Senin, 23 Oktober 2023

WRITE DRUNK, EDIT SOBER

Beberapa bulan yang lalu aku menemukan istilah yang epic, yang sekarang aku jadikan judul untuk blog kali ini.

Write drunk, edit sober. 

Sebagai seseorang yang sangat suka menulis, ungkapan kata itu seperti memberiku dorongan semangat untuk terus menulis dan menulis dalam keadaan seperti orang mabuk, supaya aku bisa lebih jujur dan lebih liar dan lebih gila dalam menuliskan apa yang ada di pikiran dan perasaanku. Tanpa rasa takut dan tidak percaya diri, karena aku sudah membuat diriku merasa ‘drunk’ sebelum menulis. Hanya saja, aku belum menemukan bagaimana caranya membuat diriku ‘drunk’ sebelum menulis. Tapi sepertinya dengan membaca banyak buku tentang topic yang akan ditulis sekaligus melakukan riset sampai mendalam supaya aku punya cukup amunisi untuk menulis, saat aku penuh itulah mungkin aku bisa merasa ‘drunk’ sebelum akhirnya menuangkannya, memuntahkannya, dalam bentuk tulisan yang gila, berani, liar, dan segar.

Selain amunisi yang cukup, aku merasa perlu rasanya menentukan jam-jam dimana aku mulai merasa ‘drunk’ supaya bisa merasakan energi menulis dan membuat ideku lancar. Dalam hal ini, aku masih belum menemukan jam-jam ‘drunk’ untukku menulis, tapi aku suka ketika malam. Aku merasa, jam dimana aku merasa ‘drunk’ untuk menulis adalah jam 10 malam sampai 3 pagi. Karena di jam-jam itu aku merasakan lebih hening, lebih fokus, lebih gila, liar, dan ‘mabuk’ sehingga aku bisa menuliskan apa saja yang ingin aku tuliskan. Perbedaan antara tulisanku di jam-jam aku merasa ‘drunk’ dan tidak ‘drunk’ sangat kelihatan. Tulisan ketika aku sedang ‘drunk’ akan memberikan kesan yang lebih real, jujur, vulgar, dan liar. Seolah aku tidak punya ketakutan saat menuliskannya. Berbeda ketika aku menulis di jam-jam pagi hingga sore dimana aku masih dalam keadaan ‘waras’, maka tulisanku akan terasa lebih mellow, malu-malu, dan takut-takut untuk menulis secara gila dan liar sehingga nggak banyak kejujuran yang tersampaikan walaupun aku sangat ingin menuliskannya.

Jadi menurutku, penting untuk menemukan kapan kita merasakan ‘drunk’ untuk dijadikan waktu ternyaman saat menulis. Dan editlah tulisan itu saat ada di jam-jam yang ‘sober’. Tapi untuk bagaimana caranya membuat drunk dan sober menjadi sesuatu yang bisa bekerja sama, seperti pepatah write drunk, edit sober—aku masih belum menemukan caranya. Karena itu adalah dua hal berbeda. Aku menulis di jam-jam aku merasa ‘drunk’, dan tulisan yang berbau aroma ‘drunk’ itu harus aku edit dalam keadaan ‘sober’ yang pastinya akan menimbulkan dua pertentangan unsur saat proses editing tulisan. Ibarat kata, saat menulis di waktu ‘drunk’ aku melepas semua idealisme yang aku punya dan menjadi manusia biasa—memperlihatkan sisi brengseknya, sisi devilnya dalam tulisan dengan aroma ‘drunk’ itu, dan ketika waktunya untuk editing tulisan dan harus melakukannya dalam keadaan ‘sober’, maka semua idealisme yang sebelumnya aku buang jauh-jauh, datang secara bersamaan untuk mempertanyakan hal-hal yang tidak biasa, yang tidak sesuai norma dan idealismeku dalam tulisan beraroma ‘drunk’ itu. Kenapa kamu menulis ini? Bagaimana bisa kamu menulis yang seperti ini? Ini adalah sesuatu yang terlalu dark, terlalu berbahaya, terlalu sensitif, terlalu gila, terlalu vulgar, terlalu liar untuk ditulis. Ganti saja. Lebih baik kamu menulis yang aman-aman saja, yang umum-umum saja, yang tidak keluar dari norma, sehingga kamu tidak perlu merasa berdosa saat membacanya di kemudian kelak. Simpan saja sisi paling brengsekmu dari dunia dan jangan pernah kamu tuangkan dalam tulisanmu. Suara-suara itu muncul. 

Selalu ada perdebatan dan pertentangan saat aku mengedit tulisanku. Seperti ada dua kekuatan berbeda yang sama-sama kuat sedang berperang dalam kepala.

Seperti filsafat bertemu dengan sastra. Filsafat yang saklek dan pakem diuraikan dan diruntuhkan dengan pembedahan ala sastra.

Kalau ditanya solusinya apa, aku sendiri masih belum menemukan, tapi sependek pengalamanku menulis dan membaca segelintir novel-novel, jika ingin mempertahankan tulisan beraroma ‘drunk’ itu tadi, buatlah menjadi tulisan yang liar namun indah. Kejujuran-kejujuran dan segala kepahitan dunia, mungkin bisa dibungkus dengan narasi yang indah dan puitis yang tidak mengurangi ruh kesedihannya. Tapi kalau percaya diri dengan memberitahu tulisanmu yang beraroma ‘drunk’ tadi, juga tidak masalah. Seperti tulisan-tulisan Charles Bukowski yang vulgar, liar, kotor, tapi menyimpan kejujuran paling pahit yang berusaha ditampik oleh beberapa orang.

Mungkin aku akan memperpanjang tulisan ini kalau aku sudah cukup berpengalaman dalam menuliskannya lagi.
Share:

Kamis, 19 Oktober 2023

REVIEW DRAMA KOREA VOICE SEASON 2


Aku kira Voice season 2 adalah lanjutan dari Voice season 1, tapi ternyata enggak. Karena di Voice season 2, mereka harus memecahkan kasus pembunuhan berantai yang baru. Menurutku, kasusnya lebih rumit di season 2 dan cara pembunuhannya lebih kejam, sampai aku harus menutupi layar dengan tangan kalau ada adegan yang menunjukkan bagaimana pelakunya lagi mengeksekusi korban selanjutnya. Dan di season 2, pembunuh berantainya lebih cerdik dan rapi.

Season 2 ini, Detektif Mo Jin Hyuk sudah nggak bertugas. Lawan main Kang Kwon Joo digantikan oleh Do Kang Woo. WOI DEMI APAPUN AKU NGEFANS BANGET SAMA DO KANG WOO SOALNYA BELIAU KEREN SKSKSKSK.

Di season 2 ini masih sama, Kang Kwon Joo harus kerja sama bareng Do Kang Woo buat mengungkap siapa pembunuh berantai yang sudah menewaskan ketua tim Golden Time yang baru, yang ternyata pembunuh dari rekan kerjanya Do Kang Woo yang namanya Na Hyung Joon, adalah orang yang sama. Mereka dipertemukan di TKP dari ketua tim Golden Time yang baru, kalau nggak salah namanya detektif Jang, yang mana waktu itu Do Kang Woo langsung nyerobot buat melihat TKP karena ada kesamaan model pembunuhan, dimana salah satu anggota tubuh korbannya terpotong. Tapi karena curiga Do Kang Woo bakalan mengacaukan TKP, akhirnya Kang Kwon Joo menodongkan senjata dan yang pasti, curiga sama kehadiran Do Kang Woo. Buat bisa bekerja sama dengan Do Kang Woo di tim yang sama bukanlah hal yang mudah, karena Do Kang Woo lebih suka bekerja sendirian dalam menyelesaikan kasus sebagai akibat dia yang nggak punya banyak teman di dalam tugasnya sebagai detektif. Satu-satunya teman yang dia punya adalah Na Hyung Joon, yang sayangnya mati dalam misi mereka dimana tangannya terpotong oleh pembunuh berantai yang mengenakan topeng. Tapi pada akhirnya mereka bisa bekerja sama dalam satu tim, dengan Do Kang Woo yang tetap bersikap dingin. Dia jago banget buat membekuk para pelaku kejahatan, sepadan sama kemampuannya Kang Kwon Joo dan Golden Time. Sama seperti di season sebelumnya, di season 2 pun mereka masih harus menerima telepon-telepon darurat dari para penelepon yang butuh pertolongan, yang beberapa kasus si penelepon ada kaitannya dengan pembunuh berantai yang mereka cari. Hint di pelaku di season 2 adalah serangga, seseorang bekerja sebagai penjaga pantai, laki-laki yang perawakannya lebih besar daripada Do Kang Woo, ahli computer dan jago bela diri, pelaku yang sengaja mengadu domba alias memanfaatkan kemarahan orang lain supaya mereka punya keinginan untuk saling membunuh, dan kotak bintang untuk tempat menyimpan bagian tubuh korbannya. Pelakunya juga punya masa lalu yang nggak mengenakkan dimana dia juga jadi korban kekerasan anak yang dilakukan oleh ibunya sendiri, tapi dia nggak pernah mau meninggalkan ibunya dan terobsesi buat selalu mematuhi perintah ibunya. Bahkan sampai ibunya meninggal, dia lebih memilih mengawetkan mayat ibunya dibandingkan melaksanakan prosesi pemakaman. Di season 2 ini menurutku konfliknya lebih berwarna. Selain konflik eksternal dari para korban yang harus mereka selamatkan, ada konflik internal yang nggak kalah epik, dimana Do Kang Woo punya masa lalu yang kelam. Dan karena masa lalunya yang kelam, saudara tirinya Na Hyung Joon, detektif Na, itu selalu nggak suka sama apapun yang dilakukan Do Kang Woo karena dia menganggap kalau Kang Woo adalah pelaku yang membuat adiknya, Na Hyung Joon, terbunuh, walaupun dia sendiri belum punya bukti konkret. Asli ya, konflik internal dan eksternal di season 2 ini semakin bikin aku gemas. Semua bukti yang ada cukup untuk membuat Kang Woo terpojok dan dianggap sebagai psikopat, dan kesempatan ini dimanfaatkan sama pembunuh berantai yang mereka incar untuk memecah belah Golden Time dan berhasil, walaupun memang mereka pulih kembali. Aku kasihan sama tokoh Kang Woo karena nggak ada yang percaya sama dia sebelumnya, makanya dia bekerja lebih keras sebagai detektif untuk membuktikan kalau dia nggak akan jadi pembunuh seperti ayahnya dulu. Dan yang lebih menyayat hati adalah ketika salah satu teman dekatnya Kang Woo , yang bikin dia percaya kalau dia bener-bener teman yang mengerti dia sama seperti mendiang Na Hyung Joon, mengkhianati dia. Kalau di season 1, saat Detektif Mo Jin Hyuk dikhianati sama salah satu partner kerjanya di tim yang udah dia anggap seperti adik kandungnya sendiri itu bisa langsung mengekspresikan kemarahannya di depan orangnya langsung, beda sama Kang Woo yang walaupun dikhianati, nggak bisa marah langsung, tapi nada bicaranya berubah dingin dan pada akhirnya Cuma bisa melampiaskan kekecewaannya dengan menghajar si temannya ini walaupun nggak sampai babak belur banget. Do Kang Woo bukan orang yang mau membuang waktu dan tenaganya buat orang-orang yang nggak percaya atau yang mengkhianati dia. Jadi dia tetap berlalu meskipun badai berlalu lalang menerpa dia dari segala penjuru. ANJAYYYYYYY. Eh, tapi memang bener. Hehehe. Wah, campur aduk banget dah! Pecah!

Salah satu hal yang membuat drakor ini lebih realistis adalah ketika para detektif kesusahan untuk menangkap pelaku yang sebenarnya karena pelakunya memang secerdik dan sepintar itu. Karena walaupun mereka detektif yang udah ahli, mereka tetap aja pernah melakukan kesalahan di lapangan. Kegigihan Kang Kwon Joo dari season 1 nggak pernah berkurang. Dia berdedikasi banget sama pekerjaannya, dan Lee Ha Na memerankan karakter Kang Kwon Joo dengan sangat baik menurutku. Ekspresinya, tempo nada bicaranya, tatapannya, sebagai penonton aku bisa merasakan gimana gigihnya dia sebagai anggota Golden Time.

Dan penutup season 2 ini diakhiri dengan adegan yang epic parah. Untungnya aku nonton season 2 dalam keadaan season 3 sudah rilis. Kalau aku harus nunggu season 3 rilis, kayaknya aku bakalan nggak sanggup deh, karena ending di season 2 bikin penasaran banget. Aku sempat takut dan mewanti-wanti (AZIKKK) apakah Kang Woo masih muncul di season 3 atau nggak, karena ending season 2 masih belum menggambarkan ending yang sebenarnya—karena menurutku ending season 2 justru kelihatan seperti permulaan menuju season 3 yang lebih rumit lagi. DAN TERNYATA, KABAR BAIK UNTUK KITA SEMUA, KANG WOO MASIH MUNCUL DI SEASON 3!! AAAAAAAAA SENENGNYA WOOOIII!! Tapi aku nggak sengaja dapet bocoran dari pinterest kalau di season 3 ini konfliknya makin berat lagi dan Kang Woo banyak berubah. Aku udah mempersiapkan diri kalau di season 3 ini Kang Woo harus hilang dari radar hiksssss. Feelingku, Kang Woo bakalan jadi the next patah hati terhebatku setelah drakor Kill It dengan genre yang sama, masih tentang misteri dan pemecahan kasus. Mana aku suka gemes sendiri kalau Kang Woo dan Kwon Joo lagi ada scene bersama, padahal nggak ada adegan romantis sepanjang alur ceritanya, tapi kebersamaan mereka berdua yang mendiskusikan kasus, bikin gemes. Dan genre misteri dan action, mau film, series, atau drakor, romance tipis-tipis antar tokoh laki-laki dan perempuannya selalu sukses bikin aku gagal move on. YAHAHAHAHA. Tapi gimana ya, life is must go on, walaupun drakor yang ini bakalan bikin gagal move on. CAKEEEEPPPPP.

Yang membuat season 2 ini lebih keren menurutku adalah karena pembunuh berantai yang mereka buru juga nggak kalah keren. Jadi aku punya asumsi kalau karakter protagonist di sebuah film atau series atau novel atau komik, bisa kelihatan keren kalau mereka punya tokoh antagonis yang keren juga. Keren dalam artian, mereka cerdik dan cerdas dalam menyembunyikan identitas di balik serangkaian perilaku yang mereka lakukan.

Rating untuk season 2, masih sama seperti season 1, yaitu 9/10. Good job buat Voice season 2. Sampai jumpa di season 3. Hiks. Kuatkan aku untuk menonton Voice season 3 sampai habis, karena Kang Woo bakalan bener-bener dibuat terpojokkan. Aku memang suka konsep season selanjutnya yang beda dengan season sebelumnya, karena itu bikin warna dalam alur ceritanya lebih berwarna, tapi WOI, di Voice 3 memang bakalan lebih berat daripada season 2 sih. Seperti aku yang udah berhasil move on dari season 1 ke season 2, harusnya bisa sih move on dari season 3 ke season 4. HWHWHWHWHWHW. SEMOGA.

Ya udah, sampai jumpa lagi di review Voice season 3.

 

Share:

Rabu, 18 Oktober 2023

REVIEW DRAMA KOREA VOICE SEASON 1

Akhirnya kesampaian buat nonton drakor Voice. Sebenarnya udah tahu drakor ini dari lama, tapi baru kesampaian nonton sekarang karena satu dan lain hal. Keren banget drakor ini ada season 1-4. Kabarnya juga bakalan ada season 5-nya. NGGAK SABAR!!

Drama Korea Voice season 1 bercerita tentang tim kepolisian bernama The Golden Time yang melayani panggilan darurat untuk menyelamatkan para korbannya. Dan selain menyelesaikan misi penyelamatan dari orang-orang yang menelepon mereka, mereka juga harus menangkap pembunuh berantai yang punya kuasa kuat banget sampai susah buat ditangkap. Kasus-kasus darurat yang diterima oleh The Golden Time melalui layanan telepon darurat itu juga berkaitan dengan kasus pembunuhan berantai yang harus mereka selesaikan. Detektif Kang Kwon Joo dan Detektif Mo Jin Hyuk bekerja sama bersama tim mereka untuk memecahkan kasus pembunuhan berantai yang belum bisa diungkap bahkan setelah tiga tahun kasus itu terjadi. Ternyata, pembunuh istrinya Mo Jin Hyuk dan pembunuh ayah kandungnya Kang Kwon Joo adalah orang yang sama. Pertemuan antara Kang Kwon Joo dan Mo Jin Hyuk adalah saat persidangan dimana Kang Kwon Joo menjadi saksi dari kasus pembunuhan istrinya Mo Jin Hyuk karena saat itu dia yang bertugas untuk menerima telepon dari istrinya Jin Hyuk. Karena punya kemampuan mendengar suara yang nggak bisa didengar oleh telinga manusia lain alias Kang Kwon Joo punya kemampuan mendengar suara-suara terkecil, dia bilang di persidangan kalau terdakwa yang dibawa ke meja hijau bukanlah pelaku pembunuhan yang sebenarnya. Rekaman telepon antara Ji Hye dan Kang Kwon Joo saat hari kejadian juga dipotong. Mendengar kesaksiannya Kang Kwon Joo, Jin Hyuk jelas marah. Dia takut kalau Kwon Joo ingin membebaskan terdakwa yang udah berhasil dibawa ke persidangan. Karena itulah, Kang Kwon Joo dan Mo Jin Hyuk punya hubungan yang nggak baik. Saat mengajukan usul untuk membentuk tim The Golden Time, Kang Kwon Joo menunjuk Mo Jin Hyuk sebagai salah satu anggotanya, tapi cukup susah untuk membujuk Jin Hyuk supaya bisa bergabung dengan The Golden Time, karena Jin Hyuk nggak percaya sama kemampuan Kwon Joo yang bisa mendengarkan suara-suara terkecil. Tapi setelah menyelesaikan beberapa kasus dari para peneleponnya, Jin Hyuk akhirnya percaya sama kemampuannya Kwon Joo, sehingga perlahan dia mau bekerja sama dengan Kwon Joo untuk mengungkap siapa pelaku sebenarnya dari pembunuhan berantai yang ciri khas korbannya adalah dipukul berkali-kali dengan bola besi. Kehadiran Nam Sang Tae membuat mereka terkecoh di pertengahan, apalagi saat ada orang di dalam kepolisian yang menjadi kaki tangan dari si pembunuh berantai, membuat cerita ini seru karena ada beberapa plot twist. Tapi pada akhirnya mereka berhasil mengungkap siapa pembunuh berantai yang sebenarnya.

Karakter Mo Jin Hyuk dan Kang Kwon Joo menurutku bertolak belakang. Mo Jin Hyuk walaupun dia petugas kepolisian, tapi dia nggak terlalu memedulikan prosedur yang ada. Kalau dia bisa membunuh pelaku pembunuhan atas istrinya, maka dia akan melakukan itu. Beda dengan Kang Kwon Joo yang berpegang teguh sama prinsip hukum. Dia tipe yang patuh sama hukum dan yakin kalau hukum akan membuat jerah para penjahat yang dia tangkap. Dengan karakter yang bertolak belakang ini, mereka berdua tetap punya kesamaan, yaitu sama-sama gigih dalam membekuk pelaku kejahatan. Beberapa kali Kwon Joo dan anggota tim yang lain harus menenangkan Jin Hyuk ketika dia marah besar saat membekuk para penjahat yang beberapa dari mereka ada kaitannya dengan pembunuh berantai yang selama ini mereka cari. Perlahan, kemistri antara Jin Hyuk dan Kwon Joo mulai kelihatan dan terasa kuat menurutku seiring dengan berjalannya cerita dan banyaknya kasus yang berhasil mereka pecahkan.

Sejauh ini, dari sekian banyak drama Korea tentang detektif yang aku tonton, pasti selalu ada karakter petinggi kepolisian yang berusaha menghentikan penyidikan kasus karena satu dan lain hal. Entah karena dia adalah kaki tangan dari pelaku sebenarnya, atau karena ada tekanan dari atasan lain yang juga ada sangkut pautnya dengan tersangka utama. Karakter ini hampir selalu ada dalam beberapa drama Korea tentang detektif yang aku tonton, dan selalu membuat gemas karena kesal sendiri.

Kemistri antara Kang Kwon Joo, Mo Jin Hyuk, Agen Park, dan anggota The Golden Time lainnya juga bagus. Aku bisa merasakan ketegangan yang mereka rasakan saat berusaha memandu anggota lainnya di balik layar sementara yang lainnya menuju TKP. Ada detail kecil yang menurutku penting untuk digarisbawahi, yaitu kepolisian juga bisa salah saat memecahkan kasus. Dan di dalam drakor Voice season 1 ini, walaupun Kang Kwon Joo punya kemampuan mendengar suara terkecil sekalipun, Jin Jyuk dengan kegigihannya, Agen Park dengan kemampuan memecahkan kasus yang bagus, pada akhirnya mereka tetap manusia biasa yang bisa terkecoh oleh kenyataan di lapangan. Entah TKP yang dipalsukan, salah menetapkan orang sebagai tersangka, dan kesalahan-kesalahan lain yang menurutku membuat drakor ini kelihatan realistis, tapi beruntungnya mereka sadar kalau ada kesalahan dalam mengungkap kasus, sehingga mereka langsung memperbaikinya dan berhasil membekuk pelaku-pelaku yang sebenarnya. Detail kecil lainnya yang ditunjukkan dalam drakor ini adalah perselisihan internal antar sesama detektif saat memecahkan kasus yang sama. Menurutku ini juga yang membuat Voice jadi lebih realistis. Nggak selamanya hubungan kerja sama dengan orang baik-baik aja, pasti ada konflik internal. Dan konflik internal di sini dimanfaatkan sama penulis naskahnya untuk membuat plot twist yang epik. Tadinya aku kira yang jadi kaki tangan pembunuhnya yang merupakan orang dalam di kepolisian itu sendiri adalah A dan B, tapi yang benar ternyata A dan C.

Tapi kadang aku merasa kalau penyelesaian kasus dalam Voice hanya menimbulkan sensasi lega, bukan puas. Mungkin karena Voice lebih ditekankan pada bagaimana detektif menangkap penjahat dengan seluruh prosedur kepolisian yang ada dan pelakunya dihukum sesuai dengan hukumannya, kontras sama Taxi Driver yang memilih konsep balas dendam pada para kliennya yang ingin balas dendam tanpa menghiraukan hukum yang ada. Mungkin aku masih terpengaruh sama Taxi Driver kali ya, makanya setelah selesai nonton Taxi Driver dua season, kemudian nonton Voice yang sarat akan penekanan hukum pada pelaku kejahatan, aku merasa kayak... nggak adil. Nggak adil aja kalau kejahatan-kejahatan yang ditayangkan di Voice ini nggak dibalas sama dengan perbuatan pelakunya. Misalnya, nyawa dibayar nyawa. Bukan nyawa dibayar hukuman seumur hidup. Tapi, kembali lagi. Voice dan Taxi Driver punya warna yang berbeda dan nggak bisa dibandingkan satu sama lain. Nggak fair rasanya. Jadi sebaiknya, mungkin ini antara tips dan bukan tips ya, kalau belum nonton Taxi Driver season 1 dan 2, lebih baik tonton Voice dulu. Tamatin Voice dulu, setelahnya baru Taxi Driver. Karena siapa tahu ada sensasi "nggak puas" dari hanya melihat pelaku mendekam di balik jeruji besi tanpa merasakan apa yang dirasakan para korbannya, bisa ditemukan di Taxi Driver.

Tapi terlepas dari semuanya, aku suka sama Voice. Ketegangannya dapat, kekesalannya juga dapat. Karena aku lebih suka drakor detektif yang menyelesaikan berbagai kasus dalam setiap episodenya, jadi kalau ada 16-20 episode, berarti ada 16-20 kasus berbeda yang ditangani, daripada drakor 16-20 episode yang menyelesaikan satu kasus pembunuhan yang rasa-rasanya nggak kunjung menemukan titik terang dan malah terkesan membosankan kecuali diselingi dengan komedi.

Kalau soal corak kasus dalam drakor Voice ini, menurutku standart lah. Standart dalam artian, kasusnya ya hanya seputar itu-itu aja. Pembunuhan yang disebabkan karena targetnya mengetahui sisi gelap dari organisasi atau perusahaan milik pelakunya, kasus penculikan anak, pelecehan, dan lain-lain. Tapi walaupun corak kasusnya standart, Voice 1 tetap bisa dinikmati sampai habis karena aku nggak merasa bosan nontonnya. Mungkin karena alur ceritanya dipadatkan sedemikian rupa sehingga bisa fokus sama apa yang mau diceritakan. Dan aku rasa, Voice season 1 akan berbeda nuasanya dengan Voice season lainnya. Di Voice season 1, hint pelakunya adalah pada suara gesekan gigi, bola besi, dan pelaku yang menganggap dirinya sebagai Tuhan karena dilindungi oleh kuasa ayahnya yang nggak terhingga, yang ditampilkan dari hint yang sengaja ditinggalkan oleh pelaku.

Yang membuat Voice 1 spesial menurutku adalah ketika kita sebagai penonton juga serasa diajak memecahkan kasus bersama-sama melalui hint atau clue yang diberikan oleh para penelepon darurat, contohnya adalah penelepon seorang siswi SMA yang menjadi korban penculikan yang memberikan hint kalau dia dibawa ke tempat yang warna-warni. Coba tebak, tempat warna-warni apa yang dipakai pelaku untuk menyembunyikan korban?

Voice season 1 aku kasih rating 9/10. Aku merasa bersyukur karena Voice tayang sampai 4 season yang bikin aku punya stok tontonan drakor tentang detektif.

Good job buat Voice season 1. Sampai jumpa di Voice season 2.
Share: