Beberapa bulan yang lalu aku menemukan istilah yang epic, yang sekarang aku
jadikan judul untuk blog kali ini.
Write drunk, edit sober.
Sebagai seseorang yang sangat suka menulis, ungkapan kata itu seperti
memberiku dorongan semangat untuk terus menulis dan menulis dalam keadaan
seperti orang mabuk, supaya aku bisa lebih jujur dan lebih liar dan lebih gila
dalam menuliskan apa yang ada di pikiran dan perasaanku. Tanpa rasa takut dan
tidak percaya diri, karena aku sudah membuat diriku merasa ‘drunk’ sebelum
menulis. Hanya saja, aku belum menemukan bagaimana caranya membuat diriku
‘drunk’ sebelum menulis. Tapi sepertinya dengan membaca banyak buku tentang
topic yang akan ditulis sekaligus melakukan riset sampai mendalam supaya aku
punya cukup amunisi untuk menulis, saat aku penuh itulah mungkin aku bisa
merasa ‘drunk’ sebelum akhirnya menuangkannya, memuntahkannya, dalam bentuk
tulisan yang gila, berani, liar, dan segar.
Selain amunisi yang cukup, aku merasa perlu rasanya menentukan jam-jam dimana
aku mulai merasa ‘drunk’ supaya bisa merasakan energi menulis dan membuat
ideku lancar. Dalam hal ini, aku masih belum menemukan jam-jam ‘drunk’ untukku
menulis, tapi aku suka ketika malam. Aku merasa, jam dimana aku merasa ‘drunk’
untuk menulis adalah jam 10 malam sampai 3 pagi. Karena di jam-jam itu aku
merasakan lebih hening, lebih fokus, lebih gila, liar, dan ‘mabuk’ sehingga
aku bisa menuliskan apa saja yang ingin aku tuliskan. Perbedaan antara
tulisanku di jam-jam aku merasa ‘drunk’ dan tidak ‘drunk’ sangat kelihatan.
Tulisan ketika aku sedang ‘drunk’ akan memberikan kesan yang lebih real,
jujur, vulgar, dan liar. Seolah aku tidak punya ketakutan saat menuliskannya.
Berbeda ketika aku menulis di jam-jam pagi hingga sore dimana aku masih dalam
keadaan ‘waras’, maka tulisanku akan terasa lebih mellow, malu-malu, dan
takut-takut untuk menulis secara gila dan liar sehingga nggak banyak kejujuran
yang tersampaikan walaupun aku sangat ingin menuliskannya.
Jadi menurutku, penting untuk menemukan kapan kita merasakan ‘drunk’ untuk
dijadikan waktu ternyaman saat menulis. Dan editlah tulisan itu saat ada di
jam-jam yang ‘sober’. Tapi untuk bagaimana caranya membuat drunk dan sober
menjadi sesuatu yang bisa bekerja sama, seperti pepatah write drunk, edit
sober—aku masih belum menemukan caranya. Karena itu adalah dua hal berbeda.
Aku menulis di jam-jam aku merasa ‘drunk’, dan tulisan yang berbau aroma
‘drunk’ itu harus aku edit dalam keadaan ‘sober’ yang pastinya akan
menimbulkan dua pertentangan unsur saat proses editing tulisan. Ibarat kata,
saat menulis di waktu ‘drunk’ aku melepas semua idealisme yang aku punya dan
menjadi manusia biasa—memperlihatkan sisi brengseknya, sisi devilnya dalam
tulisan dengan aroma ‘drunk’ itu, dan ketika waktunya untuk editing tulisan
dan harus melakukannya dalam keadaan ‘sober’, maka semua idealisme yang
sebelumnya aku buang jauh-jauh, datang secara bersamaan untuk mempertanyakan
hal-hal yang tidak biasa, yang tidak sesuai norma dan idealismeku dalam
tulisan beraroma ‘drunk’ itu.
Kenapa kamu menulis ini? Bagaimana bisa kamu menulis yang seperti ini? Ini
adalah sesuatu yang terlalu dark, terlalu berbahaya, terlalu sensitif,
terlalu gila, terlalu vulgar, terlalu liar untuk ditulis. Ganti saja. Lebih
baik kamu menulis yang aman-aman saja, yang umum-umum saja, yang tidak
keluar dari norma, sehingga kamu tidak perlu merasa berdosa saat membacanya
di kemudian kelak. Simpan saja sisi paling brengsekmu dari dunia dan jangan
pernah kamu tuangkan dalam tulisanmu. Suara-suara itu muncul.
Selalu ada perdebatan dan pertentangan saat aku mengedit tulisanku. Seperti
ada dua kekuatan berbeda yang sama-sama kuat sedang berperang dalam kepala.
Seperti filsafat bertemu dengan sastra. Filsafat yang saklek dan pakem
diuraikan dan diruntuhkan dengan pembedahan ala sastra.
Kalau ditanya solusinya apa, aku sendiri masih belum menemukan, tapi sependek
pengalamanku menulis dan membaca segelintir novel-novel, jika ingin
mempertahankan tulisan beraroma ‘drunk’ itu tadi, buatlah menjadi tulisan yang
liar namun indah. Kejujuran-kejujuran dan segala kepahitan dunia, mungkin bisa
dibungkus dengan narasi yang indah dan puitis yang tidak mengurangi ruh
kesedihannya. Tapi kalau percaya diri dengan memberitahu tulisanmu yang
beraroma ‘drunk’ tadi, juga tidak masalah. Seperti tulisan-tulisan Charles
Bukowski yang vulgar, liar, kotor, tapi menyimpan kejujuran paling pahit yang
berusaha ditampik oleh beberapa orang.
Mungkin aku akan memperpanjang tulisan ini kalau aku sudah cukup berpengalaman
dalam menuliskannya lagi.
0 comments:
Posting Komentar