. Kurasa selain
sabar, ibu juga telah lama mati rasa. Mungkin ia merasakannya saat punya anak
ketiga, atau bahkan keempat, kelima, atau keenamnya. Mati rasa membuat ibu
hanya bisa diam dan menatap lelah tingkah adik-adik kami. Kurasa ibu juga
membatin dan meratap. Kapan kiranya ini semua akan berhenti. Bukannya ia
menolak rezeki Tuhan, tapi hamil tua dan melahirkan sangat membuatnya kelelahan
baik secara fisik maupun mental. Dan suaminya selalu menganggap kalau ibu
baik-baik saja hanya karena ibu tidak pernah menunjukkan kelelahannya dan
terima-terima saja.
Pernah sekali
waktu aku menyampaikan pendapat yang sama untuk kesekiana kalinya pada ibu,
kenapa kita tidak membawa kasus ini ke kantor polisi atau lembaga perlindungan
anak dan perempuan. Kujelaskan pada ibu bahwa ini adalah bentuk penindasan dan
penjajahan modern bagi perempuan. Aku bisa memviralkan kisah ibu supaya banyak
orang yang membantu dan kasus ini menang, sebab zaman sekarang, sebuah kasus
harus viral dulu baru dilirik dan diperhatikan. Kubilang pada ibu bahwa ini
adalah saat yang tepat untuk berhenti. Bahkan aku menyarankan ibu untuk
bercerai saja dengan bapak.
Lama aku
menunggu untuk mendengar jawaban Ibu yang tidak bisa aku baca apa yang sedang
ia pikirkan melalui sorot matanya. Kupikir Ibu tidak akan menjawabnya, jadi aku
melanjutkan pekerjaanku melipat pakaian bayi yang menumpuk—yang sudah
diturunkan secara turun-temurun selama masih bisa dikenakan. Pada akhirnya, Ibu
buka suara juga. Tidak semudah itu, Nak.
Sekarang kau sudah cukup umur untuk mengerti apa yang akan aku katakan. Setiap
kali aku menolak berhubungan dengannya, ia akan mengomel panjang lebar dan
tidak pulang satu sampai dua hari. Aku merasa seperti perempuan paling berdoa
di dunia hanya karena menolak punya anak darinya lagi. Aku mencoba menceritakan
tentang apa yang aku alami pada salah satu teman yang punya banyak anak
sepertiku, tapi ia bahagia-bahagia saja punya banyak anak di usianya yang
seumuran denganku, bahkan sekarang ia sedang hamil tua untuk anaknya yang
kesembilan. Ia mengaku tidak lelah, tapi mengapa aku lelah. Aku mulai
mempertanyakan perasaan yang aku rasakan. Temanku berkata bahwa sebaiknya aku
turuti saja apa yang suamiku mau daripada ia mencari wanita lain di luar sana,
berselingkuh dariku, lalu meninggalkan aku dan anak-anakku tanpa warisan apapun
sebab aku pun hanya lulusan SMP saat menikah dengan bapakmu. Dengan banyak anak
dan hanya lulusan SMP, setelah bercerai darinya, apa kau pikir aku masih bisa
memberi makan dan baju yang layak untuk kalian? Ini seperti lingkaran setan,
tapi aku tidak tahu caranya berhenti, sehingga aku membiarkannya saja.
Lagipula, Nak, saat kau menjadi ibu dan istri kelak, perasaanmu akan mati rasa
perlahan, dan itu adalah hal yang wajar.
Aku
menggeleng, menolak pendapat Ibu, tapi aku tidak bisa mendebat jawabannya
karena aku tidak ingin membuatnya semakin lelah. Dua puluh lima tahun hidupku,
satu-satunya lelaki yang aku kenal hanyalah kakek dan bapak. Kakek punya banyak
anak, sepuluh jumlahnya. Kurasa bapak mengikuti jejak langkah kakek untuk tidak
ikut program KB dan terus berusaha sampai ia mendapat anak lelaki. Ini salah.
Perempuan bukanlah pabrik bayi. Tubuh perempuan seharusnya menjadi miliknya sekalipun
ia telah bersuami. Jika memang nasibku akan berakhir seperti Ibu dan nenek, aku
tidak ingin menikah. Sayangnya, sebulan setelah kelahiran adikku yang ketujuh,
bapak mengejutkanku dengan membawa seorang lelaki yang empat tahun lebih tua
dibanding aku, kami disuruh berkenalan, tanpa basa-basi bapak langsung
mengatakan bahwa kami telah dijodohkan sejak lama tanpa sepengetahuan aku dan
lelaki itu, tiga bulan lagi adalah pernikahan kami, dan kami tidak boleh
menolak. Kabar ini kudengar di Hari Perempuan Nasional, dimana televisi di
ruangan itu menyiarkan berita terkini mengenai beberapa perempuan yang
melakukan demo di depan kantor pemerintahan untuk mendesak pemerintah
mengesahkan undang-undang kekerasan seksual dan mengurangi kekerasan pada
perempuan dan anak. Aku menoleh pada layar televisi dan membaca salah satu
kertas karton yang diusung tinggi-tinggi penuh semangat oleh para kaumku yang
bertuliskan “PEREMPUAN BUKAN PABRIK BAYI!! RAHIM DAN TUBUHKU ADALAH OTORITASKU!!”

