Belakangan ketika saya mengamati konten-konten di sosial media, tren yang cukup naik sekarang adalah pembahasan mengenai “old money” setelah tren mengenai “crazy rich” sudah mulai meredup. Nah, sebenarnya apa sih “old money” itu?
Sederhananya, “old money” adalah istilah yang disematkan kepada orang-orang yang sudah kaya sejak mereka lahir dimana biasanya kekayaan mereka akan diwariskan secara turun-temurun. Topik ini kemudian menarik perhatian dan mulai dilirik sebagai salah satu tema yang bisa ditulis dalam bentuk fiksi. Saya belum pernah menulis cerita fiksi tentang “old money”, sehingga tips ini berdasarkan pengamatan saya saja. Mungkin aka nada penambahan nantinya setelah saya punya pengalaman sendiri dalam menulis cerita fiksi dengan tema ini.
Berikut adalah tips menulis cerita fiksi dengan tema “old money”.
1. Riset secara Mendalam
Jika kita bukan termasuk orang-orang yang terlahir dari kalangan “old money”, maka riset secara mendalam harus dilakukan untuk bisa membuat pembaca merasakan tema yang disajikan, walaupun beberapa dari kita ada yang terlahir dari kalangan “old money”, tetap saja harus riset supaya punya amunisi atau bahan untuk mulai meracik cerita yang diinginkan. Apa saja yang harus diriset?
a. Silsilah Keluarga
Jelas. Latar belakang, silsilah keluarga, anggota keluarga siapa yang paling menonjol, dari mana sumber kekayaan mereka, keluarga mereka sudah ada sejak tahun berapa, seperti apa karakter masing-masing dari mereka, dsb. Hal ini membutuhkan ketelitian dan ketekunan karena otomatis kita harus membuat silsilah keluarga secara runtut dengan banyaknya tokoh sebab silsilah keluarga biasanya merupakan silsilah keluarga besar baik dari garis keturunan ayah dan ibu.
b. Jiwa Zaman
Istilah jiwa zaman saya dapatkan saat saya menempuh pendidikan di jurusan Ilmu Sejarah. Dosen saya selalu menyinggung tentang seorang sejarawan harus mampu melihat, membayangkan, bahkan merasakan jiwa zaman dari suatu peristiwa bersejarah seolah kita hidup di zaman itu. Dengan meriset tentang jiwa zaman dari sebuah keluarga kaya raya yang hidup sejak tahun 1920-an, misalnya, kita bisa mengetahui bagaimana kondisi sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan di suatu negara pada zaman itu. Dari riset mengenai jiwa zaman keluarga tersebut yang hidup pada tahun 1920-an, kita bisa menulis tentang bisnis apa saja yang ramai peminatnya pada zaman itu, bagaimana mereka mengelolah bisnis tersebut, apa saja kendalanya, bagaimana mereka berinteraksi dengan sesama keluarga yang kaya raya, dan untuk mengetahui detail-detail kecil seperti selera fashion, makanan yang kerap dihidangkan dalam acara perjamuan, table manner pada tahun 1920-an, percakapan apa saja yang biasanya dibahas pada saat menghadiri sebuah perjamuan atau pesta dansa, orang-orang dari profesi apa saja yang dapat menghadiri acara tersebut, sampai bagaimana cara mereka berinteraksi dengan satu sama lainnya saat mengobrolkan topik-topik yang penting dan berat sampai hanya sebatas bergosip belaka. Kita bisa melihat semuanya dari sejarah kebudayaan pada sebuah kelompok keluarga bangsawan di suatu negara yang latar tempatnya sudah kita tetapkan.
Sehingga sangat penting untuk menentukan latar tempat, latar suasana, latar waktu, jenis alur (apakah alur maju, mundur, atau campuran), tokoh utama, premis, dan plot untuk memudahkan riset tentang apa saja yang perlu diketahui.
c. Bedakan antara “Orang Kaya Baru” dan “Old Money”
Orang kaya baru biasanya mengenakan banyak asesoris seperti perhiasan entah di leher, pergelangan tangan, telinga, jari, bahkan hingga pergelangan kaki. Untuk urusan fashion, boleh jadi mereka mengenakan baju-baju dengan warna mencolok, sementara orang-orang “old money” cenderung tampil dengan sedikit asesoris, pakaiannya sederhana namun elegan. Ia tidak mengenakan banyak perhiasan karena biasanya ia tidak ingin menunjukkan seberapa kaya keluarganya. Justru mereka lebih suka mengenakan beberapa asesoris kecil sebagai pemanis, namun satu atau sepasang asesoris itu punya harga yang fantastis. Dalam hal ini, meski[un kita harus memahami perbedaan antara dua hal tersebut, tetap saja kita tidak boleh menjelekkan atau terlalu mengagungkan salah satu dari dua kelompok tersebut. Kita hanya melihat perbedaannya tanpa bermaksud menjelekkan atau mendeskeditkan suatu kelompok masyarakat tertentu.
d. Konflik di dalam Keluarga “Old Money”
Hal yang tidak kalah penting untuk diriset secara mendalam adalah konflik internal maupun eksternal yang biasanya dialami oleh keluarga-keluarga “old money”. Apalagi biasanya keluarga “old money” akan mewariskan kekayaannya pada salah satu ahli waris dan pasti ada konflik yang cukup rumit di dalamnya. Walaupun semua anggota keluarganya kaya, tapi konflik tersebut bisa jadi masih bisa ditemui. Riset juga tentang kasus-kasus yang menimpa keluarga “old money” pada umumnya adalah tipe kasus yang bagaimana. Apakah kasus perebutan warisan, kasus perselingkuhan, atau kasus-kasus lainnya yang berpotensi menggambarkan sisi lain dari keluarga “old money”. Karena keluarga mana saja, yang “old money” atau bukan, pasti punya konflik di dalamnya. Misalnya, kita akan mengambil konflik tentang perebutan warisan, maka kita harus mempertanyakan beberapa hal, seperti bagaimana cara keluarga “old money” dalam menghadapi konflik semacam itu? Apa yang akan mereka lakukan? Begitu pula jika kita mengambil konflik tentang perselingkuhan pada salah satu pasangan di sebuah keluarga “old money”. Apa yang menyebabkan perselingkuhan itu terjadi? Bagaimana cara keduanya menghadapi hal tersebut? Apa reaksi keluarga besarnya? Apa keputusan yang diambil? Kenapa dia mengambil keputusan itu? Apa dampak dari keputusan yang dia ambil?
e. Konflik Pribadi Anggota Keluarga “Old Money”
Pepatah terkenal mengatakan bahwa “money can’t buy you happiness”, tapi di satu sisi, Eminem, salah satu rapper kondang, pernah berkata “money can’t buy you happiness, but crazy ass happiness”. Ada yang setuju bahwa uang tidak bisa membeli kebahagiaan, tapi ada juga yang tidak setuju karena untuk mencapai kebahagiaan secara duniawi, orang pasti butuh uang untuk misalnya, membeli sesuatu yang dia inginkan sebagai bentuk self reward. Anggota keluarga “old money” saya yakin punya konflik pribadi, baik yang masih muda, paruh baya, atau yang telah berumur senja. Kita bisa meriset tentang konflik internal apa saja yang mereka rasakan sebagai anak dari keturunan keluarga yang sudah kaya sejak tujuh turunan. Kalau mereka merasakan insecure, biasanya insecure karena apa? Apakah mereka tidak tenang karena setiap pergerakan keluarganya selalu menjadi sorotan media? Apakah mereka ada yang sengaja menyembunyikan asal-usulnya untuk maksud tertentu? Dan dalam hal ini, kita harus menempatkan diri kita sebagai “mereka” walaupun mungkin saja kita bukanlah keturunan keluarga “old money”. Kita harus memahami psikologis orang-orang kaya, bagaimana etos kerja mereka, bagaimana mereka menjaga hubungan baik dengan relasi, bagaimana mereka mengatasi konflik internal maupun eksternal, bagaimana mereka menghadapi media, dan lain sebagainya.
f. Profesi Anggota Keluarga “Old Money”
Biasanya keluarga “old money” punya satu bisnis yang mereka kelola secara turun temurun, dan dalam hal ini, kita juga harus melakukan riset mendalam terkait bisnis yang telah diwarisi turun-temurun, bagaimana track recordnya—sama seperti sebuah kerajaan, pasti di perusahaan yang sudah diwariskan turun-temurun, pasti ada masa keemasan dan masa kegelapan. Siapa yang mendirikan perusahaan itu pertama kali, tahun berapa, bagaimana cara kerjanya, apa saja kendalanya, apa saja konfliknya, pada masa kepemimpinan siapakah perusahaan itu mencapai keuntungan paling besar, karena apa, bagaimana etos kerja pemimpin tersebut sampai membuat perusahaan itu mencapai puncak kejayaannya, apakah inovasi yang dia lakukan, lalu pada masa kepemimpinan siapakah perusahaan tersebut nyaris runtuh, apa penyebabnya, siapa yang mengambil alih, bagaimana cara mengatasinya, dan lain sebagainya. Tentu saja, ini bukanlah hal yang mudah. Maka dari itu, menurut saya pribadi, cerita fiksi dengan tema “old money” adalah salah satu cerita yang paling sulit untuk saya kerjakan karena butuh riset bertahun-tahun untuk memahami bagaimana rasanya hidup sebagai mereka, apalagi ketika saya datang dari keluarga yang biasa-biasa saja.
g. Kisah Romansa di Kalangan Keluarga “Old Money”
Kebanyakan untuk mempertahankan reputasi dan sebagai bentuk penguatan perusahaan yang telah dikelola secara turun-temurun, pernikahan untuk kepentingan memperkuat bisnis sangat mungkin terjadi. Orang-orang “old money” adalah orang yang sangat memperhatikan bibit, bebet, dan bobot dari calon menantu yang akan mendampingi anak-anak mereka, tidak jarang mereka harus terlibat dalam suatu perjodohan. Konflik dalam romansa keluarga “old money” yang paling umum adalah pernikahan dengan wanita atau lelaki yang berasal dari kalangan yang bukan keturunan “old money” dan pernikahan yang terjadi di kalangan keturunan “old money” itu sendiri. Konflik pasti terjadi di sini dan paling banyak disorot. Harus kita riset dan buat plotnya seruntut mungkin tentang tokoh old money kita akan menikah dengan siapa. Jika ia menikahi wanita atau pria dari kalangan yang bukan “old money” apa reaksi keluarga besarnya, apa yang menjadi syarat untuk menjadi menantu mereka, apakah ada penolakan atau justru keluarganya sangat terbuka, atau apakah tokoh old money kita menolak atau menerima perjodohan yang direncanakan orangtuanya, kalau mereka menolak bagaimana upayanya dan apa alasannya, kalau dia menerima apa alasannya, atau apakah tokoh old money kita menikah dengan pasangan pilihannya, bagaimana deskripsi pasangan mereka secara fisik dan non fisik, dimana mereka bertemu, dan bagaimana mereka bisa sukses menjalin hubungan dan memutuskan untuk menikah, gambarkan juga bagaimana kehidupan pernikahan mereka, apakah konfliknya akan berat atau ringan.
Kalau konfliknya berat, bagaimana konfliknya? Kalau konfliknya ringan, juga bagaimana konflik itu berjalan dan terselesaikan? Dalam hal ini, lebih berkesan menurut saya jika seseorang dapat menulis dengan tipe slow-burn-romance, atau alur cerita romansa yang terjadi perlahan—dengan kata lain, mereka tidak jatuh cinta dan menjalin hubungan secara tiba-tiba, namun perlahan—memberikan alasan yang meyakinkan kepada satu sama lainnya untuk mau berkomitmen hingga ke jenjang pernikahan. Sehingga fokusnya adalah tentang bagaimana cara mereka berkenalan dengan orang baru, cara memperlakukan orang yang mereka sayang, bagaimana interaksi antar keduanya yang dideskripsikan dengan detail dari sisi psikologis kedua tokohnya. Konflik di tengah hubungan mereka yang masih pada tahap kenalan atau sudah menjadi sepasang kekasih juga perlu dihadirkan supaya cerita romansanya tidak melulu mendeskripsikan tentang rasa manis, tapi macam-macam rasa lainnya. Menurut saya, seorang lelaki atau perempuan harus memiliki alasan mengapa mereka memperlakukan pasangan mereka seperti raja dan ratu atau orang yang paling spesial. Misalnya karena si perempuan adalah sosok yang selalu mendukung dan menemaninya dalam masa-masa sulit, atau tentang pemikirannya mengenai hal-hal krusial yang mengagumkan, atau kebaikan hatinya, kehangatan sikapnya, kelembutan perangainya, alasan-alasan itu bisa menjadi alasan si lelaki memperlakukannya sebagai sosok ratu dalam hidupnya, begitu pula sebaliknya.
Saya masih susah memahami bagaimana cara menggambarkan “cinta tanpa alasan” karena menurut saya, setiap cinta yang tercipta pasti memiliki alasan. Setiap perasaan ingin berkomitmen dengan seseorang pasti memiliki beberapa alasan, baik fisik maupun non fisik. Dan dalam hal ini, kalau saya memposisikan diri sendiri sebagai keturunan “old money”, maka dalam menjalin hubungan romansa, saya akan menilik bibit, bebet, dan bobotnya. Sehingga kisah romansa yang tercipta bukan melulu tentang pria kaya yang menghadiahkan mansion mewah, jet pribadi, kapal yach pribadi, atau liburan ke salah satu tempat paling indah di bumi dengan harga fantastis untuk seorang wanita yang dicintainya. Dalam kehidupan nyata memang ada hal semacam itu, namun akan lebih terasa realistis apabila disertai alasan yang logis. Apalagi orang-orang “old money” biasanya sangat hati-hati dalam menggunakan uang mereka karena telah dibekali ilmu keuangan yang bagus.
2. Menonton Film tentang “Old Money”
Untuk bisa menggambarkan atau mengimajinasikan keluarga “old money” itu seperti apa, maka salah satu hal yang bisa dilakukan untuk merefresh otak sekaligus riset dengan cara yang menyenangkan adalah menonton film dengan tema serupa. Di google banyak yang merekomendasikan film-film dengan tema tersebut. Catat hal-hal penting tentang bagaimana gambaran hidup mereka dalam film itu, lalu lakukan metode ATM (amati, tiru, modifikasi) jika memang ingin membuat cerita fiksi old money yang terinspirasi dari salah satu film tersebut. Ingat ya, harus dimodifikasi, jangan berhenti di tahap amati dan tiru saja. Menonton film dengan tema yang akan kita tulis menurut saya bisa membangkitkan motivasi untuk menyelesaikan tulisan kita. Alangkah lebih baik jika setelah menonton filmnya, kita membuat resensi film untuk mengetahui keseluruhan isi film yang dideskripsikan dengan bahasa sendiri, juga mengetahui kekurangan dan kelebihan film atau bahkan dari sisi tokoh-tokohnya. Dari sana, kita bisa melihat celah mana yang bisa kita ambil untuk dijadikan tema utama atau premis untuk membuat cerita old money versi kita sendiri.
3. Membuat Playlist dan Moodboard yang Vibesnya tentang Old Money
Kalau kalian suka menulis di platform menulis dan membaca novel seperti Wattpad, Dreame, dsb, mungkin kalian sudah tidak asing dengan moodboard dan playlist yang biasanya digunakan sebagai pendukung cerita fiksi yang sedang dibuat. Saya pribadi juga suka membuat moodboard dan playlist untuk menulis suatu tema tertentu. Apabila cerita yang saya tulis temanya adalah kerajaan, biasanya saya mencari instrument tradisional atau intrumen-instrumen lawas yang bisa membangun mood dan imajinasi saya semakin tajam dalam menuliskannya, kalau saya sedang menulis cerita yang akan memiliki sad ending, maka saya juga akan membuat playlist berisi lagu-lagu sedih dengan lirik menyayat hati yang sesuai dengan tema yang akan saya tulis (misalnya sumber kesedihan dari cerita itu adalah struggle yang dihadapi remaja zaman sekarang, generasi sandwich, dst, maka saya akan mencari lirik lagu yang menggambarkan sub tema ini supaya lebih relate dan terasa vibesnya ketika saya menulis), sama halnya dengan ketika kalian ingin menulis cerita fiksi dengan tema “old money”. Di youtube dan spotify sudah banyak sekali orang-orang yang membuatkan playlist dengan tema tersebut, kalian bisa memilih dan mendengarkannya, atau kalau kurang puas, kalian bisa mencari rekomendasi lagu dan membuat playlist kalian sendiri—supaya tingkat sensitivitas, kepekaan, dan imajinasi kita saat menulis tema tersebut bisa benar-benar menyala.