Kamis, 28 Agustus 2025

REVIEW DRAKOR “BLIND” SUPAYA BANYAK ORANG TAHU DRAKOR INI WAJIB DITONTON MINIMAL SEKALI SEUMUR HIDUP



Oke, judulnya clickbait banget, tapi menurut saya Blind memang layak untuk masuk jajaran drakor bergenre crime dan mystery terbaik. Setidaknya sejauh drakor dengan genre sejenis yang sudah saya tonton, setelah Voice Season 1-4, Blind menempati urutan kedua. Yang ketiga mungkin akan saya berikan kepada Mouse, yang masih belum saya tonton (ajaib banget belum kelar nonton tapi udah tau bakalan ditempatkan di posisi ketiga, hahahaha).

Pemain utama dalam drakor ini adalah Jung Eun Ji sebagai Cho Eun Ki, Ok Taekyeon sebagai Ryu Sung Jun, Park Ji Bin sebagai Jung Yoon Jae, dan Han Seok Jin sebagai Ryu Sung Hoon. Hapal banget karena review ini ditulis setelah saya kelar nonton 16 episodenya, jadi masih hangat dan membekas di ingatan.

Kalau dibandingkan dengan Voice Season 1-4, secara plot masih lebih bagus Blind karena plotnya benar-benar menggambarkan “titik buta” yang dilewatkan oleh penonton dan akan diungkap di akhir episode. Sulit membuat 16 episode terasa cukup untuk menceritakan plot yang kronologis dan mengecoh tanpa penonton merasa bahwa 16 episode itu masih kurang. Orang-orang di balik drakor Blind benar-benar memanfaatkan durasi 16 episode untuk menggambarkan keseluruhan cerita dengan tokoh-tokoh tambahan yang diberi panggungnya sendiri-sendiri alias nggak ada yang terlewatkan untuk diceritakan.

Drakor ini menceritakan tentang rangkaian pembunuhan berantai yang dijuluki “Pembunuhan Joker” yang dilakukan oleh seseorang entah siapa, yang memberikan ciri khas sayatan di mulut korban-korbannya. Dari korban-korban yang berjatuhan itulah dicari benang merahnya untuk menemukan siapa pelaku yang sebenarnya, yang di bagian awal episode penonton akan disuguhkan beberapa tersangka yang semakin ke belakang semakin tidak terbukti bahwa mereka adalah pelaku yang sebenarnya karena pelaku yang sebenarnya justru merupakan seseorang yang nggak terduga. Alur ceritanya maju-mundur, tapi tetap bisa dinikmati dan dipahami. Kasus Pembunuhan Joker pada akhirnya membawa penyelidikan detektif Ryu Sung Jun dan timnya pada masa lalu kelam tentang sebuah panti asuhan bernama Pusat Kesejahteraan Harapan yang 20 tahun lalu memperlakukan anak-anak di sana secara kasar dan tidak manusiawi. Yep. Ini adalah pembunuhan yang didasarkan pada balas dendam, tapi pelakaunya sebenarnya punya bakat menjadi psikopat karena ia menikmati setiap kali membunuh para korbannya. Ketegangan, kebingungan, dan perasaan-perasaan semacam kesal dan haru dipadukan jadi satu di drakor ini. Yang paling saya suka dari drakor ini adalah plot twistnya yang hampir selalu ada di setiap episode. Sayangnya, saya kurang puas dengan akting tokoh Yeom Ki Nam, seorang kepala polisi yang sudah berumur yang putrinya jadi korban Pembunuhan Joker karena ia sendiri terkait erat dengan rangkaian peristiwa nggak mengenakkan di Pusat Kesejahteraan Harapan, sebab menurut saya, ekspresinya ketika akting agak berlebihan dan kelihatan nggak natural kalau dibandingkan dengan beberapa aktris atau aktor lainnya, tapi ya sudah, kualitas aktingnya nggak terlalu mengganggu sampai harus bikin saya nggak nonton drakor ini sampai habis. Plot, alur, dan bagaimana tim produksi mengeksekusi ide untuk diimplementasikan ke dalam setiap scene menurut saya menyelamatkan kualitas akting dari seseorang yang memerankan tokoh Yeom Ki Nam.

Walaupun nggak se-disturbing drakor “Save Me” yang saking disturbingnya nggak saya tonton lagi, apa yang terjadi pada anak-anak di Pusat Kesejahteraan Harapan masih membekas dan membuat saya sedih ketika mengingatnya, yang tergambarkan dalam salah satu scene yang mengharukan buat saya, ketika Cho Eun Ki dan relawan sosial lainnya membuat semacam pameran untuk menunjukkan gambar-gambar dan para anak yang ditahan di Pusat Kesejahteraan Harapan, dimana gambar-gambar mereka benar-benar menggambarkan bagaimana seramnya panti itu. Setiap gambar menggambarkan pemikiran yang berbeda, dan adegan inilah yang menurut saya bisa menciptakan kengerian tersendiri.

Memang benar bahwa tim produksi memanfaatkan 16 episode dengan baik, tapi sayangnya, di akhir, saya nggak melihat para  petinggi yang terlibat dalam kejahatan di Pusat Kesejahteraan Harapan dihukum setimpal dengan perbuatannya, dan itulah yang membuat ending dari drakor ini agak menggantung, dan sangat disayangkan, padahal saya sudah pasang ekspektasi kalau pemerintah pusat dan seluruh masyarakat akan turun tangan, mungkin terjadi perubahan seperti ditetapkannya kebijakan baru untuk setiap panti asuhan supaya apa yang terjadi pada Pusat Kesejahteraan Harapan nggak terulang lagi, tapi apa yang menurut saya cukup krusial malah nggak mendapatkan panggung untuk dieksekusi dan disaksikan oleh penonton. Mungkin kalau tuntasnya sampai 17 episode, saya bisa tidur dengan tenang karena semuanya tuntas sampai ke akar. Hahahaha. Yah, terlepas dari itu semua, Blind tetap worth it untuk ditonton.
Share:

0 comments:

Posting Komentar