Sabtu, 25 Mei 2024

REVIEW DRAKOR "VOICE SEASON 4"

Season 4 ini menceritakan tentang Derek Cho, salah satu polisi berkebangsaan AS yang kebetulan ada tugas yang harus dia selesaikan di Korea Selatan, dan di sana dia membawa serta adiknya yaitu Lisa Cho yang berkeinginan mencari ayah kandung mereka, dan beberapa waktu sebelum mereka datang, pembunuhan berantai yang dilakukan oleh orang berpakaian seperti circus dengan mayat yang dikalungi lampu kelap kelip dan biasanya terjadi saat Hari Natal, terjadi. Dan apesnya, Lisa Cho harus menjadi korban salah satu pembunuh berantai itu karena dia nggak sengaja memergoki pembunuhan di unit apartemen yang dekat dengan apartemen yang dia kunjungi untuk menemui salah satu orang yang bisa memberinya petunjuk tentang ayah kandung mereka. Akhirnya Derek Cho memutuskan untuk tinggal di Korea Selatan sampai dia bisa mengungkap dan menangkap pembunuh adiknya. Sebelum kasus pembunuhan yang membuat Lisa Cho jadi korban, Kwon Joo sudah dapat banyak e-mail dari Circus Man yang salah satu isinya adalah memperingatkan pembunuhan selanjutnya yang bakalan terjadi pada sebuah keluarga yang tinggal di sebuah unit apartemen.

Dan guess what? Salah satu klu yang dikasih di awal adalah pelakunya mirip banget sama Kang Kwon Joo alias pemimpin tim Golden Time, tapi sebelum Derek Cho mencurigai Kwon Joo lebih jauh, temannya yang dari AS memeriksa rekaman CCTV yang menunjukkan seseorang yang mirip sama Kwon Joo dan mengkonfirmasi bahwa itu bukanlah Kwon Joo yang asli, melainkan seseorang yang menyamar sebagai Kwon Joo dengan mengenakan topeng dan riasan khusus, tapi kalau dilihat dari perawakannya memang benar benar mirip sama Kwon Joo dan aku pikir Kwon Joo punya kembaran yang terpisah jauh sama dia, tapi ternyata apa yang aku pikirkan nggak terjadi. Ada seseorang dari masa lalu Kwon Joo yang terungkap di sini kenal dan dekat sama Kwon Joo sampai akhirnya dia terobsesi untuk menjadi Kwon Joo, tapi versi jahatnya. Jadi si peniru ini udah nyari tahu banyak soal Kwon Joo dan tahu kalau Kwon Joo punya kelebihan bisa mendengar suara sekecil apapun dari radius tertentu, dan kemampuan itu digunakan untuk menyelamatkan orang orang, sementara si peniru ini membuat alat bantu pendengaran yang membuat dia bisa mendengar suara sekecil apapun bahkan kemampuannya di atas Kwon Joo, tapi kemampuannya justru digunakan untuk membunuh orang orang. Di sini seperti Kwon Joo dihadapkan oleh dirinya sendiri dengan versi yang berbeda dan untungnya Kwon Joo nggak kemakan pancingannya si pelaku sehingga Kwon Joo tetap bisa berpikir jernih kalau dia nggak sama seperti si peniru dirinya. Walaupun si penirunya adalah monster, dia nggak mau jadi monster juga. Konflik yang dihadapi Kwon Joo hampir sama dengan yang dialami oleh Do Kang Woo di season 3 sebelumnya, bedanya kalau Kang Woo memang ada hubungan darah dengan serial killer yang mereka cari, dan Kwon Joo nggak ada hubungan darah dengan si peniru dirinya di season 4 ini.

Duh, sorry ya, malah jadi spill the tea tipis tipis gini.

Sama seperti di season season sebelumnya, di season ini juga mereka masih bertahan sebagai Golden Team yang menangani beberapa kasus di samping mengerjakan kasus utama yang mana beberapa kasus kasus selingannya juga ada yang memberikan mereka klu guna memecahkan kasus utama.

Untuk memburu si Circus Man, serial killer tersebut, mereka rela pindah kantor ke Pulau Vimo sampai pelaku sebenarnya tertangkap dan alasan kenapa season 4 ini lebih epik lagi adalah masalah utama mereka nggak cuma satu, tapi malahan menurutku masih ada satu masalah utama lagi. Yang pertama, jelas, masalah mereka adalah Circus Man yang ternyata akan mengungkap masa lalu Kwon Joo, dan masalah yang kedua adalah misteri Desa Sonang, salah satu desa di Pulau Vimo, yang punya rahasia gelap, hampir mirip sekte sesat tapi ini lebih ke perdukunan, yang mana masalah di Desa Sonang ini juga ada kaitannya sama Circus Man yang mereka cari.

Di episode terakhir season 3 dikasih sebuah epilog yang menurut teoriku, season 4 ada kaitannya dengan situs gelap Dokter Fabvre, tapi ternyata hint tentang situs itu nggak diperlihatkan di awal, justru si serial killernya ini membuat situs gelapnya sendiri yang bernama Circus Man, sebuah situs yang digunakan si serial killer untuk mencari mangsanya. Kalau aku jelasin lebih banyak nanti malah spoiler abis abisan, jadi lebih baik ditonton aja kalau penasaran hehehehe.

Oke, balik ke hint Dokter Fabvre itu tadi yang nggak dikasih di awal season 4, kupikir memang nggak ada hubungannya dengan situs gelap yang muncul di season 3, jadi aku kesampingkan dulu soal situs itu, dan ternyata baru terungkap apa peran situs Dokter Fabvre di season 4 ini menjelang episode akhir (silakan tonton sendiri wkwk).

Premis yang diusung di season 4 ini belum aku temukan di drakor genre crime yang sejauh ini sudah aku tonton karena kalaupun mereka mengusung tema tentang masalah mental atau kejiwaan, pasti yang diusung adalah si serial killer ini mengidap gangguan anti sosial yang mengarah ke psikopat, tapi di season 4 ini berkaitan dengan masalah kepribadian si pelaku yang lebih dari satu, dan itu adalah salah satu kendala terbesar untuk Golden Time dan Derek Cho untuk melacak pelaku sebenarnya karena bahkan pelakunya nggak ingat kalau dia pernah melakukan pembunuhan sebab kepribadiannya sering kali berubah ubah dalam waktu berdekatan.

Aku sendiri merasa "gemas" dengan si serial killernya yang beberapa kali setelah tertangkap bisa kabur, bahkan mendekati akhir, aku pikir si serial killer ini nggak akan berhasil tertangkap karena dihalangi sama masyarakat Desa Sonang karena si pelaku ini adalah cucu dari orang yang dituakan di desa itu, jadi para polisi harus melawan masyarakat desa dan untungnya berhasil sih.

Untuk season 4 aku kasih rating 9/10 dan menurutku juga, Voice dari season 1 sampai 4 ini adalah drama Korea genre crime terbaik yang pernah aku tonton karena bagaimana mereka menangani kasus yang harus dipecahkan oleh Tim Golden Time benar benar keren sehingga alurnya nggak terlalu lambat apalagi terlalu cepat, alurnya pas. Belasan episode menurutku digarap dengan apik dan sesuai porsinya. Sensasi tegang saat memburu pelaku kejahatan juga benar benar bisa dipertahankan sampai di season 4, jadi itu yang bikin Voice series ini bikin ketagihan untuk ditonton.

Menurut kabar sih katanya bakalan ada season 5 sekaligus penutup Voice series, pemainnya masih dengan Kang Kwon Joo, tapi untuk lawan mainnya masih belum tahu dan di season 5 nanti kata penulisnya, akan mengungkap cukup dalam mengenai kemampuan pendengarannya Kwon Joo karena memang di season 1-3, Kwon Joo walaupun tokoh utama, nggak banyak yang tahu gimana latar belakangnya, dan untungnya dikasih sedikit hint di season 4. Nggak sabar buat nunggu season 5 dan kalaupun drakor ini sampai season 10 juga aku bakalan betah nonton selama alurnya masih fresh dan tepat. Pokoknya i'm glad that Voice series is exist karena ini kayak memenuhi kebutuhanku yang haus sama drakor drakor bergenre crime.

Sampai jumpa di review review yang lainnya.
Share:

REVIEW DRAKOR "DUTY AFTER SCHOOL"

Akhirnya selesai juga menonton salah satu drakor dengan tema survival yang menurutku epik dan bagus. Duty After School adalah drama Korea yang menceritakan tentang para murid SMA yang sebentar lagi akan naik kelas 12 dan menghadapi CSAT atau ujian masuk perguruan tinggi yang susahnya minta ampun, tapi alih alih menjalani kehidupan SMA seperti pada umumnya, mereka malah harus melakukan serangkaian pelatihan militer karena ada bola bola misterius yang terbang di langit Korea Selatan dan ketika bola itu jatuh kemudian pecah, makhluk makhluk aneh akan langsung berlari berpencar mencari mereka lalu menjadikan mangsa dan kalau makhluk itu sudah menghinggapi tubuh manusia, manusianya pasti meninggal dalam keadaan yang mengenaskan. Seluruh kota di Korea Selatan hancur berantakan karena kejadian ini dan tentu saja memakan banyak korban. Jalanan yang biasanya ramai jadi sepi. Toko toko ditinggal para pemiliknya. Yang tersisa hanyalah anak anak SMA kelas 12 dan beberapa personel tentara yang harus melawan makhluk itu sampai dinyatakan selesai dengan iming iming siapapun yang berhasil melakukan misi ini sampai akhir akan diberi poin ekstra untuk SCAT nanti. Mereka semangat dong, dan berpikir bahwa ini hanya sebentar, nggak tahunya sampai setahun mereka harus berperang sama makhluk itu dan dijadikan alat pemerintah untuk melawan para makhluk aneh itu sambil menunggu senjata buatan manusia bisa rampung supaya bisa memusnahkan bola bola misterius itu lebih banyak. Total ada 10 episode dan menurutku alurnya pas, nggak terlalu cepat atau terlalu lambat. Konflik yang terjadi di antara mereka juga realistis, khas perdebatan anak anak SMA, persahabatan yang diuji ketika harapan mereka untuk kembali bersekolah seperti normal rasa rasanya nggak akan mungkin tercapai, belum lagi mereka harus kehilangan beberapa orang dan teman karena insiden itu, ditambah harus jauh dari orangtua dan sama sekali nggak tahu keadaan mereka apakah selamat atau enggak, dan ketika harus menghadapinya sampai akhir juga bukan hal yang mudah. Kemistri semua tokohnya terbangun dengan bagus. Pelan pelan mereka jadi dekat dan saling melindungi sampai akhir. Aku kira endingnya sesuai ekspektasiku, mereka diserang sama makhluk makhluk dari bola bola yang jatuh, tapi ternyata endingnya di luar dugaanku. Plot twistnya mantap.

Ada salah satu tokoh yang sebelumnya nggak terlalu krusial menurutku, tapi di akhir dia mengalami pengembangan karakter yang cukup bagus, tokohnya adalah Kook Young Soo. Dia adalah yang paling berambisi untuk ikut CSAT di saat teman temannya sudah nggak semangat lagi, karena apa yang diharapkan dari perjuangan mereka yang seolah tanpa akhir itu? Bertahan hidup aja udah syukur, boro boro mikirin CSAT. Mereka kayak udah kehilangan harapan. Dan mendekati akhir episode, terungkap juga kenapa Young Soo sangat berambisi untuk bisa ikut CSAT dan syok berat setelah tahu kalau CSAT dibatalkan, itu artinya perjuangan mereka untuk membasmi makhluk makhluk itu sia sia, poin tambahan yang dijanjikan ternyata nggak pernah ada, mereka benar benar dijadikan alat sama pemerintah untuk melawan semua makhluk itu tanpa perlindungan dari siapapun. Wajar sih mereka stress, mereka cuma remaja 19 tahun yang cuma kepengin menjalani masa SMA mereka dengan normal. Kook Young Soo ternyata nggak terlahir dari keluarga yang kaya, ibu bapaknya harus kerja keras setiap hari untuk membiayai sekolah dia dan adik adiknya, jadi nggak heran kalau dia berjuang keras banget di tengah kehancuran negaranya akibat para makhluk misterius itu supaya bisa masuk universitas terbaik, dapat pekerjaan terbaik, dan bisa mengubah nasib keluarganya sebab dia nggak mau nasibnya di masa depan kayak ayah ibunya, dia juga nggak mau adik adiknya punya nasib yang sama kayak orangtua mereka, dan di sini, yang tahu soal alasan Young Soo berambisi ikut CSAT cuma Yi Cheol. Teman teman sekelasnya nggak ada yang tahu, bahkan nggak ada yang bertanya kenapa Young Soo seambis itu. Mereka cuma bisa menyalahkan tingkah Young Soo yang nggak bisa menerima kenyataan kalau CSAT buat angkatan mereka dibatalkan. Jang Soo, salah satu tokoh di sini yang kalau nggak salah adalah wakil ketua kelas, berusaha menenangkan Young Soo dengan bilang kalau CSAT nggak diadakan, masih ada tahun depan, tapi itu nggak membuat Young Soo tenang karena Young Soo nggak punya guru privat atau pergi ke tempat bimbel kayak teman temannya. Teman temannya rata rata adalah orang yang mampu secara finansial, jadi kalaupun gap year juga mereka nggak masalah, sementara buat Young Soo, gap year adalah masalah besar buat dia karena dia akan membebani keluarganya. Aku juga nggak bisa menyalahkan Young Soo yang nggak menceritakan soal kenapa dia ambis banget buat ikut CSAT ke teman temannya karena mungkin itu adalah hal memalukan buat diketahui sama banyak orang, tapi di satu sisi aku juga nggak bisa melulu menyalahkan teman teman sekelasnya yang nggak menanyakan kenapa Young Soo seambis itu karena keadaan mereka sendiri juga sulit. Setiap anak punya konflik batin dan pikirannya sendiri, mereka juga udah capek fisik dan batin, jadi kalau harus dituntut ini itu juga bakalan capek berkali kali lipat.

Situasinya sulit dan kacau banget, sampai aku yang nonton udah capek mau menyalahkan siapa dan siapa. Mau nyalahin pemerintahnya karena nggak melindungi anak anak itu, tapi ya gimana, mereka juga kehilangan banyak personel tentara yang membuat mereka harus bertahan hidup dengan mengorbankan anak anak itu sebagai tameng selama mereka mengembangkan senjata untuk memusnahkan bola bola itu dalam waktu yang singkat. Mungkin mereka memang harus berkorban dan dikorbankan, supaya perang melawan para makhluk itu selesai, walaupun memang pelik banget, tapi, yah... begitulah.

Kenapa jadi serius banget gini ya, hehe.

Tapi terlepas dari ini itu, aku berani kasih rating drakor ini 9/10 karena komedinya dapat, kemistri para pemainnya dapat, persahabatannya dapat, perjuangan untuk bertahan hidup juga dapat, endingnya juga mantap walaupun yah wkwkwkwkwkwkwkwkwkwkw ah, sudahlah, tapi di akhir episodenya, beruntung banget dikasih kilasan video "dibuang sayang" istilahnya yang memperlihatkan scene dimana semuanya masih normal dan baik baik aja, di saat mereka semua cuma murid SMA biasa.

Aku nggak tahu banyak soal sinematografi dan unsur unsur dalam film yang harus diperhatikan untuk membuat kritik film dan ulasan, tapi ini adalah caraku mengulas film itu. Memang nggak sesuai dengan pedomannya, tapi semoga bisa dipahami.
Share:

Sabtu, 11 Mei 2024

REVIEW DRAKOR VOICE SEASON 3

Akhirnya aku bisa merampungkan drama Korea Voice season 3 setelah beberapa bulan tidak aku tonton karena ada kesibukan lain. Sempat sempoyongan mengikuti alurnya lagi, tapi lama-lama paham juga.

Semuanya menjadi lebih jelas di season 3. Tim Golden Time masih memburu pelaku kejahatan cyber yang membingungkan di awal–apakah basis mereka di Korea Selatan atau di Jepang? Karena Detektif Do Kang Woo bahkan sempat menghilang selama sekian bulan untuk memburu mereka ke Jepang setelah kejadian di episode terakhir season 2.

Banyak yang harus berkorban di season 3, termasuk di antaranya adalah 2 tokoh utama (aku nggak mau spill siapa aja hahahaha). Aku pikir kasus cyber tentang situs lelang Dokter Fabvre dengan prinsip lelang sebuah lukisan padahal ternyata adalah situs untuk membeli video pembunuhan sadis dan anggota tubuh manusia, nggak ada hubungannya sama sekali dengan Detektif Do Kang Woo, tapi ternyata salah satu pembunuh berantai yang bernama Bang Je Soo yang sudah muncul dan meresahkan Tim Golden Time sejak season 2, memang digunakan untuk mengganggu Kang Woo karena ternyata seseorang yang punya hubungan darah dengan Kang Woo adalah salah satu orang yang paling dicari. Plotnya bagus dan cukup plot twist karena aku pikir selain Bang Je Soo yang terobsesi untuk mengganggu Kang Woo, ada Koichi, salah satu anggota Dokter Febvre yang bukan tokoh baru, melainkan sudah kenal Kang Woo saat Kang Woo masih kecil. Kalau ditarik secara garis besarnya, premis season 2 dan 3 sederhana saja, seseorang yang punya hubungan darah dengan Kang Woo membangun sebuah situs gelap untuk memancing Kang Woo karena dia yakin Kang Woo adalah monster yang sama dengan orang-orang di balik situs gelap tersebut, dan bagaimana premis sederhana itu dikembangkan kemudian dieksekusi dengan cara yang epik, rumit, dan artistik dalam artian “dark” karena beberapa korban yang dibunuh diperlakukan seperti sebuah seni, adalah poin yang bikin aku sukses tepuk tangan untuk Voice season 2 dan 3 ini.

Ending di season 3 ini sungguh………. hmmmm…. hehehehe aku bahkan agak gemas kalau ingat gimana endingnya, tapi menurutku, ending yang bikin “gemas” ini adalah ending yang sudah seharusnya alias sudah tepat. Ending season 3 mengingatkanku pada salah satu drakor yang punya ending sama, yaitu Kill It.

Konflik yang dibangun pada pertengahan season 2 hingga season 3 sangat epik menurutku. Ini adalah jenis konflik internal, konflik pribadi yang akhirnya mengganggu tim Golden Time. Aku juga salut dengan tokoh Detektif Do Kang Woo yang berusaha melawan penyakitnya yang kadang kambuh dan merugikannya karena dia akan kelihatan seperti orang jahat, dan sepanjang season 3 dia berjuang untuk menahan hasratnya menjadi seorang monster karena bagaimanapun, dia adalah seorang detektif, seorang polisi yang tugasnya adalah menyelamatkan masyarakat. Konflik internal yang dihadapi Kang Woo tidak mudah, aku cukup “gemas” karenanya, dan bagaimana ending season 3 yang…. yahhhhh… bikin gagal move on, tapi memang itulah ending yang tepat untuk Kang Woo.

Aku nggak akan bosan bilang kalau Voice adalah salah satu drakor genre crime dan misteri terbaik yang pernah aku tonton. Ah ya, jangan skip prolog season 4 di last episode dari season 3 ya, karena ternyata ada plot twist lain yang lebih besar daripada itu. Klunya adalah, orang yang kita pikir sudah mati di season sebelumnya, ternyata masih ada kaitannya di season 4. Dan premis dari season 4 juga nggak kalah epik. Dan yang berkonflik sekarang adalah Kang Kwon Joo yang harus berhadapan dengan seseorang dengan kemampuan pendengaran yang sama dengannya, tapi digunakan untuk tujuan yang nggak baik. Di season 4 aku rasa akan lebih tegang dan lebih kejar-kejaran karena aku rasa, situs gelap di season 3 belumlah rampung sepenuhnya sebab di season 4 akan disinggung dan mungkin masih jadi masalah utama yang harus mereka brantas bersama.

Nggak sabar untuk nonton season 4 dan kasih reviewnya ke kalian.

Terima kasih untuk suguhan yang memukau dari season 2 sampai 3, ini adalah salah satu drakor yang bikin aku gagal move on, hahahaha. Good job all.

Sampai jumpa di review Voice season 4.
Share: