Kamis, 19 Oktober 2023

REVIEW DRAMA KOREA VOICE SEASON 2


Aku kira Voice season 2 adalah lanjutan dari Voice season 1, tapi ternyata enggak. Karena di Voice season 2, mereka harus memecahkan kasus pembunuhan berantai yang baru. Menurutku, kasusnya lebih rumit di season 2 dan cara pembunuhannya lebih kejam, sampai aku harus menutupi layar dengan tangan kalau ada adegan yang menunjukkan bagaimana pelakunya lagi mengeksekusi korban selanjutnya. Dan di season 2, pembunuh berantainya lebih cerdik dan rapi.

Season 2 ini, Detektif Mo Jin Hyuk sudah nggak bertugas. Lawan main Kang Kwon Joo digantikan oleh Do Kang Woo. WOI DEMI APAPUN AKU NGEFANS BANGET SAMA DO KANG WOO SOALNYA BELIAU KEREN SKSKSKSK.

Di season 2 ini masih sama, Kang Kwon Joo harus kerja sama bareng Do Kang Woo buat mengungkap siapa pembunuh berantai yang sudah menewaskan ketua tim Golden Time yang baru, yang ternyata pembunuh dari rekan kerjanya Do Kang Woo yang namanya Na Hyung Joon, adalah orang yang sama. Mereka dipertemukan di TKP dari ketua tim Golden Time yang baru, kalau nggak salah namanya detektif Jang, yang mana waktu itu Do Kang Woo langsung nyerobot buat melihat TKP karena ada kesamaan model pembunuhan, dimana salah satu anggota tubuh korbannya terpotong. Tapi karena curiga Do Kang Woo bakalan mengacaukan TKP, akhirnya Kang Kwon Joo menodongkan senjata dan yang pasti, curiga sama kehadiran Do Kang Woo. Buat bisa bekerja sama dengan Do Kang Woo di tim yang sama bukanlah hal yang mudah, karena Do Kang Woo lebih suka bekerja sendirian dalam menyelesaikan kasus sebagai akibat dia yang nggak punya banyak teman di dalam tugasnya sebagai detektif. Satu-satunya teman yang dia punya adalah Na Hyung Joon, yang sayangnya mati dalam misi mereka dimana tangannya terpotong oleh pembunuh berantai yang mengenakan topeng. Tapi pada akhirnya mereka bisa bekerja sama dalam satu tim, dengan Do Kang Woo yang tetap bersikap dingin. Dia jago banget buat membekuk para pelaku kejahatan, sepadan sama kemampuannya Kang Kwon Joo dan Golden Time. Sama seperti di season sebelumnya, di season 2 pun mereka masih harus menerima telepon-telepon darurat dari para penelepon yang butuh pertolongan, yang beberapa kasus si penelepon ada kaitannya dengan pembunuh berantai yang mereka cari. Hint di pelaku di season 2 adalah serangga, seseorang bekerja sebagai penjaga pantai, laki-laki yang perawakannya lebih besar daripada Do Kang Woo, ahli computer dan jago bela diri, pelaku yang sengaja mengadu domba alias memanfaatkan kemarahan orang lain supaya mereka punya keinginan untuk saling membunuh, dan kotak bintang untuk tempat menyimpan bagian tubuh korbannya. Pelakunya juga punya masa lalu yang nggak mengenakkan dimana dia juga jadi korban kekerasan anak yang dilakukan oleh ibunya sendiri, tapi dia nggak pernah mau meninggalkan ibunya dan terobsesi buat selalu mematuhi perintah ibunya. Bahkan sampai ibunya meninggal, dia lebih memilih mengawetkan mayat ibunya dibandingkan melaksanakan prosesi pemakaman. Di season 2 ini menurutku konfliknya lebih berwarna. Selain konflik eksternal dari para korban yang harus mereka selamatkan, ada konflik internal yang nggak kalah epik, dimana Do Kang Woo punya masa lalu yang kelam. Dan karena masa lalunya yang kelam, saudara tirinya Na Hyung Joon, detektif Na, itu selalu nggak suka sama apapun yang dilakukan Do Kang Woo karena dia menganggap kalau Kang Woo adalah pelaku yang membuat adiknya, Na Hyung Joon, terbunuh, walaupun dia sendiri belum punya bukti konkret. Asli ya, konflik internal dan eksternal di season 2 ini semakin bikin aku gemas. Semua bukti yang ada cukup untuk membuat Kang Woo terpojok dan dianggap sebagai psikopat, dan kesempatan ini dimanfaatkan sama pembunuh berantai yang mereka incar untuk memecah belah Golden Time dan berhasil, walaupun memang mereka pulih kembali. Aku kasihan sama tokoh Kang Woo karena nggak ada yang percaya sama dia sebelumnya, makanya dia bekerja lebih keras sebagai detektif untuk membuktikan kalau dia nggak akan jadi pembunuh seperti ayahnya dulu. Dan yang lebih menyayat hati adalah ketika salah satu teman dekatnya Kang Woo , yang bikin dia percaya kalau dia bener-bener teman yang mengerti dia sama seperti mendiang Na Hyung Joon, mengkhianati dia. Kalau di season 1, saat Detektif Mo Jin Hyuk dikhianati sama salah satu partner kerjanya di tim yang udah dia anggap seperti adik kandungnya sendiri itu bisa langsung mengekspresikan kemarahannya di depan orangnya langsung, beda sama Kang Woo yang walaupun dikhianati, nggak bisa marah langsung, tapi nada bicaranya berubah dingin dan pada akhirnya Cuma bisa melampiaskan kekecewaannya dengan menghajar si temannya ini walaupun nggak sampai babak belur banget. Do Kang Woo bukan orang yang mau membuang waktu dan tenaganya buat orang-orang yang nggak percaya atau yang mengkhianati dia. Jadi dia tetap berlalu meskipun badai berlalu lalang menerpa dia dari segala penjuru. ANJAYYYYYYY. Eh, tapi memang bener. Hehehe. Wah, campur aduk banget dah! Pecah!

Salah satu hal yang membuat drakor ini lebih realistis adalah ketika para detektif kesusahan untuk menangkap pelaku yang sebenarnya karena pelakunya memang secerdik dan sepintar itu. Karena walaupun mereka detektif yang udah ahli, mereka tetap aja pernah melakukan kesalahan di lapangan. Kegigihan Kang Kwon Joo dari season 1 nggak pernah berkurang. Dia berdedikasi banget sama pekerjaannya, dan Lee Ha Na memerankan karakter Kang Kwon Joo dengan sangat baik menurutku. Ekspresinya, tempo nada bicaranya, tatapannya, sebagai penonton aku bisa merasakan gimana gigihnya dia sebagai anggota Golden Time.

Dan penutup season 2 ini diakhiri dengan adegan yang epic parah. Untungnya aku nonton season 2 dalam keadaan season 3 sudah rilis. Kalau aku harus nunggu season 3 rilis, kayaknya aku bakalan nggak sanggup deh, karena ending di season 2 bikin penasaran banget. Aku sempat takut dan mewanti-wanti (AZIKKK) apakah Kang Woo masih muncul di season 3 atau nggak, karena ending season 2 masih belum menggambarkan ending yang sebenarnya—karena menurutku ending season 2 justru kelihatan seperti permulaan menuju season 3 yang lebih rumit lagi. DAN TERNYATA, KABAR BAIK UNTUK KITA SEMUA, KANG WOO MASIH MUNCUL DI SEASON 3!! AAAAAAAAA SENENGNYA WOOOIII!! Tapi aku nggak sengaja dapet bocoran dari pinterest kalau di season 3 ini konfliknya makin berat lagi dan Kang Woo banyak berubah. Aku udah mempersiapkan diri kalau di season 3 ini Kang Woo harus hilang dari radar hiksssss. Feelingku, Kang Woo bakalan jadi the next patah hati terhebatku setelah drakor Kill It dengan genre yang sama, masih tentang misteri dan pemecahan kasus. Mana aku suka gemes sendiri kalau Kang Woo dan Kwon Joo lagi ada scene bersama, padahal nggak ada adegan romantis sepanjang alur ceritanya, tapi kebersamaan mereka berdua yang mendiskusikan kasus, bikin gemes. Dan genre misteri dan action, mau film, series, atau drakor, romance tipis-tipis antar tokoh laki-laki dan perempuannya selalu sukses bikin aku gagal move on. YAHAHAHAHA. Tapi gimana ya, life is must go on, walaupun drakor yang ini bakalan bikin gagal move on. CAKEEEEPPPPP.

Yang membuat season 2 ini lebih keren menurutku adalah karena pembunuh berantai yang mereka buru juga nggak kalah keren. Jadi aku punya asumsi kalau karakter protagonist di sebuah film atau series atau novel atau komik, bisa kelihatan keren kalau mereka punya tokoh antagonis yang keren juga. Keren dalam artian, mereka cerdik dan cerdas dalam menyembunyikan identitas di balik serangkaian perilaku yang mereka lakukan.

Rating untuk season 2, masih sama seperti season 1, yaitu 9/10. Good job buat Voice season 2. Sampai jumpa di season 3. Hiks. Kuatkan aku untuk menonton Voice season 3 sampai habis, karena Kang Woo bakalan bener-bener dibuat terpojokkan. Aku memang suka konsep season selanjutnya yang beda dengan season sebelumnya, karena itu bikin warna dalam alur ceritanya lebih berwarna, tapi WOI, di Voice 3 memang bakalan lebih berat daripada season 2 sih. Seperti aku yang udah berhasil move on dari season 1 ke season 2, harusnya bisa sih move on dari season 3 ke season 4. HWHWHWHWHWHW. SEMOGA.

Ya udah, sampai jumpa lagi di review Voice season 3.

 

Share:

0 comments:

Posting Komentar