You Are The Apple of My Eye adalah salah satu film Taiwan yang terkenal dan sempat diadaptasi dalam versi Jepang dengan judul yang sama, tapi bagi saya, yang paling “kena” kemistri tokohnya adalah versi originalnya, dengan tokoh perempuan bernama Shen Chia Yi dan tokoh laki-laki bernama Ko Ching Teng (Ko Teng).
Film ini fresh dan jujur walaupun memang agak
vulgar menceritakan bagaimana kehidupan anak-anak SMA khususnya imajinasi
laki-laki tentang perempuan. Premisnya ringan aja. Menceritakan soal Ko Teng,
si murid lelaki yang bisa ditemui di tiap-tiap sekolah di Indonesia. Dia selalu
bercanda, sukanya baca komik dan nonton film dewasa, nggak tertarik belajar dan
dapat nilai bagus. Kontras sama tokoh utama perempuannya, Shen Chia Yi, yang
nggak lain adalah bintang kelas, jadi idola banyak cowok, cantik, kalem, suka
belajar dan hidupnya udah ditata sedemikianrupa oleh dirinya sendiri. Mereka
berdua yang kontras ini ketemu gara-gara salah satu guru menyuruh Shen Chia Yi
mengajari Ko Teng sampai nilainya naik. Awalnya Ko Teng susah banget nurut,
tapi lama-lama mereka akrab dan sering belajar bareng bahkan bikin taruhan,
siapapun yang nilainya tinggi, harus mengubah penampilan. Lama-lama, Ko Teng
naksir Shen Chia Yi. Sebenarnya Shen Chia Yi juga naksir, tapi Ko Teng terlalu
kekanakan buat dia, dan menurut Ko Teng, Shen Chia Yi susah dimengerti padahal
dia pikir mengerti perempuan itu semudah mengerti ibunya yang akrab sama Ko
Teng dan bapaknya.
Ko Teng dengan pemikiran polosnya soal cinta,
nggak pernah kepikiran untuk mengubah dirinya menjadi lelaki yang lebih baik
buat mendapatkan Shen Chia Yi. Karena dia pikir, perempuan yang suka sama dia
pasti bisa nerima apa adanya. Dan karena dari dulu Ko Teng pengin bisa
menguasai bela diri, jadilah dia menantang diri sendiri untuk tanding lawan
teman-teman asramanya, dan dia mengundang Shen Chia Yi buat nonton sebab Ko
Teng pengin membuktikan bahwa dia punya kelebihan yang bisa dibanggakan. Apakah
Chia Yi senang sama pembuktian yang dilakukan sama Ko Teng? Ternyata enggak.
Karena Chia Yi menurutku adalah cewek yang cinta damai. Segenting apapun
keadaannya, jangan sampai ada keributan di depan mata. Apa lagi ini si Ko Teng
main nantangin cowok-cowok di asrama buat tanding one by one sama dia, padahal Chia
Yi sama sekali nggak minta Ko Teng untuk membuktikan diri dengan cara yang
seperti itu.
Chia Yi marah ke Ko Teng dan bilang kalau cowok
itu kekanakan dan nggak bisa berubah. Menurutku, Chia Yi maunya Ko Teng tuh berubah
jadi cowok kalem yang pintar dan menata masa depannya dengan rapi, kuliah di
jurusan bergengsi dan punya penghasilan yang layak buat membangun keluarga
kelak, tapi pemikiran Ko Teng masih tentang bagaimana dia menyenangkan diri
sendiri karena menurutku Ko Teng belum siap pacaran soalnya dia masih proses
mencari jati diri. Dia gegabah macarin Chia Yi karena dia pikir cinta itu
sesederhana yang ada di pikirannya, padahal dalam prakteknya rumit. Ko Teng
nggak suka dikatain kekanak-kanakan sama Chia Yi, dia malah ngatain balik dan
bilang kalau Chia Yi nggak pernah mau mengerti dia. Chia Yi nggak berusaha
untuk mengerti kenapa Ko Teng melakukan semua ini. Intinya, prinsip mereka soal
hidup aja udah beda, nggak sejalan, jadi kalau diterusin juga nggak akan lama
hubungannya.
Karena kecewa, Chia Yi dan Ko Teng nggak
kontakan selama beberapa bulan. Selama beberapa bulan itu, Ko Teng sudah anggap
dia dan Chia Yi putus, walaupun nggak ada yang ngomong putus duluan. Selama
mereka nggak kontakan, Chia Yi ternyata sempat pacaran sama temannya Ko Teng,
nggak tau beneran naksir atau cuma kasihan. Dan selama jauh dari Chia Yi, Ko
Teng nggak nyadar juga apa kesalahannya. Buat dia, harusnya mencintai Chia Yi
bisa sesederhana yang ada di pikirannya soal cinta, harusnya Chia Yi nggak
perlu jadi susah dimengerti begini.
Ada salah satu scene sebelum mereka bertengkar,
dimana Ko Teng dan Chia Yi jalan-jalan berdua. Mereka kelihatan senang, tapi di
penghujung hari yang dihabiskan bersama, Chia Yi nanya ke Ko Teng tentang
alasan dia suka sama Chia Yi. Ko Teng nggak bisa jawab karena dia pikir, cinta
ya cinta, nggak butuh alasan. Kalau cinta masih pakai alasan, namanya bukan
cinta. Tapi Shen Chia Yi nggak puas sama jawabannya Ko Teng. Menurut dia, Ko
Teng tuh nggak mikir panjang buat suka sama dia, padahal menurut Chia Yi, Ko
Teng harus mikir matang-matang sebelum dia memutuskan buat suka dan pacaran
sama Chia Yi. Chia Yi bahkan bilang ke Ko Teng kalau dia nggak seperti yang
dibayangkan Ko Teng dan teman-temannya. Dia memang rajin belajar, tapi dia
nggak suka bersih-bersih. Kos-kosannya bahkan lebih berantakan dibanding teman
sekamarnya. Dia juga sering ceroboh. Intinya, Chia Yi mau kasih paham ke Ko
Teng kalau dia bukan Chia Yi yang dianggap “Dewi”. Dia manusia biasa yang punya
kekurangan. Chia Yi takutnya, Ko Teng suka sama dia bukan karena dia yang
sebenarnya, tapi karena Shen Chia Yi dalam imajinasi Ko Teng sendiri. Tapi
untuk pemikiran yang serumit ini, jelas Ko Teng nggak langsung paham. Dia
pikir, ya elah, kenapa perasaan suka jadi ribet begini sih?
Scene lainnya yang bikin Chia Yi jadi kurang
yakin kalau Ko Teng memahami perasaannya adalah ketika mereka mau lepasin
lampion bareng-bareng. Di sana, Ko Teng bilang kalau dia suka sama Chia Yi. Chia
Yi udah baper, dia nanya ke Ko Teng, apa
kau mau dengar jawabanku? Tapi Ko Teng malah geleng-geleng kepala karena
dia takut ditolak sama Chia Yi. Chia Yi agak kecewa karena sikap ragu-ragunya
Ko Teng bikin dia mikir, berarti nih cowok nggak peka sama perasaan gue,
padahal gue suka juga sama dia.
Shen Chia Yi pikir dia bisa mengubah Ko Teng
dari cowok tengil jadi cowok berwibawa, tapi ternyata nggak bisa dan dia kecewa
sama Ko Teng dan ekspektasinya. Ko Teng juga nggak bisa memahami Chia Yi karena
buat dia, cewek bisa jadi dewasa lebih cepat dibanding cowok. Dan ketika mereka
udah dewasa, mereka nggak akan milih cowok kekanakan walaupun mereka sama-sama
suka. Chia Yi penginnya hubungan mereka langgeng sampai ke pernikahan, tapi Ko
Teng nggak mikir sampai sejauh itu. Dan itulah yang bikin mereka nggak bisa
sama-sama buat waktu yang lama sebagai teman seumur hidup.
0 comments:
Posting Komentar