Senin, 22 Januari 2024

Berhenti Belajar Setelah Menjadi Orangtua adalah Kesalahan


Baru-baru ini saya berpikir tentang apa yang saya cantumkan sebagai judul tulisan kali ini, tapi pemikiran semacam itu tidak langsung saya setujui karena saya merasa pemikiran itu terlalu “liar” dan “tidak sopan” untuk dikemukakan bahkan sekadar dimiliki, tapi lambat laun, serangkaian peristiwa terjadi dalam hidup saya dan saya melihat beberapa kasus serupa yang saya alami juga dialami oleh orang lain—entah sudah atau sedang dialami.

Menurut saya belajar adalah proses seumur hidup, yang biarpun sudah tua, belajar hal-hal kecil—entah tetap melakukan hal yang sama atau mencoba hal baru, melakukan hal yang sama terus menerus juga merupakan proses pembelajaran, adalah sesuatu yang dilakukan sepanjang hidup secara sadar atau tidak. Contohnya saja, belajar bertahan hidup. Mau hidup yang dituju sederhana atau mewah, pasti di dalamnya, seorang manusia pasti belajar. Mereka belajar karena mendapatkan pelajaran yang harus dipelajari agar paham aturan main dan tidak melakukan kesalahan yang sama berulang kali. Dan ketika mereka paham aturan mainnya, mereka bisa survive.

Salah satu hal yang paling penting adalah belajar menjadi orangtua baik belajar sebelum menjadi dan saat menjadi orangtua. Kekerasan dalam rumah tangga yang mana anak bisa jadi salah satu korbannya, dan tindak kekerasan pada anak bisa diatasi apabila tiap-tiap individu ada kemauan untuk belajar mempersiapkan diri sebelum mereka menjadi orangtua. Bahkan sebelum mereka menimang anak kandung mereka, mereka harus memvisualisasikan tingkah seorang anak itu seperti apa, fase apa saja yang akan dia lalui di masa tumbuh kembangnya, perubahan apa saja yang akan dirasakan dan dialami baik secara fisik maupun mental oleh sang anak, bagaimana seharusnya mereka sebagai orangtua mampu mengambil tindakan yang tegas tanpa menggunakan kekerasan pada anak, dan ilmu parenting dan psikologi anak lainnya.

Katakanlah belajar menjadi orangtua sebelum menjadi orangtua sungguhan adalah baik, tapi terus belajar bahkan ketika seseorang telah menjadi orangtua juga enggak kalah baik. Malahan, bisa saya katakan itu adalah yang paling baik. Dengan terus belajar menjadi orangtua bahkan ketika sudah menjadi, mereka dapat memutus pepatah yang mengatakan bahwa “orangtua selalu benar”. Dan karena mereka memahami bahwa sebagai orangtua mereka bisa salah, setiap kesalahan yang mereka lakukan, entah besar atau kecil, pasti tidak ada kata gengsi untuk mengaku salah dan minta maaf kepada anak-anak mereka.

Mengaku salah dan minta maaf mungkin kelihatan sepele, tapi nyatanya tidak semua orang mampu melakukannya karena merasa selalu benar. Perasaan ini akan terus ada di dalam diri seseorang yang enggan mengaku salah dan minta maaf. Menumpuk di sana, mengendap, membuat jiwa dan fisiknya sakit, lalu menyakiti orang lain entah yang dikenal atau tidak dikenal, hanya karena sebuah perasaan berulang yang belum selesai dalam dirinya. Pada akhirnya, tanpa sadar, ia telah menciptakan lingkaran setan yang semakin membesar dan membesar. Ia menjelma menjadi pusaran yang bisa menyedot orang lain yang tidak bersalah masuk ke dalam lubang kesengsaraan yang ia buat.

Seseorang akan terlahir kembali ketika ia menjadi orangtua. Seorang perempuan dan laki-laki lahir tiga kali. Perempuan lahir sebagai anak, istri, dan ibu. Laki-laki juga lahir sebagai anak, suami, dan seorang ayah. Ketika seseorang paham kalau ia lahir kembali ketika menjadi orangtua, maka ia akan mengosongkan gelasnya. Mengosongkan gelas artinya siap untuk mengisinya dengan ilmu-ilmu parenting yang baru, yang berbeda dengan zaman ketika dirinya masih menjadi seorang anak. Mengisi gelas dengan ilmu-ilmu parenting yang sesuai dengan jiwa zaman seorang anak ketika dilahirkan, artinya ia menghargai karunia Tuhan yang berharga. Bahwa anak ini lahir di zaman yang berbeda jauh denganku, maka bagaimana aku mendidiknya tidak bisa disamakan dengan bagaimana cara orangtuaku mendidikku dulu. Maka aku harus belajar lagi dari nol tentang ilmu menjadi orangtua yang menyesuaikan keadaan zaman dimana anakku akan lahir.

Setelah gelasnya penuh ketika waktunya tiba untuk menjadi orangtua, ia menggunakan air pengetahuan itu untuk mengasuh anaknya sesuai dengan umur mereka bertumbuh. Kemudian ia akan mengosongkan gelasnya lagi untuk bisa mengisi dengan ilmu-ilmu parenting tentang bagaimana cara memahami pikiran dan sikap seorang anak yang berusia tiga belas tahun, empat belas, lima belas, tujuh belas, atau bahkan dua puluh tahun. Setiap sekian tahun pertumbuhan anak adalah tangga perubahan. Dan setiap perubahan perlu diikuti supaya ilmu parenting yang dipunya terus diupdate dan diupgrade.

Terus belajar bahkan ketika seseorang sampai di suatu posisi atau jabatan, dan mau untuk terus mengupgrade diri, sama sekali tidak ada ruginya.

 

Share:

0 comments:

Posting Komentar