Oke, judulnya clickbait banget, tapi menurut saya Blind memang layak untuk masuk jajaran drakor bergenre crime dan mystery terbaik. Setidaknya sejauh drakor dengan genre sejenis yang sudah saya tonton, setelah Voice Season 1-4, Blind menempati urutan kedua. Yang ketiga mungkin akan saya berikan kepada Mouse, yang masih belum saya tonton (ajaib banget belum kelar nonton tapi udah tau bakalan ditempatkan di posisi ketiga, hahahaha).
Pemain utama dalam drakor ini adalah Jung Eun Ji
sebagai Cho Eun Ki, Ok Taekyeon sebagai Ryu Sung Jun, Park Ji Bin sebagai Jung
Yoon Jae, dan Han Seok Jin sebagai Ryu Sung Hoon. Hapal banget karena review
ini ditulis setelah saya kelar nonton 16 episodenya, jadi masih hangat dan
membekas di ingatan.
Kalau dibandingkan dengan Voice Season 1-4, secara
plot masih lebih bagus Blind karena plotnya benar-benar menggambarkan “titik
buta” yang dilewatkan oleh penonton dan akan diungkap di akhir episode. Sulit
membuat 16 episode terasa cukup untuk menceritakan plot yang kronologis dan
mengecoh tanpa penonton merasa bahwa 16 episode itu masih kurang. Orang-orang
di balik drakor Blind benar-benar memanfaatkan durasi 16 episode untuk
menggambarkan keseluruhan cerita dengan tokoh-tokoh tambahan yang diberi
panggungnya sendiri-sendiri alias nggak ada yang terlewatkan untuk diceritakan.
Drakor ini menceritakan tentang rangkaian pembunuhan
berantai yang dijuluki “Pembunuhan Joker” yang dilakukan oleh seseorang entah
siapa, yang memberikan ciri khas sayatan di mulut korban-korbannya. Dari
korban-korban yang berjatuhan itulah dicari benang merahnya untuk menemukan
siapa pelaku yang sebenarnya, yang di bagian awal episode penonton akan
disuguhkan beberapa tersangka yang semakin ke belakang semakin tidak terbukti
bahwa mereka adalah pelaku yang sebenarnya karena pelaku yang sebenarnya justru
merupakan seseorang yang nggak terduga. Alur ceritanya maju-mundur, tapi tetap
bisa dinikmati dan dipahami. Kasus Pembunuhan Joker pada akhirnya membawa
penyelidikan detektif Ryu Sung Jun dan timnya pada masa lalu kelam tentang
sebuah panti asuhan bernama Pusat Kesejahteraan Harapan yang 20 tahun lalu
memperlakukan anak-anak di sana secara kasar dan tidak manusiawi. Yep. Ini
adalah pembunuhan yang didasarkan pada balas dendam, tapi pelakaunya sebenarnya
punya bakat menjadi psikopat karena ia menikmati setiap kali membunuh para korbannya.
Ketegangan, kebingungan, dan perasaan-perasaan semacam kesal dan haru dipadukan
jadi satu di drakor ini. Yang paling saya suka dari drakor ini adalah plot
twistnya yang hampir selalu ada di setiap episode. Sayangnya, saya kurang puas
dengan akting tokoh Yeom Ki Nam, seorang kepala polisi yang sudah berumur yang
putrinya jadi korban Pembunuhan Joker karena ia sendiri terkait erat dengan
rangkaian peristiwa nggak mengenakkan di Pusat Kesejahteraan Harapan, sebab menurut
saya, ekspresinya ketika akting agak berlebihan dan kelihatan nggak natural
kalau dibandingkan dengan beberapa aktris atau aktor lainnya, tapi ya sudah,
kualitas aktingnya nggak terlalu mengganggu sampai harus bikin saya nggak
nonton drakor ini sampai habis. Plot, alur, dan bagaimana tim produksi
mengeksekusi ide untuk diimplementasikan ke dalam setiap scene menurut saya
menyelamatkan kualitas akting dari seseorang yang memerankan tokoh Yeom Ki Nam.
Walaupun nggak se-disturbing drakor “Save Me” yang saking
disturbingnya nggak saya tonton lagi, apa yang terjadi pada anak-anak di Pusat
Kesejahteraan Harapan masih membekas dan membuat saya sedih ketika
mengingatnya, yang tergambarkan dalam salah satu scene yang mengharukan buat
saya, ketika Cho Eun Ki dan relawan sosial lainnya membuat semacam pameran
untuk menunjukkan gambar-gambar dan para anak yang ditahan di Pusat
Kesejahteraan Harapan, dimana gambar-gambar mereka benar-benar menggambarkan
bagaimana seramnya panti itu. Setiap gambar menggambarkan pemikiran yang
berbeda, dan adegan inilah yang menurut saya bisa menciptakan kengerian
tersendiri.
0 comments:
Posting Komentar