Baru-baru ini saya berpikir tentang apa yang saya cantumkan sebagai judul tulisan kali ini, tapi pemikiran semacam itu tidak langsung saya setujui karena saya merasa pemikiran itu terlalu “liar” dan “tidak sopan” untuk dikemukakan bahkan sekadar dimiliki, tapi lambat laun, serangkaian peristiwa terjadi dalam hidup saya dan saya melihat beberapa kasus serupa yang saya alami juga dialami oleh orang lain—entah sudah atau sedang dialami.
Menurut saya belajar
adalah proses seumur hidup, yang biarpun sudah tua, belajar hal-hal kecil—entah
tetap melakukan hal yang sama atau mencoba hal baru, melakukan hal yang sama
terus menerus juga merupakan proses pembelajaran, adalah sesuatu yang dilakukan
sepanjang hidup secara sadar atau tidak. Contohnya saja, belajar bertahan
hidup. Mau hidup yang dituju sederhana atau mewah, pasti di dalamnya, seorang
manusia pasti belajar. Mereka belajar karena mendapatkan pelajaran yang harus
dipelajari agar paham aturan main dan tidak melakukan kesalahan yang sama
berulang kali. Dan ketika mereka paham aturan mainnya, mereka bisa survive.
Salah satu
hal yang paling penting adalah belajar menjadi orangtua baik belajar sebelum
menjadi dan saat menjadi orangtua. Kekerasan dalam rumah tangga yang mana anak
bisa jadi salah satu korbannya, dan tindak kekerasan pada anak bisa diatasi
apabila tiap-tiap individu ada kemauan untuk belajar mempersiapkan diri sebelum
mereka menjadi orangtua. Bahkan sebelum mereka menimang anak kandung mereka,
mereka harus memvisualisasikan tingkah seorang anak itu seperti apa, fase apa
saja yang akan dia lalui di masa tumbuh kembangnya, perubahan apa saja yang
akan dirasakan dan dialami baik secara fisik maupun mental oleh sang anak,
bagaimana seharusnya mereka sebagai orangtua mampu mengambil tindakan yang
tegas tanpa menggunakan kekerasan pada anak, dan ilmu parenting dan psikologi
anak lainnya.
Katakanlah
belajar menjadi orangtua sebelum menjadi orangtua sungguhan adalah baik, tapi
terus belajar bahkan ketika seseorang telah menjadi orangtua juga enggak kalah
baik. Malahan, bisa saya katakan itu adalah yang paling baik. Dengan terus
belajar menjadi orangtua bahkan ketika sudah menjadi, mereka dapat memutus
pepatah yang mengatakan bahwa “orangtua selalu benar”. Dan karena mereka
memahami bahwa sebagai orangtua mereka bisa salah, setiap kesalahan yang mereka
lakukan, entah besar atau kecil, pasti tidak ada kata gengsi untuk mengaku
salah dan minta maaf kepada anak-anak mereka.
Mengaku salah
dan minta maaf mungkin kelihatan sepele, tapi nyatanya tidak semua orang mampu
melakukannya karena merasa selalu benar. Perasaan ini akan terus ada di dalam
diri seseorang yang enggan mengaku salah dan minta maaf. Menumpuk di sana,
mengendap, membuat jiwa dan fisiknya sakit, lalu menyakiti orang lain entah
yang dikenal atau tidak dikenal, hanya karena sebuah perasaan berulang yang
belum selesai dalam dirinya. Pada akhirnya, tanpa sadar, ia telah menciptakan
lingkaran setan yang semakin membesar dan membesar. Ia menjelma menjadi pusaran
yang bisa menyedot orang lain yang tidak bersalah masuk ke dalam lubang
kesengsaraan yang ia buat.
Seseorang
akan terlahir kembali ketika ia menjadi orangtua. Seorang perempuan dan
laki-laki lahir tiga kali. Perempuan lahir sebagai anak, istri, dan ibu.
Laki-laki juga lahir sebagai anak, suami, dan seorang ayah. Ketika seseorang
paham kalau ia lahir kembali ketika menjadi orangtua, maka ia akan mengosongkan
gelasnya. Mengosongkan gelas artinya siap untuk mengisinya dengan ilmu-ilmu
parenting yang baru, yang berbeda dengan zaman ketika dirinya masih menjadi
seorang anak. Mengisi gelas dengan ilmu-ilmu parenting yang sesuai dengan jiwa
zaman seorang anak ketika dilahirkan, artinya ia menghargai karunia Tuhan yang
berharga. Bahwa anak ini lahir di zaman yang berbeda jauh denganku, maka
bagaimana aku mendidiknya tidak bisa disamakan dengan bagaimana cara orangtuaku
mendidikku dulu. Maka aku harus belajar lagi dari nol tentang ilmu menjadi
orangtua yang menyesuaikan keadaan zaman dimana anakku akan lahir.
Setelah
gelasnya penuh ketika waktunya tiba untuk menjadi orangtua, ia menggunakan air
pengetahuan itu untuk mengasuh anaknya sesuai dengan umur mereka bertumbuh.
Kemudian ia akan mengosongkan gelasnya lagi untuk bisa mengisi dengan ilmu-ilmu
parenting tentang bagaimana cara memahami pikiran dan sikap seorang anak yang
berusia tiga belas tahun, empat belas, lima belas, tujuh belas, atau bahkan dua
puluh tahun. Setiap sekian tahun pertumbuhan anak adalah tangga perubahan. Dan
setiap perubahan perlu diikuti supaya ilmu parenting yang dipunya terus
diupdate dan diupgrade.
Terus belajar
bahkan ketika seseorang sampai di suatu posisi atau jabatan, dan mau untuk terus
mengupgrade diri, sama sekali tidak ada ruginya.
0 comments:
Posting Komentar