Sabtu, 30 Maret 2024

YOU ARE THE APPLE OF MY EYE: KISAH CINTA SEDERHANA YANG RUMIT

 

You Are The Apple of My Eye adalah salah satu film Taiwan yang terkenal dan sempat diadaptasi dalam versi Jepang dengan judul yang sama, tapi bagi saya, yang paling “kena” kemistri tokohnya adalah versi originalnya, dengan tokoh perempuan bernama Shen Chia Yi dan tokoh laki-laki bernama Ko Ching Teng (Ko Teng).

Film ini fresh dan jujur walaupun memang agak vulgar menceritakan bagaimana kehidupan anak-anak SMA khususnya imajinasi laki-laki tentang perempuan. Premisnya ringan aja. Menceritakan soal Ko Teng, si murid lelaki yang bisa ditemui di tiap-tiap sekolah di Indonesia. Dia selalu bercanda, sukanya baca komik dan nonton film dewasa, nggak tertarik belajar dan dapat nilai bagus. Kontras sama tokoh utama perempuannya, Shen Chia Yi, yang nggak lain adalah bintang kelas, jadi idola banyak cowok, cantik, kalem, suka belajar dan hidupnya udah ditata sedemikianrupa oleh dirinya sendiri. Mereka berdua yang kontras ini ketemu gara-gara salah satu guru menyuruh Shen Chia Yi mengajari Ko Teng sampai nilainya naik. Awalnya Ko Teng susah banget nurut, tapi lama-lama mereka akrab dan sering belajar bareng bahkan bikin taruhan, siapapun yang nilainya tinggi, harus mengubah penampilan. Lama-lama, Ko Teng naksir Shen Chia Yi. Sebenarnya Shen Chia Yi juga naksir, tapi Ko Teng terlalu kekanakan buat dia, dan menurut Ko Teng, Shen Chia Yi susah dimengerti padahal dia pikir mengerti perempuan itu semudah mengerti ibunya yang akrab sama Ko Teng dan bapaknya.

Ko Teng dengan pemikiran polosnya soal cinta, nggak pernah kepikiran untuk mengubah dirinya menjadi lelaki yang lebih baik buat mendapatkan Shen Chia Yi. Karena dia pikir, perempuan yang suka sama dia pasti bisa nerima apa adanya. Dan karena dari dulu Ko Teng pengin bisa menguasai bela diri, jadilah dia menantang diri sendiri untuk tanding lawan teman-teman asramanya, dan dia mengundang Shen Chia Yi buat nonton sebab Ko Teng pengin membuktikan bahwa dia punya kelebihan yang bisa dibanggakan. Apakah Chia Yi senang sama pembuktian yang dilakukan sama Ko Teng? Ternyata enggak. Karena Chia Yi menurutku adalah cewek yang cinta damai. Segenting apapun keadaannya, jangan sampai ada keributan di depan mata. Apa lagi ini si Ko Teng main nantangin cowok-cowok di asrama buat tanding one by one sama dia, padahal Chia Yi sama sekali nggak minta Ko Teng untuk membuktikan diri dengan cara yang seperti itu.

Chia Yi marah ke Ko Teng dan bilang kalau cowok itu kekanakan dan nggak bisa berubah. Menurutku, Chia Yi maunya Ko Teng tuh berubah jadi cowok kalem yang pintar dan menata masa depannya dengan rapi, kuliah di jurusan bergengsi dan punya penghasilan yang layak buat membangun keluarga kelak, tapi pemikiran Ko Teng masih tentang bagaimana dia menyenangkan diri sendiri karena menurutku Ko Teng belum siap pacaran soalnya dia masih proses mencari jati diri. Dia gegabah macarin Chia Yi karena dia pikir cinta itu sesederhana yang ada di pikirannya, padahal dalam prakteknya rumit. Ko Teng nggak suka dikatain kekanak-kanakan sama Chia Yi, dia malah ngatain balik dan bilang kalau Chia Yi nggak pernah mau mengerti dia. Chia Yi nggak berusaha untuk mengerti kenapa Ko Teng melakukan semua ini. Intinya, prinsip mereka soal hidup aja udah beda, nggak sejalan, jadi kalau diterusin juga nggak akan lama hubungannya.

Karena kecewa, Chia Yi dan Ko Teng nggak kontakan selama beberapa bulan. Selama beberapa bulan itu, Ko Teng sudah anggap dia dan Chia Yi putus, walaupun nggak ada yang ngomong putus duluan. Selama mereka nggak kontakan, Chia Yi ternyata sempat pacaran sama temannya Ko Teng, nggak tau beneran naksir atau cuma kasihan. Dan selama jauh dari Chia Yi, Ko Teng nggak nyadar juga apa kesalahannya. Buat dia, harusnya mencintai Chia Yi bisa sesederhana yang ada di pikirannya soal cinta, harusnya Chia Yi nggak perlu jadi susah dimengerti begini.

Ada salah satu scene sebelum mereka bertengkar, dimana Ko Teng dan Chia Yi jalan-jalan berdua. Mereka kelihatan senang, tapi di penghujung hari yang dihabiskan bersama, Chia Yi nanya ke Ko Teng tentang alasan dia suka sama Chia Yi. Ko Teng nggak bisa jawab karena dia pikir, cinta ya cinta, nggak butuh alasan. Kalau cinta masih pakai alasan, namanya bukan cinta. Tapi Shen Chia Yi nggak puas sama jawabannya Ko Teng. Menurut dia, Ko Teng tuh nggak mikir panjang buat suka sama dia, padahal menurut Chia Yi, Ko Teng harus mikir matang-matang sebelum dia memutuskan buat suka dan pacaran sama Chia Yi. Chia Yi bahkan bilang ke Ko Teng kalau dia nggak seperti yang dibayangkan Ko Teng dan teman-temannya. Dia memang rajin belajar, tapi dia nggak suka bersih-bersih. Kos-kosannya bahkan lebih berantakan dibanding teman sekamarnya. Dia juga sering ceroboh. Intinya, Chia Yi mau kasih paham ke Ko Teng kalau dia bukan Chia Yi yang dianggap “Dewi”. Dia manusia biasa yang punya kekurangan. Chia Yi takutnya, Ko Teng suka sama dia bukan karena dia yang sebenarnya, tapi karena Shen Chia Yi dalam imajinasi Ko Teng sendiri. Tapi untuk pemikiran yang serumit ini, jelas Ko Teng nggak langsung paham. Dia pikir, ya elah, kenapa perasaan suka jadi ribet begini sih?

Scene lainnya yang bikin Chia Yi jadi kurang yakin kalau Ko Teng memahami perasaannya adalah ketika mereka mau lepasin lampion bareng-bareng. Di sana, Ko Teng bilang kalau dia suka sama Chia Yi. Chia Yi udah baper, dia nanya ke Ko Teng, apa kau mau dengar jawabanku? Tapi Ko Teng malah geleng-geleng kepala karena dia takut ditolak sama Chia Yi. Chia Yi agak kecewa karena sikap ragu-ragunya Ko Teng bikin dia mikir, berarti nih cowok nggak peka sama perasaan gue, padahal gue suka juga sama dia.

Shen Chia Yi pikir dia bisa mengubah Ko Teng dari cowok tengil jadi cowok berwibawa, tapi ternyata nggak bisa dan dia kecewa sama Ko Teng dan ekspektasinya. Ko Teng juga nggak bisa memahami Chia Yi karena buat dia, cewek bisa jadi dewasa lebih cepat dibanding cowok. Dan ketika mereka udah dewasa, mereka nggak akan milih cowok kekanakan walaupun mereka sama-sama suka. Chia Yi penginnya hubungan mereka langgeng sampai ke pernikahan, tapi Ko Teng nggak mikir sampai sejauh itu. Dan itulah yang bikin mereka nggak bisa sama-sama buat waktu yang lama sebagai teman seumur hidup.

Share: