Judulnya doang Inggris, tapi seterusnya akan ditulis pakai Bahasa Indonesia.
Beberapa tahun lalu, sekitar satu sampai dua
tahun lalu, aku tertarik dengan tes personality untuk tahu, dari 16 personaliti
yang ada, aku masuk yang mana. Aku hampir lupa urutan hasil tesnya, tapi
kesemuanya menunjukkan bahwa kepribadianku adalah introvert. Tes pertama
hasilnya adalah INFP, lalu berubah ke ISTJ, berubah lagi ke INFJ, dan terakhir
kembali lagi ke INFP. Ternyata memang tes kepribadian itu bisa berubah-ubah
tergantung situasi dan kondisi diri sendiri pada saat melakukan tes, tapi aku
keukeuh ingin mencari tahu aku ini punya kepribadian apa, dan setelah baca-baca
di quora, ada yang bilang bahwa untuk mengetahui kepribadianmu yang mana karena
pasti bingung sebab suka berubah-ubah hasil tesnya, pilih satu kepribadian yang
ciri-cirinya relate sama kamu.
Well, aku memang belum mengenal diriku sebaik
dan sedalam itu, tapi aku tahu beberapa hal yang aku rasakan. Dan aku mulai
meyakini bahwa aku adalah seorang INFP karena ciri-cirinya menggambarkan “aku
banget”. Aku nggak akan menyebutkan semua ciri-ciri orang INFP di sini karena
kalian bisa baca sendiri di google banyak banget.
Salah satu ciri yang mau aku highlight di sini
adalah tentang seorang INFP yang disebut-sebut sebagai paradoks berjalan alias
the walking paradox. Ini terjadi karena kepala mereka terlalu berisik dengan
pemikiran-pemikiran yang saling bersilangan. Mereka bisa jadi orang yang
percaya dengan cinta, tapi di satu waktu yang sama juga tidak sepenuhnya
percaya dengan cinta. Mereka bisa menjadi seseorang yang idealis, tapi di satu
sisi juga realistis. Dia bisa jadi orang yang rajin banget, tapi juga malas banget.
Dia bisa jadi orang yang setuju dengan suatu pemikiran, tapi di saat yang
bersamaan membantah beberapa poinnya. Mereka seperti ada di tengah-tengah dan
cenderung netral untuk beberapa kasus.
Dan menjadi seseorang yang seperti itu sangat
melelahkan.
Seringkali prinsip hidup yang aku punya harus
goyah karena melihat prinsip hidup tokoh lain. Aku meyakini filosofi tokoh A,
tapi aku juga menganggap filosofi tokoh B juga ada benarnya. Rasanya susah
sekali untuk memegang satu prinsip yang saklek bagiku. Sebab aku terbuka dengan
banyak prinsip hidup yang disajikan baik dari segi filsafat atau psikologi atau
yang lainnya. Tapi kupikir itu adalah hal yang wajar. Aku masih 22 tahun dan
belum tahu banyak soal hidup. Mungkin aku bisa menemukan prinsip hidupku sendiri
ketika aku sudah cukup tua.