Senin, 13 Januari 2025

REVIEW NOVEL-NOVEL SHOJI SHIMADA

Shoji Shimada dikenal sebagai penulis Jepang yang fokus menulis cerita-cerita misteri, dan dalam biodata penulis di halaman terakhir novelnya yang terkenal yaitu Tokyo Zodiac Murder, dikatakan bahwa Shoji sebenarnya sudah menghasilkan 100 cerita, entah yang dimaksud adalah kumpulan cerpen atau benar-benar 100 novel misteri, sebab yang saya temukan di internet hanyalah dua novelnya, yaitu Tokyo Zodiac Murder dan Pembunuhan di Rumah Miring.

Saya kira series Sherlock Holmes sudah yang paling bagus, tapi dua novel Shoji Shimada berhasil membuat saya memberikan standing applause sebab menurut saya lebih bagus dan logis dibanding Sherlock Holmes yang terkenal, walaupun saya juga mengangumi detektif fiksi yang terkenal itu.



Tokyo Zodiac Murder menceritakan tentang pembunuhan berantai yang mana polisi mengidentifikasikan bahwa jumlah korbannya adalah enam orang, yaitu satu orang lelaki yang merupakan seorang ayah, dan sisanya adalah kelima putrinya. Kasus pembunuhan ini nggak terpecahkan 40 tahun, padahal heboh banget di Jepang, tapi seorang detektif nyentik bernama Kiyoshi Mitarai berhasil memecahkan kasus ini didampingi oleh satu-satunya rekannya. Cerita ini ditulis dengan alur yang pas, artinya nggak terlalu lambat atau terlalu cepat. Plotnya juga seru dan yang paling mencengangkan adalah plot twistnya yang sama sekali nggak terduga. Shoji mengajak pembaca untuk memecahkan kasus ini bersama, bukan hanya mengandalkan dua tokoh utamanya, sebab Shoji menjabarkan bukti-bukti yang ditemukan di TKP, teori-teori polisi dan orang-orang, bahkan memberikan gambaran denah TKP hingga kondisi mayat yang ditemukan dengan anggota tubuh yang sengaja dipotong-potong dan dibuang di tempat-tempat yang berbeda, bahkan Shoji juga mengilustrasikan bagian tubuh mayat yang dipotong dan ketika disatukan akan membentuk satu tubuh yang utuh yang digunakan polisi untuk mengidentifikasikan korban yang berjumlah enam orang tersebut, tapi walaupun saya penyuka cerita-cerita detektif, di tengah cerita ketika Shoji bertanya kepada pembaca apakah kami sudah bisa menebak pelakunya, saya sebenarnya sudah punya jawaban, tapi tidak yakin dengan jawaban saya karena Shoji dengan lihai mempermainkan pembaca dengan teori-teori pembunuhan yang rumit, padahal pemecahan kasusnya bisa diselesaikan dengan sederhana. Shoji ahli mematahkan pendapat pembaca menurut saya. Ketika saya yakin bahwa pembunuhnya adalah si A, kemudian jawaban saya berubah seiring dengan terus membaca kelanjutan ceritanya dan menjadi ragu dengan jawaban saya sebab Shoji menjabarkan ketidakmungkinan bahwa A adalah pelakunya, tapi di akhir cerita, A memanglah pembunuhnya. Cerita ini sederhana, tapi digarap dengan niat dan dedikasi yang patut diacungi jempol sehingga bisa membuat sesuatu yang sederhana tampak rumit. Bisa dibilang, premis cerita ini adalah sebuah biji, yang kemudian berkembang menjadi dahan pohon, berkembang lagi menjadi ranting-ranting, lalu daun, lalu bunga, dan buah. Itulah yang membuat daya tarik novel-novel Shoji semakin kuat dan nggak dipungkiri, novel ini sangat candu untuk dibaca kelanjutannya sehingga perhatian membuka sosial media jadi sepenuhnya teralihkan.

Novel keduanya adalah Pembunuhan di Rumah Miring. Sama seperti novel yang sebelumnya, jika ditarik garis secara umum, premis cerita ini sederhana saja, ada pembunuhan yang terjadi di sebuah mension yang di bangun di atas gunung yang eksotis sekaligus magis karena mensionnya sengaja dibangun miring dengan banyak sekat dan ruang. Shoji dengan dedikasinya bahkan mengilustrasikan sendiri denah rumah miring sehingga imajinasi pembaca bisa diperjelas oleh visual yang diberikan. Sentuhan ilustrasi-ilustrasi TKP dan denah rumah miring ini menurut saya menambahkan kesan bahwa kami sebagai pembaca juga turut diundang untuk memecahkan kasus pembunuhan ini. Sama seperti novel sebelumnya, saya sudah menduga bahwa pembunuh di novel ini adalah si B, tapi kemudian saya mencurigai tokoh lain karena Shoji menjabarkan bahwa semua orang yang diundang untuk tinggal dan menginap di rumah miring itu bisa jadi pelakunya, membuat saya meragukan jawaban saya sendiri, yang padahal di akhir, ketika Kiyoshi Mitarai memecahkan kasus ini, saya yakin tebakan pembaca lain benar, bahwa pembunuhnya memang si B. Shoji nggak menciptakan plot twist yang bisa memutarbalikkan cerita 180 derajat. Ia sudah memberi klu kalau pembunuhnya adalah si B dan konsisten di akhir cerita dengan mengungkapkan bahwa memang si B-lah pembunuhnya. Tidak seperti tulisan lain yang ketika kita yakin bahwa B adalah pelakunya, di akhir cerita ternyata pelakunya adalah C. Premis dan cara Shoji membuat plot twist memang sederhana, tapi sesuatu yang sederhana itu tidak dibiarkan teronggok sederhana dan mentah, tapi diolah, digoreng, ditambahi bumbu sedemikian rupa supaya para pembaca tidak fokus pada B, tapi sengaja dibuat curiga pada tokoh lain yang potensial menjadi pelaku pembunuhan, dan ketika Shoji tetap pada klu yang diberikannya di awal bahwa si pembunuhnya adalah B dan bukan si C, D, E, dan seterusnya, di sanalah pembaca merasa "gemas" karena tebakannya benar, tapi terpancing untuk menganalisis tokoh-tokoh lain karena penjabaran Shoji. Ini seperti... kita sudah tahu siapa pelakunya, tapi karena orang lain menginterupsi, kita jadi ragu dengan jawaban sendiri, padahal bisa jadi jawaban itu benar.

Saya bisa bilang bahwa... mudah untuk seseorang meniru dan membuat cerita serupa Sherlock Holmes, tapi cukup susah untuk membuat cerita serupa dua novel Shoji Shimada ini.

Tokyo Zodiac Murder (5/5) dan Pembunuhan di Rumah Miring (4/5) adalah dua novel yang saya rekomendasikan dan layak untuk dibaca buat kalian yang suka cerita-cerita misteri.

Sampai ketemu di review buku dan novel selanjutnya.

Share:

0 comments:

Posting Komentar