Proses kreatif yang saya maksud di sini adalah proses menciptakan sebuah karya. Saya meyakini kalau karya saya tercipta dari sisi liar dalam diri sendiri. Sisi liar didapat dari perasaan duka, kecewa, dan melihat kasus-kasus tidak manusiawi yang berserakan entah di sekeliling saya atau di media sosial. Sisi liar itu seperti campuran antara ramuan bernama realita dan imaji. Realitanya ada sebuah kasus yang sederhana, tapi setelah bertemu dengan imaji yang liar, mereka dicampurkan dan jadilah sebuah premis cerita yang kompleks, rumit, dan boleh jadi penuh dengan hal-hal yang tidak menyenangkan. Atau sebaliknya. Ketika mendapati ada sebuah kasus yang rumit, lalu realita itu bertemu dengan imaji, biasanya akan saya uraikan dari yang tadinya berbentuk gumpalan benang yang telah digulung menjadi helai-helai benang yang dirajut menjadi baju. Entah baju itu cocok dipakai di momen yang sedih atau menggembirakan (alias masuk ke cerita yang sad ending atau happy ending). Imaji saya kadang lebih liar ketika saya biarkan ia berkembangbiak dengan cara membelah diri. Imaji liar itu akan menghasilkan dua naskah yang punya dua ending—sad ending atau happy ending.
Dan kemudian, ketika menulis menjadi sebuah
profesi, maka sesuatu yang liar itu harus dijinakkan menurut hemat saya.
Mengutip dari apa yang dikatakan oleh Dee Lestari dalam bincang-bincangnya
bersama Maudy Ayunda di kanal youtubenya, Dee Lestari mengatakan bahwa proses menciptakan karya baginya harus ada
dalam struktur yang pakem, bukan liar. Apalagi untuk seseorang yang menjadikan
menulis sebagai profesi. Yang saya tangkap di sini, maksudnya adalah,
sebagai seorang penulis, tentu saja kita butuh alur dan plot juga beberapa
detail lainnya. Tidak bisa kita hanya menulis dengan bermodalkan keliaran imaji
tanpa disusun alurnya dari awal hingga akhir, hingga menjadi satu kesatuan
novel yang utuh. Sederhananya, penulis memang harus punya alur, plot, dan
segala unsur yang harus ada dalam novel di buku catatannya.
Jika Dee Lestari harus menggunakan struktur
yang jelas saat menulis supaya imajinya tidak melenceng keluar garis yang telah
ditentukan, Stephen King pernah mengatakan bahwa ia bahkan tidak pernah
mencatat ide ceritanya di dalam buku catatan. Ia hanya mengingat ide ceritanya
dan semua mengalir begitu saja sampai menjadi sebuah buku.
Di sini, saya tidak bermaksud membandingkan dua
teknik menulis yang dilakukan oleh dua penulis di atas. Dua-duanya punya
kelebihan dan kekurangan masing-masing, dan dua-duanya tidak ada yang
sepenuhnya salah atau benar. Sebab menurut saya, dalam proses menciptakan
sebuah karya, ada kalanya kita harus “melanggar” beberapa pakem yang ada.
Istilah lain menyebut bahwa penulis yang
merancang alur dan plot ceritanya dari awal sampai akhir dinamakan architect writer.
Dan yang tidak merancang alur dan plot disebut gardener writer. Arsitek
diibaratkan adalah seseorang yang penuh perencanaan, sementara tukang kebun
tidak punya rencana yang rinci dalam melakukan pekerjaannya—ia hanya melakukan
apa yang ada di depan mata.
Sejak 2016 hingga sekarang masih aktif menulis
di platform menulis dan membaca novel online, saya meyakini kalau saya adalah
tipe gardener writer alias enggak pernah merancang alurnya dari awal hingga
akhir. Saya hanya menulis berdasarkan apa yang saya ingat. Namun ketika tingkat
sensitivitas diri meningkat, kepala saya menjadi berisik menerima ide-ide yang
berlalu lalang. Kepala saya jadi berisik. Positifnya, tidak pernah kehabisan
ide. Negatifnya, saya kualahan untuk menuliskannya dalam bentuk tulisan. Bahkan
seringnya hanya saya abaikan dan tidak saya tulis sekalipun dalam bentuk cerpen.
Kalaupun saya tulis, paling mentok hanya sebatas premis. Di sini, saya masih
mengalami kesulitan untuk menggunakan teknik architect writer, yang menyusun
keseluruhan isi novelnya dengan rinci. Karena ketika saya membuat plot dan
semua unsur yang harus masuk dalam novel saya, naskah itu jadi tidak pernah
saya selesaikan karena saya merasa sudah “menyelesaikannya” ketika menulis plot
kasar dari awal sampai akhir. Kalau harus menuangkannya dalam bentuk narasi
deskriptif, maka saya merasa harus bekerja dua kali. Padahal untuk menjadi
novelis, kedisiplinan dalam berkarya harus dilatih dan dijadikan habit. Saya
selalu ingin jadi novelis, tapi belum mampu mengatasi writers block yang
ditimbulkan bukan karena kehabisan ide, tapi karena saya kesusahan untuk
mengeksekusi sebuah ide karena plotnya belum saya rancang dengan jelas, tapi
kalau plotnya saya rancang, yang ada nggak saya tulis sampai selesai. Ini
adalah sebuah paradoks yang berusaha saya taklukkan supaya saya nggak dibikin
takluk sama paradoks itu sendiri.
Saya masih “liar” dalam hal menciptakan karya.
Dan belum menemukan cara untuk “menjinakkannya” untuk dimasukkan ke dalam
struktur yang rapih.
But, still. I will do my best. Saya rasa, yang perlu saya lakukan hanya banyak-banyak menulis dan membaca sampai saya menemukan teknik kepenulisan saya sendiri.
0 comments:
Posting Komentar