Senin, 23 Oktober 2023

WRITE DRUNK, EDIT SOBER

Beberapa bulan yang lalu aku menemukan istilah yang epic, yang sekarang aku jadikan judul untuk blog kali ini.

Write drunk, edit sober. 

Sebagai seseorang yang sangat suka menulis, ungkapan kata itu seperti memberiku dorongan semangat untuk terus menulis dan menulis dalam keadaan seperti orang mabuk, supaya aku bisa lebih jujur dan lebih liar dan lebih gila dalam menuliskan apa yang ada di pikiran dan perasaanku. Tanpa rasa takut dan tidak percaya diri, karena aku sudah membuat diriku merasa ‘drunk’ sebelum menulis. Hanya saja, aku belum menemukan bagaimana caranya membuat diriku ‘drunk’ sebelum menulis. Tapi sepertinya dengan membaca banyak buku tentang topic yang akan ditulis sekaligus melakukan riset sampai mendalam supaya aku punya cukup amunisi untuk menulis, saat aku penuh itulah mungkin aku bisa merasa ‘drunk’ sebelum akhirnya menuangkannya, memuntahkannya, dalam bentuk tulisan yang gila, berani, liar, dan segar.

Selain amunisi yang cukup, aku merasa perlu rasanya menentukan jam-jam dimana aku mulai merasa ‘drunk’ supaya bisa merasakan energi menulis dan membuat ideku lancar. Dalam hal ini, aku masih belum menemukan jam-jam ‘drunk’ untukku menulis, tapi aku suka ketika malam. Aku merasa, jam dimana aku merasa ‘drunk’ untuk menulis adalah jam 10 malam sampai 3 pagi. Karena di jam-jam itu aku merasakan lebih hening, lebih fokus, lebih gila, liar, dan ‘mabuk’ sehingga aku bisa menuliskan apa saja yang ingin aku tuliskan. Perbedaan antara tulisanku di jam-jam aku merasa ‘drunk’ dan tidak ‘drunk’ sangat kelihatan. Tulisan ketika aku sedang ‘drunk’ akan memberikan kesan yang lebih real, jujur, vulgar, dan liar. Seolah aku tidak punya ketakutan saat menuliskannya. Berbeda ketika aku menulis di jam-jam pagi hingga sore dimana aku masih dalam keadaan ‘waras’, maka tulisanku akan terasa lebih mellow, malu-malu, dan takut-takut untuk menulis secara gila dan liar sehingga nggak banyak kejujuran yang tersampaikan walaupun aku sangat ingin menuliskannya.

Jadi menurutku, penting untuk menemukan kapan kita merasakan ‘drunk’ untuk dijadikan waktu ternyaman saat menulis. Dan editlah tulisan itu saat ada di jam-jam yang ‘sober’. Tapi untuk bagaimana caranya membuat drunk dan sober menjadi sesuatu yang bisa bekerja sama, seperti pepatah write drunk, edit sober—aku masih belum menemukan caranya. Karena itu adalah dua hal berbeda. Aku menulis di jam-jam aku merasa ‘drunk’, dan tulisan yang berbau aroma ‘drunk’ itu harus aku edit dalam keadaan ‘sober’ yang pastinya akan menimbulkan dua pertentangan unsur saat proses editing tulisan. Ibarat kata, saat menulis di waktu ‘drunk’ aku melepas semua idealisme yang aku punya dan menjadi manusia biasa—memperlihatkan sisi brengseknya, sisi devilnya dalam tulisan dengan aroma ‘drunk’ itu, dan ketika waktunya untuk editing tulisan dan harus melakukannya dalam keadaan ‘sober’, maka semua idealisme yang sebelumnya aku buang jauh-jauh, datang secara bersamaan untuk mempertanyakan hal-hal yang tidak biasa, yang tidak sesuai norma dan idealismeku dalam tulisan beraroma ‘drunk’ itu. Kenapa kamu menulis ini? Bagaimana bisa kamu menulis yang seperti ini? Ini adalah sesuatu yang terlalu dark, terlalu berbahaya, terlalu sensitif, terlalu gila, terlalu vulgar, terlalu liar untuk ditulis. Ganti saja. Lebih baik kamu menulis yang aman-aman saja, yang umum-umum saja, yang tidak keluar dari norma, sehingga kamu tidak perlu merasa berdosa saat membacanya di kemudian kelak. Simpan saja sisi paling brengsekmu dari dunia dan jangan pernah kamu tuangkan dalam tulisanmu. Suara-suara itu muncul. 

Selalu ada perdebatan dan pertentangan saat aku mengedit tulisanku. Seperti ada dua kekuatan berbeda yang sama-sama kuat sedang berperang dalam kepala.

Seperti filsafat bertemu dengan sastra. Filsafat yang saklek dan pakem diuraikan dan diruntuhkan dengan pembedahan ala sastra.

Kalau ditanya solusinya apa, aku sendiri masih belum menemukan, tapi sependek pengalamanku menulis dan membaca segelintir novel-novel, jika ingin mempertahankan tulisan beraroma ‘drunk’ itu tadi, buatlah menjadi tulisan yang liar namun indah. Kejujuran-kejujuran dan segala kepahitan dunia, mungkin bisa dibungkus dengan narasi yang indah dan puitis yang tidak mengurangi ruh kesedihannya. Tapi kalau percaya diri dengan memberitahu tulisanmu yang beraroma ‘drunk’ tadi, juga tidak masalah. Seperti tulisan-tulisan Charles Bukowski yang vulgar, liar, kotor, tapi menyimpan kejujuran paling pahit yang berusaha ditampik oleh beberapa orang.

Mungkin aku akan memperpanjang tulisan ini kalau aku sudah cukup berpengalaman dalam menuliskannya lagi.
Share:

0 comments:

Posting Komentar