Hari ini adalah kelahiran adikku yang nomor tujuh. Perempuan. Bapak tetap mau menggendong dan mengajaknya bicara, tapi sebenarnya aku tahu jauh di dalam hatinya ia masih menginginkan lahirnya anak laki-laki dari rahim ibuku. Ibuku sudah berumur 40 tahun, tapi bapak seolah enggan mengerti dan tekadnya yang bulat itu sekaras baja. Ia tidak akan berhenti membuahi Ibu sebelum ia mendapatkan anak lelaki. Zaman sudah modern dan kudengar kau bisa memprogramkan jenis kelamin anakmu kelak. Jika kau ingin anakmu lelaki, maka kau dan istrimu harus banyak makan daging, sementara jika kau ingin anak perempuan, kau dan istrimu harus lebih banyak makan sayur. Menurut kepercayaan orang dulu juga mengatakan demikian. Jika saat ibunya hamil sangat suka makan daging, dipastikan kalau kelak anak yang lahir adalah lelaki, begitupun ketika si ibu hamil lebih suka makan sayur, maka yang keluar adalah bayi perempuan. Meskipun tidak seratus persen akurat bisa membuat anakmu lahir dengan jenis kelamin yang kau inginkan, menurutku tidak ada salahnya dicoba. Ibu masih dalam keadaan terbaring lelah di brankar rumah sakit dengan posisi menyusui adikku yang ketujuh ketika bapak kembali mengutarakan keinginannya terang-terangan. Aku ingin kita terus berusaha sampai mendapatkan anak lelaki. Ibu tidak menjawab—tidak menolak ataupun setuju. Ibu tahu ia tidak punya pilihan. Apa yang bapak inginkan adalah perintah dan ibu harus memenuhinya. Hanya karena ibu selalu melahirkan secara normal dan lancar dari anak pertama hingga yang ketujuh, bapak mengira kalau ia telah dimudahkan untuk memiliki banyak anak.
Ibu pernah menyarankan untuk mengikuti KB,
tapi bapak bersikeras untuk tidak ikut dalam program pemerintah yang sok
mengendalikan populasi penduduk dengan mencegah bayi-bayi baru lahir. Bapak
bilang kalau pemerintah telah menentang rezeki yang telah Tuhan berikan kepada
hamba-Nya. Bapak akan sangat cerewet tentang ini, sehingga aku dan ibu sudah
kebal mendengar ocehannya yang selalu sama. Aku sudah mencoba mengatakannya
dengan cara baik-baik, tapi bapak tetap tidak mau mendengarkan. Ia tetap ingin
punya anak lelaki dari hasil darah dagingnya sendiri. Ambisi bapak sampai
membuat adik keduaku bertanya padaku pada suatu malam sebelum kami tidur. Apakah bapak tidak suka punya kami sebagai
anak-anaknya hanya karena kami perempuan? Aku tidak mampu menjawabnya,
begitu juga ibu kalau seandainya ia tahu tentang ini. Bertanya pada bapak, kami
hanya akan dapat jawaban-jawaban klise yang tidak memuaskan. Bapak sayang pada kalian semua, mau anak
bapak perempuan atau lelaki. Bapak sangat ingin punya anak lelaki supaya kalau
bapak meninggal nanti, ada yang menjaga kalian. Adikku yang nomor tiga kemudian
menyahut, memangnya kami perempuan tidak bisa menjaga diri sendiri, Pak? Zaman
sekarang perempuan sudah boleh belajar ilmu bela diri, jadi bapak tidak usah
khawatirkan tentang hal itu. Dan bapak akan menjawab lagi bahwa kodrat
perempuan adalah dilindungi oleh kaum lelaki dan bukan melindungi, sebab
perempuan adalah kaum yang lemah secara tenaga dan fisik dibandingkan lelaki.
Perempuan-perempuan di luar sana yang menjadi petinju, binaragawan, ataupun
atlet-atlet bela diri hanya berusaha melawan kodrat mereka sebagai perempuan
yang sudaha seharusnya berperangai lemah lembut, tidak punya otot, apalagi
belajar bela diri yang kebanyakan diajarkan oleh kaum lelaki.
Kami ingin
mendebat lagi jawaban bapak, tapi bapak tidak menerima sanggahan apapun atas
pendapatnya, jadi kami memutuskan diam dan hanya mendiskusikannya saat bapak
tidak di rumah. Aku, adik kedua, dan adik ketigaku sering berdiskusi mengenai
isu-isu perempuan. Dalam hal ini, untungnya bapak masih sudi memberikan kami
pendidikan walaupun kami selalu menemui kesulitan karena ada banyak anak bapak
yang harus sekolah, tapi dengan buku-buku bacaan yang tidak banyak, kami hanya
mengandalkan informasi yang didapat dari internet tentang isu-isu perempuan di
zaman modern ini. Kami mempelajari bagaimana sejarah perempuan dan
pergerakannya, dan diam-diam melakukan diskusi dan analisis bersama atas
isu-isu yang ada—menjadikan kami cukup kritis dan melek soal isu-isu kaum kami
walaupun kami tidak membicarakannya di forum-forum resmi sebab setelah pulang
sekolah, kegiatan kami disibukkan dengan mengurus seluruh pekerjaan rumah,
merawat ibu, dan juga adik-adik kami yang masih kecil-kecil.
Aku sudah
sering sekali mendengarkan para tetangga mengatakan betapa gampangnya ibuku
hamil lalu melahirkan banyak anak dengan lancar—bahkan tidak sedikit yang
memuji ibu dengan menyebutnya seperti kucing betina yang bisa melahirkan banyak
anak dengan lancar dan baik-baik saja. Mereka mengatakan pujian itu sambil
tersenyum dan tertawa-tawa ringan. Ibu yang pada dasarnya tidak banyak bicara
dan melawan, hanya tersenyum maklum pada lelucon mereka, entah sebenarnya ibu
menerima atau menolak kata-kata mereka, aku tidak tahu. Ibu tidak pernah marah
pada anak-anaknya kalau sedang tantrum—membuat para tetangga berdecak kagum.
Katanya, ibu adalah manusia paling sabar di dunia karena kalau mereka punya
anak sebanyak ibu pasti sudah gila dan tensi darah mereka akan sering naik.
Bahkan kemungkinan besar mereka akan mati di tempat karena pembuluh darah pecah
atau struk karena harus mengurus banyak anak ditambah dengan suaminya
sendiri—yang diutarakan mereka lagi-lagi dengan nada bercanda.
Kuakui, ibu memang
penyabar, tapi aku tidak lantas setuju dengan perkataan ibu-ibu yang lain kalau
mereka harus memakai kekerasan fisik atau verbal untuk mendisiplinkan
anak-anaknya. Kalau adik-adikku tantrum di depan ibu dan mereka tidak mau
diurus kami, ibu hanya akan menatap mereka, melamun, dan diam sampai mereka
lelah dan tertidur. Kadang, ibu memilih ikut menangis bersama dengan mereka
karena tidak kuat lagi menahan beban di depan anak-anaknya. Adik-adik kami akan
tambah menangis saat melihat ibu menangis karena lelah mengurus mereka yang
kadang susah patuh, tapi tangis mereka reda juga pada akhirnya. Kurasa selain
sabar, ibu juga telah lama mati rasa. Mungkin ia merasakannya saat punya anak
ketiga, atau bahkan keempat, kelima, atau keenamnya. Mati rasa membuat ibu
hanya bisa diam dan menatap lelah tingkah adik-adik kami. Kurasa ibu juga
membatin dan meratap. Kapan kiranya ini semua akan berhenti. Bukannya ia
menolak rezeki Tuhan, tapi hamil tua dan melahirkan sangat membuatnya kelelahan
baik secara fisik maupun mental. Dan suaminya selalu menganggap kalau ibu
baik-baik saja hanya karena ibu tidak pernah menunjukkan kelelahannya dan
terima-terima saja.
Pernah sekali
waktu aku menyampaikan pendapat yang sama untuk kesekiana kalinya pada ibu,
kenapa kita tidak membawa kasus ini ke kantor polisi atau lembaga perlindungan
anak dan perempuan. Kujelaskan pada ibu bahwa ini adalah bentuk penindasan dan
penjajahan modern bagi perempuan. Aku bisa memviralkan kisah ibu supaya banyak
orang yang membantu dan kasus ini menang, sebab zaman sekarang, sebuah kasus
harus viral dulu baru dilirik dan diperhatikan. Kubilang pada ibu bahwa ini
adalah saat yang tepat untuk berhenti. Bahkan aku menyarankan ibu untuk
bercerai saja dengan bapak.
Lama aku
menunggu untuk mendengar jawaban Ibu yang tidak bisa aku baca apa yang sedang
ia pikirkan melalui sorot matanya. Kupikir Ibu tidak akan menjawabnya, jadi aku
melanjutkan pekerjaanku melipat pakaian bayi yang menumpuk—yang sudah
diturunkan secara turun-temurun selama masih bisa dikenakan. Pada akhirnya, Ibu
buka suara juga. Tidak semudah itu, Nak.
Sekarang kau sudah cukup umur untuk mengerti apa yang akan aku katakan. Setiap
kali aku menolak berhubungan dengannya, ia akan mengomel panjang lebar dan
tidak pulang satu sampai dua hari. Aku merasa seperti perempuan paling berdoa
di dunia hanya karena menolak punya anak darinya lagi. Aku mencoba menceritakan
tentang apa yang aku alami pada salah satu teman yang punya banyak anak
sepertiku, tapi ia bahagia-bahagia saja punya banyak anak di usianya yang
seumuran denganku, bahkan sekarang ia sedang hamil tua untuk anaknya yang
kesembilan. Ia mengaku tidak lelah, tapi mengapa aku lelah. Aku mulai
mempertanyakan perasaan yang aku rasakan. Temanku berkata bahwa sebaiknya aku
turuti saja apa yang suamiku mau daripada ia mencari wanita lain di luar sana,
berselingkuh dariku, lalu meninggalkan aku dan anak-anakku tanpa warisan apapun
sebab aku pun hanya lulusan SMP saat menikah dengan bapakmu. Dengan banyak anak
dan hanya lulusan SMP, setelah bercerai darinya, apa kau pikir aku masih bisa
memberi makan dan baju yang layak untuk kalian? Ini seperti lingkaran setan,
tapi aku tidak tahu caranya berhenti, sehingga aku membiarkannya saja.
Lagipula, Nak, saat kau menjadi ibu dan istri kelak, perasaanmu akan mati rasa
perlahan, dan itu adalah hal yang wajar.
Aku
menggeleng, menolak pendapat Ibu, tapi aku tidak bisa mendebat jawabannya
karena aku tidak ingin membuatnya semakin lelah. Dua puluh lima tahun hidupku,
satu-satunya lelaki yang aku kenal hanyalah kakek dan bapak. Kakek punya banyak
anak, sepuluh jumlahnya. Kurasa bapak mengikuti jejak langkah kakek untuk tidak
ikut program KB dan terus berusaha sampai ia mendapat anak lelaki. Ini salah.
Perempuan bukanlah pabrik bayi. Tubuh perempuan seharusnya menjadi miliknya sekalipun
ia telah bersuami. Jika memang nasibku akan berakhir seperti Ibu dan nenek, aku
tidak ingin menikah. Sayangnya, sebulan setelah kelahiran adikku yang ketujuh,
bapak mengejutkanku dengan membawa seorang lelaki yang empat tahun lebih tua
dibanding aku, kami disuruh berkenalan, tanpa basa-basi bapak langsung
mengatakan bahwa kami telah dijodohkan sejak lama tanpa sepengetahuan aku dan
lelaki itu, tiga bulan lagi adalah pernikahan kami, dan kami tidak boleh
menolak. Kabar ini kudengar di Hari Perempuan Nasional, dimana televisi di
ruangan itu menyiarkan berita terkini mengenai beberapa perempuan yang
melakukan demo di depan kantor pemerintahan untuk mendesak pemerintah
mengesahkan undang-undang kekerasan seksual dan mengurangi kekerasan pada
perempuan dan anak. Aku menoleh pada layar televisi dan membaca salah satu
kertas karton yang diusung tinggi-tinggi penuh semangat oleh para kaumku yang
bertuliskan “PEREMPUAN BUKAN PABRIK BAYI!! RAHIM DAN TUBUHKU ADALAH OTORITASKU!!”

0 comments:
Posting Komentar