Kamis, 18 Januari 2024

PER-EMPU-AN


Hari ini adalah kelahiran adikku yang nomor tujuh. Perempuan. Bapak tetap mau menggendong dan mengajaknya bicara, tapi sebenarnya aku tahu jauh di dalam hatinya ia masih menginginkan lahirnya anak laki-laki dari rahim ibuku. Ibuku sudah berumur 40 tahun, tapi bapak seolah enggan mengerti dan tekadnya yang bulat itu sekaras baja. Ia tidak akan berhenti membuahi Ibu sebelum ia mendapatkan anak lelaki. Zaman sudah modern dan kudengar kau bisa memprogramkan jenis kelamin anakmu kelak. Jika kau ingin anakmu lelaki, maka kau dan istrimu harus banyak makan daging, sementara jika kau ingin anak perempuan, kau dan istrimu harus lebih banyak makan sayur. Menurut kepercayaan orang dulu juga mengatakan demikian. Jika saat ibunya hamil sangat suka makan daging, dipastikan kalau kelak anak yang lahir adalah lelaki, begitupun ketika si ibu hamil lebih suka makan sayur, maka yang keluar adalah bayi perempuan. Meskipun tidak seratus persen akurat bisa membuat anakmu lahir dengan jenis kelamin yang kau inginkan, menurutku tidak ada salahnya dicoba. Ibu masih dalam keadaan terbaring lelah di brankar rumah sakit dengan posisi menyusui adikku yang ketujuh ketika bapak kembali mengutarakan keinginannya terang-terangan. Aku ingin kita terus berusaha sampai mendapatkan anak lelaki. Ibu tidak menjawab—tidak menolak ataupun setuju. Ibu tahu ia tidak punya pilihan. Apa yang bapak inginkan adalah perintah dan ibu harus memenuhinya. Hanya karena ibu selalu melahirkan secara normal dan lancar dari anak pertama hingga yang ketujuh, bapak mengira kalau ia telah dimudahkan untuk memiliki banyak anak.

        Ibu pernah menyarankan untuk mengikuti KB, tapi bapak bersikeras untuk tidak ikut dalam program pemerintah yang sok mengendalikan populasi penduduk dengan mencegah bayi-bayi baru lahir. Bapak bilang kalau pemerintah telah menentang rezeki yang telah Tuhan berikan kepada hamba-Nya. Bapak akan sangat cerewet tentang ini, sehingga aku dan ibu sudah kebal mendengar ocehannya yang selalu sama. Aku sudah mencoba mengatakannya dengan cara baik-baik, tapi bapak tetap tidak mau mendengarkan. Ia tetap ingin punya anak lelaki dari hasil darah dagingnya sendiri. Ambisi bapak sampai membuat adik keduaku bertanya padaku pada suatu malam sebelum kami tidur. Apakah bapak tidak suka punya kami sebagai anak-anaknya hanya karena kami perempuan? Aku tidak mampu menjawabnya, begitu juga ibu kalau seandainya ia tahu tentang ini. Bertanya pada bapak, kami hanya akan dapat jawaban-jawaban klise yang tidak memuaskan. Bapak sayang pada kalian semua, mau anak bapak perempuan atau lelaki. Bapak sangat ingin punya anak lelaki supaya kalau bapak meninggal nanti, ada yang menjaga kalian. Adikku yang nomor tiga kemudian menyahut, memangnya kami perempuan tidak bisa menjaga diri sendiri, Pak? Zaman sekarang perempuan sudah boleh belajar ilmu bela diri, jadi bapak tidak usah khawatirkan tentang hal itu. Dan bapak akan menjawab lagi bahwa kodrat perempuan adalah dilindungi oleh kaum lelaki dan bukan melindungi, sebab perempuan adalah kaum yang lemah secara tenaga dan fisik dibandingkan lelaki. Perempuan-perempuan di luar sana yang menjadi petinju, binaragawan, ataupun atlet-atlet bela diri hanya berusaha melawan kodrat mereka sebagai perempuan yang sudaha seharusnya berperangai lemah lembut, tidak punya otot, apalagi belajar bela diri yang kebanyakan diajarkan oleh kaum lelaki.

        Kami ingin mendebat lagi jawaban bapak, tapi bapak tidak menerima sanggahan apapun atas pendapatnya, jadi kami memutuskan diam dan hanya mendiskusikannya saat bapak tidak di rumah. Aku, adik kedua, dan adik ketigaku sering berdiskusi mengenai isu-isu perempuan. Dalam hal ini, untungnya bapak masih sudi memberikan kami pendidikan walaupun kami selalu menemui kesulitan karena ada banyak anak bapak yang harus sekolah, tapi dengan buku-buku bacaan yang tidak banyak, kami hanya mengandalkan informasi yang didapat dari internet tentang isu-isu perempuan di zaman modern ini. Kami mempelajari bagaimana sejarah perempuan dan pergerakannya, dan diam-diam melakukan diskusi dan analisis bersama atas isu-isu yang ada—menjadikan kami cukup kritis dan melek soal isu-isu kaum kami walaupun kami tidak membicarakannya di forum-forum resmi sebab setelah pulang sekolah, kegiatan kami disibukkan dengan mengurus seluruh pekerjaan rumah, merawat ibu, dan juga adik-adik kami yang masih kecil-kecil.

            Aku sudah sering sekali mendengarkan para tetangga mengatakan betapa gampangnya ibuku hamil lalu melahirkan banyak anak dengan lancar—bahkan tidak sedikit yang memuji ibu dengan menyebutnya seperti kucing betina yang bisa melahirkan banyak anak dengan lancar dan baik-baik saja. Mereka mengatakan pujian itu sambil tersenyum dan tertawa-tawa ringan. Ibu yang pada dasarnya tidak banyak bicara dan melawan, hanya tersenyum maklum pada lelucon mereka, entah sebenarnya ibu menerima atau menolak kata-kata mereka, aku tidak tahu. Ibu tidak pernah marah pada anak-anaknya kalau sedang tantrum—membuat para tetangga berdecak kagum. Katanya, ibu adalah manusia paling sabar di dunia karena kalau mereka punya anak sebanyak ibu pasti sudah gila dan tensi darah mereka akan sering naik. Bahkan kemungkinan besar mereka akan mati di tempat karena pembuluh darah pecah atau struk karena harus mengurus banyak anak ditambah dengan suaminya sendiri—yang diutarakan mereka lagi-lagi dengan nada bercanda.

            Kuakui, ibu memang penyabar, tapi aku tidak lantas setuju dengan perkataan ibu-ibu yang lain kalau mereka harus memakai kekerasan fisik atau verbal untuk mendisiplinkan anak-anaknya. Kalau adik-adikku tantrum di depan ibu dan mereka tidak mau diurus kami, ibu hanya akan menatap mereka, melamun, dan diam sampai mereka lelah dan tertidur. Kadang, ibu memilih ikut menangis bersama dengan mereka karena tidak kuat lagi menahan beban di depan anak-anaknya. Adik-adik kami akan tambah menangis saat melihat ibu menangis karena lelah mengurus mereka yang kadang susah patuh, tapi tangis mereka reda juga pada akhirnya. Kurasa selain sabar, ibu juga telah lama mati rasa. Mungkin ia merasakannya saat punya anak ketiga, atau bahkan keempat, kelima, atau keenamnya. Mati rasa membuat ibu hanya bisa diam dan menatap lelah tingkah adik-adik kami. Kurasa ibu juga membatin dan meratap. Kapan kiranya ini semua akan berhenti. Bukannya ia menolak rezeki Tuhan, tapi hamil tua dan melahirkan sangat membuatnya kelelahan baik secara fisik maupun mental. Dan suaminya selalu menganggap kalau ibu baik-baik saja hanya karena ibu tidak pernah menunjukkan kelelahannya dan terima-terima saja.

            Pernah sekali waktu aku menyampaikan pendapat yang sama untuk kesekiana kalinya pada ibu, kenapa kita tidak membawa kasus ini ke kantor polisi atau lembaga perlindungan anak dan perempuan. Kujelaskan pada ibu bahwa ini adalah bentuk penindasan dan penjajahan modern bagi perempuan. Aku bisa memviralkan kisah ibu supaya banyak orang yang membantu dan kasus ini menang, sebab zaman sekarang, sebuah kasus harus viral dulu baru dilirik dan diperhatikan. Kubilang pada ibu bahwa ini adalah saat yang tepat untuk berhenti. Bahkan aku menyarankan ibu untuk bercerai saja dengan bapak.

            Lama aku menunggu untuk mendengar jawaban Ibu yang tidak bisa aku baca apa yang sedang ia pikirkan melalui sorot matanya. Kupikir Ibu tidak akan menjawabnya, jadi aku melanjutkan pekerjaanku melipat pakaian bayi yang menumpuk—yang sudah diturunkan secara turun-temurun selama masih bisa dikenakan. Pada akhirnya, Ibu buka suara juga. Tidak semudah itu, Nak. Sekarang kau sudah cukup umur untuk mengerti apa yang akan aku katakan. Setiap kali aku menolak berhubungan dengannya, ia akan mengomel panjang lebar dan tidak pulang satu sampai dua hari. Aku merasa seperti perempuan paling berdoa di dunia hanya karena menolak punya anak darinya lagi. Aku mencoba menceritakan tentang apa yang aku alami pada salah satu teman yang punya banyak anak sepertiku, tapi ia bahagia-bahagia saja punya banyak anak di usianya yang seumuran denganku, bahkan sekarang ia sedang hamil tua untuk anaknya yang kesembilan. Ia mengaku tidak lelah, tapi mengapa aku lelah. Aku mulai mempertanyakan perasaan yang aku rasakan. Temanku berkata bahwa sebaiknya aku turuti saja apa yang suamiku mau daripada ia mencari wanita lain di luar sana, berselingkuh dariku, lalu meninggalkan aku dan anak-anakku tanpa warisan apapun sebab aku pun hanya lulusan SMP saat menikah dengan bapakmu. Dengan banyak anak dan hanya lulusan SMP, setelah bercerai darinya, apa kau pikir aku masih bisa memberi makan dan baju yang layak untuk kalian? Ini seperti lingkaran setan, tapi aku tidak tahu caranya berhenti, sehingga aku membiarkannya saja. Lagipula, Nak, saat kau menjadi ibu dan istri kelak, perasaanmu akan mati rasa perlahan, dan itu adalah hal yang wajar.

            Aku menggeleng, menolak pendapat Ibu, tapi aku tidak bisa mendebat jawabannya karena aku tidak ingin membuatnya semakin lelah. Dua puluh lima tahun hidupku, satu-satunya lelaki yang aku kenal hanyalah kakek dan bapak. Kakek punya banyak anak, sepuluh jumlahnya. Kurasa bapak mengikuti jejak langkah kakek untuk tidak ikut program KB dan terus berusaha sampai ia mendapat anak lelaki. Ini salah. Perempuan bukanlah pabrik bayi. Tubuh perempuan seharusnya menjadi miliknya sekalipun ia telah bersuami. Jika memang nasibku akan berakhir seperti Ibu dan nenek, aku tidak ingin menikah. Sayangnya, sebulan setelah kelahiran adikku yang ketujuh, bapak mengejutkanku dengan membawa seorang lelaki yang empat tahun lebih tua dibanding aku, kami disuruh berkenalan, tanpa basa-basi bapak langsung mengatakan bahwa kami telah dijodohkan sejak lama tanpa sepengetahuan aku dan lelaki itu, tiga bulan lagi adalah pernikahan kami, dan kami tidak boleh menolak. Kabar ini kudengar di Hari Perempuan Nasional, dimana televisi di ruangan itu menyiarkan berita terkini mengenai beberapa perempuan yang melakukan demo di depan kantor pemerintahan untuk mendesak pemerintah mengesahkan undang-undang kekerasan seksual dan mengurangi kekerasan pada perempuan dan anak. Aku menoleh pada layar televisi dan membaca salah satu kertas karton yang diusung tinggi-tinggi penuh semangat oleh para kaumku yang bertuliskan “PEREMPUAN BUKAN PABRIK BAYI!! RAHIM DAN TUBUHKU ADALAH OTORITASKU!!”

Share:

0 comments:

Posting Komentar