disclaimer: aku mengomentari penokohannya, bukan membenci aktor dan aktris yang memainkan tokoh tersebut.
Yap. Bener. Kalau aku ngomongin soal drakor, pasti di awal aku udah nonton, termasuk drakor Neverthless yang sempat booming banget beberapa tahun yang lalu, tapi aku sengaja nggak nonton di waktu dia lagi booming karena pasti di twitter banyak yang spoiler dan itu nggak menyenangkan, akhirnya aku baru nonton kira-kira di tahun 2023 kemarin kalau nggak salah, tapi itu pun nggak sampai habis kutonton karena sebelum episode 1 selesai, aku udah stop nonton. Kenapa? Selain karena adegannya sengaja dibuat intim dan intens, dan film atau drakor yang terlalu intens unsur romansanya (yang dikit-dikit adegan ranjang atau kissing scene) adalah drakor yang membosankan--sedangkan yang lebih berkesan dan membekas menurutku adalah drakor yang unsur romansanya tipis-tipis kayak di drakor My Liberation Notes (mungkin karena emang dari segi penokohannya beda kali ya, My Liberation Notes menceritakan bagaimana orang-orang 20 tahunan akhir memandang hidup, bahkan mungkin tokohnya digambarkan usia 30 tahunan ke atas, jadi problemnya udah bukan cuma cinta-cintaan, tapi ada masalah lain yang juga menyertai dan bikin si tokoh-tokohnya jadi kompleks, kayak masalah keluarga, masalah pekerjaan, masalah persahabatan, dan masalah dengan diri sendiri, beda sama Neverthless yang memang dari segi penokohannya adalah anak-anak mahasiswa yang kisaran usianya masih 20 tahunan awal, yang masih labil sama keputusan yang diambil, dan biasanya rawan terjebak dalam toxic relationship). Alasan kedua adalah aku nggak suka sama penokohannya Yoo Na Bi yang terlalu lemah dan labil jadi cewek (dia tahu kalau pacaran sama si Jae Eon bakalan makan hati, tapi dia udah kepalang terpesona sama si cowok ini, jadinya ada peperangan antara kata hati dan kata otak, dan yang menang ternyata perasaannya, yang mana aku pikir juga nggak masuk akal kenapa cowok red flag masih mau aja dipacarin).
Yoo Na Bi yang digambarkan sebagai cewek lugu dan labil ini cocok bersanding sama karakternyaPark Jae Eon yang karismanya kuat, pintar merayu atau menjerat perempuan dengan pesonanya, jago tarik ulur perasaan cewek, dan aku rasa karakter Jae Eon ini paham kalau Na Bi suka sama dia juga, jadi itulah kenapa dia pede-pede aja mainin perasaannya si Yoo Na Bi karena endingnya juga si cewek bakalan balik sama dia. Ini kayak duo combo yang nggak bisa dipisahin soalnya udah cocok banget dalam tanda kutip. Singkatnya, ini seperti cowok bad boy dipasangkan dengan cewek baik-baik yang polos dan lugu.
Mungkin aja Yoo Na Bi akhirnya naksir sama Jae Eon karena dia percaya sama kata-kata legend ini: "Good boy go to heaven but bad boy bring heaven to you." Bonusnya, memang si Jae Eon ini ganteng mampus dan punya aura dimana siapapun jadi terpesona sama dia bahkan ketika dia cuma jalan dan napas doang. Yang dicari Na Bi salah satunya adalah vibes yang nggak dipunyai oleh mantan pacarnya, tapi dipunyai dan dirasakan dari si Jae Eon ini.
Melihat review orang-orang di twitter soal Neverthless, aku bisa sedikit menyimpulkan kalau mereka gemas sama Yoo Na Bi yang harusnya bisa meninggalkan Jae Eon dan cari cowok yang lebih baik, dan walaupun dia udah berani minta putus sama Jae Eon, berkali-kali juga dia berhasil dibujuk buat balikan dan memang balikan betulan dan kalau nggak salah, endingnya memang mereka berdua jadian, entah Jae Eon tetap dengan sikapnya yang nggak mau berkomitmen tapi suka menggiring Na Bi ke adegan yang intim, atau mungkin dia udah berubah karena nggak mau kehilangan Na Bi (yep, klise memang).
Tapi, terlepas dari alurnya yang klise, tokoh utama yang labil dipasangkan dengan tokoh yang manipulatif sehingga menciptakan kegemasan dan kelabilan yang membuat netizen ingin menghujat baik Yoo Na Bi maupun Park Jae Eon (dan menurutku drakor ini dibuat memang sengaja untuk memancing emosi dari kepolosan Yoo Na Bi dan sikap manipulatifnya Park Jae Eon, dan sialnya berhasil, hahahaha), aku melihat bahwa tema yang diusung oleh penulis drakor ini sebenarnya adalah kenyataan yang bisa dilihat di lingkungan kampus. Bukan mahasiswa-mahasiswa AS aja yang mengenal party-party dan having sex sebelum menikah, tapi fenomena itu udah menyebar di beberapa negara, semacam bagian dari kebudayaan anak muda khususnya yang mahasiswa (nggak semuanya begini, tapi ada beberapa). Dan di Indonesia sendiri, wah, jangan ditanya, pasti ada yang begini. Sekali lagi, nggak semuanya, tapi ada. Dan di zaman yang udah semakin edan dan semakin didominasi oleh konten-konten pornografi dan normalisasi having sex sebelum menikah asalkan pakai pengaman dan prinsip mau sama mau, romantisasi staycation sama pacar di puncak, nginep di villa bersama teman-teman lawan jenis, dan skinship berlebihan dalam pacaran dianggap hal lumrah, normalisasi hal-hal yang seperti ini jadi sesuatu yang biasa, padahal ini bukan sesuatu yang boleh dinormalisasi apalagi diromantisasi. Sangat mungkin mahasiswa terlibat dalam hubungan dengan lawan jenis yang rumit seperti yang dialami oleh Yoo Na Bi dengan Park Jae Eon, dan mungkin juga ada beberapa penonton Neverthless yang merasa relate dengan permasalahan anak muda yang coba diceritakan di drakor ini.
Kalau aja endingnya diubah, dengan Yoo Na Bi yang lebih berani untuk menjauh sejauh-jauhnya dari hidup Jae Eon, mungkin akan jadi ending yang lebih realistis karena ada perubahan di dalam alur ceritanya, ada pengembangan karakter, tapi sayang sekali endingnya Yoo Na Bi mau-mau aja diajak balikan sama Jae Eon, yah... apa boleh buat. Kadang memang bukan mata aja yang buta saat mencintai seseorang sampai head over heels, tapi logika juga ikut buta.
0 comments:
Posting Komentar