Minggu, 11 Februari 2024

THERE IS A PARADOX INSIDE MYSELF

Judulnya doang Inggris, tapi seterusnya akan ditulis pakai Bahasa Indonesia.

Beberapa tahun lalu, sekitar satu sampai dua tahun lalu, aku tertarik dengan tes personality untuk tahu, dari 16 personaliti yang ada, aku masuk yang mana. Aku hampir lupa urutan hasil tesnya, tapi kesemuanya menunjukkan bahwa kepribadianku adalah introvert. Tes pertama hasilnya adalah INFP, lalu berubah ke ISTJ, berubah lagi ke INFJ, dan terakhir kembali lagi ke INFP. Ternyata memang tes kepribadian itu bisa berubah-ubah tergantung situasi dan kondisi diri sendiri pada saat melakukan tes, tapi aku keukeuh ingin mencari tahu aku ini punya kepribadian apa, dan setelah baca-baca di quora, ada yang bilang bahwa untuk mengetahui kepribadianmu yang mana karena pasti bingung sebab suka berubah-ubah hasil tesnya, pilih satu kepribadian yang ciri-cirinya relate sama kamu.

Well, aku memang belum mengenal diriku sebaik dan sedalam itu, tapi aku tahu beberapa hal yang aku rasakan. Dan aku mulai meyakini bahwa aku adalah seorang INFP karena ciri-cirinya menggambarkan “aku banget”. Aku nggak akan menyebutkan semua ciri-ciri orang INFP di sini karena kalian bisa baca sendiri di google banyak banget.

Salah satu ciri yang mau aku highlight di sini adalah tentang seorang INFP yang disebut-sebut sebagai paradoks berjalan alias the walking paradox. Ini terjadi karena kepala mereka terlalu berisik dengan pemikiran-pemikiran yang saling bersilangan. Mereka bisa jadi orang yang percaya dengan cinta, tapi di satu waktu yang sama juga tidak sepenuhnya percaya dengan cinta. Mereka bisa menjadi seseorang yang idealis, tapi di satu sisi juga realistis. Dia bisa jadi orang yang rajin banget, tapi juga malas banget. Dia bisa jadi orang yang setuju dengan suatu pemikiran, tapi di saat yang bersamaan membantah beberapa poinnya. Mereka seperti ada di tengah-tengah dan cenderung netral untuk beberapa kasus.

Dan menjadi seseorang yang seperti itu sangat melelahkan.

Seringkali prinsip hidup yang aku punya harus goyah karena melihat prinsip hidup tokoh lain. Aku meyakini filosofi tokoh A, tapi aku juga menganggap filosofi tokoh B juga ada benarnya. Rasanya susah sekali untuk memegang satu prinsip yang saklek bagiku. Sebab aku terbuka dengan banyak prinsip hidup yang disajikan baik dari segi filsafat atau psikologi atau yang lainnya. Tapi kupikir itu adalah hal yang wajar. Aku masih 22 tahun dan belum tahu banyak soal hidup. Mungkin aku bisa menemukan prinsip hidupku sendiri ketika aku sudah cukup tua.

Share: