Jumat, 26 Januari 2024

PROSES KREATIF ADALAH “MENJINAKKAN” YANG “LIAR” DI DALAM DIRI

Proses kreatif yang saya maksud di sini adalah proses menciptakan sebuah karya. Saya meyakini kalau karya saya tercipta dari sisi liar dalam diri sendiri. Sisi liar didapat dari perasaan duka, kecewa, dan melihat kasus-kasus tidak manusiawi yang berserakan entah di sekeliling saya atau di media sosial. Sisi liar itu seperti campuran antara ramuan bernama realita dan imaji. Realitanya ada sebuah kasus yang sederhana, tapi setelah bertemu dengan imaji yang liar, mereka dicampurkan dan jadilah sebuah premis cerita yang kompleks, rumit, dan boleh jadi penuh dengan hal-hal yang tidak menyenangkan. Atau sebaliknya. Ketika mendapati ada sebuah kasus yang rumit, lalu realita itu bertemu dengan imaji, biasanya akan saya uraikan dari yang tadinya berbentuk gumpalan benang yang telah digulung menjadi helai-helai benang yang dirajut menjadi baju. Entah baju itu cocok dipakai di momen yang sedih atau menggembirakan (alias masuk ke cerita yang sad ending atau happy ending). Imaji saya kadang lebih liar ketika saya biarkan ia berkembangbiak dengan cara membelah diri. Imaji liar itu akan menghasilkan dua naskah yang punya dua ending—sad ending atau happy ending.

Dan kemudian, ketika menulis menjadi sebuah profesi, maka sesuatu yang liar itu harus dijinakkan menurut hemat saya. Mengutip dari apa yang dikatakan oleh Dee Lestari dalam bincang-bincangnya bersama Maudy Ayunda di kanal youtubenya, Dee Lestari mengatakan bahwa proses menciptakan karya baginya harus ada dalam struktur yang pakem, bukan liar. Apalagi untuk seseorang yang menjadikan menulis sebagai profesi. Yang saya tangkap di sini, maksudnya adalah, sebagai seorang penulis, tentu saja kita butuh alur dan plot juga beberapa detail lainnya. Tidak bisa kita hanya menulis dengan bermodalkan keliaran imaji tanpa disusun alurnya dari awal hingga akhir, hingga menjadi satu kesatuan novel yang utuh. Sederhananya, penulis memang harus punya alur, plot, dan segala unsur yang harus ada dalam novel di buku catatannya.

Jika Dee Lestari harus menggunakan struktur yang jelas saat menulis supaya imajinya tidak melenceng keluar garis yang telah ditentukan, Stephen King pernah mengatakan bahwa ia bahkan tidak pernah mencatat ide ceritanya di dalam buku catatan. Ia hanya mengingat ide ceritanya dan semua mengalir begitu saja sampai menjadi sebuah buku.

Di sini, saya tidak bermaksud membandingkan dua teknik menulis yang dilakukan oleh dua penulis di atas. Dua-duanya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, dan dua-duanya tidak ada yang sepenuhnya salah atau benar. Sebab menurut saya, dalam proses menciptakan sebuah karya, ada kalanya kita harus “melanggar” beberapa pakem yang ada.

Istilah lain menyebut bahwa penulis yang merancang alur dan plot ceritanya dari awal sampai akhir dinamakan architect writer. Dan yang tidak merancang alur dan plot disebut gardener writer. Arsitek diibaratkan adalah seseorang yang penuh perencanaan, sementara tukang kebun tidak punya rencana yang rinci dalam melakukan pekerjaannya—ia hanya melakukan apa yang ada di depan mata.

Sejak 2016 hingga sekarang masih aktif menulis di platform menulis dan membaca novel online, saya meyakini kalau saya adalah tipe gardener writer alias enggak pernah merancang alurnya dari awal hingga akhir. Saya hanya menulis berdasarkan apa yang saya ingat. Namun ketika tingkat sensitivitas diri meningkat, kepala saya menjadi berisik menerima ide-ide yang berlalu lalang. Kepala saya jadi berisik. Positifnya, tidak pernah kehabisan ide. Negatifnya, saya kualahan untuk menuliskannya dalam bentuk tulisan. Bahkan seringnya hanya saya abaikan dan tidak saya tulis sekalipun dalam bentuk cerpen. Kalaupun saya tulis, paling mentok hanya sebatas premis. Di sini, saya masih mengalami kesulitan untuk menggunakan teknik architect writer, yang menyusun keseluruhan isi novelnya dengan rinci. Karena ketika saya membuat plot dan semua unsur yang harus masuk dalam novel saya, naskah itu jadi tidak pernah saya selesaikan karena saya merasa sudah “menyelesaikannya” ketika menulis plot kasar dari awal sampai akhir. Kalau harus menuangkannya dalam bentuk narasi deskriptif, maka saya merasa harus bekerja dua kali. Padahal untuk menjadi novelis, kedisiplinan dalam berkarya harus dilatih dan dijadikan habit. Saya selalu ingin jadi novelis, tapi belum mampu mengatasi writers block yang ditimbulkan bukan karena kehabisan ide, tapi karena saya kesusahan untuk mengeksekusi sebuah ide karena plotnya belum saya rancang dengan jelas, tapi kalau plotnya saya rancang, yang ada nggak saya tulis sampai selesai. Ini adalah sebuah paradoks yang berusaha saya taklukkan supaya saya nggak dibikin takluk sama paradoks itu sendiri.

Saya masih “liar” dalam hal menciptakan karya. Dan belum menemukan cara untuk “menjinakkannya” untuk dimasukkan ke dalam struktur yang rapih.

But, still. I will do my best. Saya rasa, yang perlu saya lakukan hanya banyak-banyak menulis dan membaca sampai saya menemukan teknik kepenulisan saya sendiri.

Share:

0 comments:

Posting Komentar