Cerita dari Mahasiswi Kupu-Kupu
Beberapa bulan sebelum aku masuk kuliah sebagai mahasiswa baru, aku sangat berambisi untuk mengikuti banyak kegiatan dan organisasi di perkuliahan supaya aku bisa mendapatkan banyak teman sekaligus pengalaman, dan kalau melihat kenyataannya sekarang, aku hampir-hampir enggak percaya kalau aku pernah punya semangat yang menggebu-gebu seperti itu dulu, tapi setelah masuk perkuliahan, ada banyak hal yang membuatku harus beradaptasi, apalagi waktu aku harus kuliah online, sehingga aku harus memahami sistem kerjanya. Kakak tingkatku pernah bilang bahwa di masa kita masih maba, memahami karakter dosen saat mengajar di kelas adalah sesuatu paling penting yang harus pelajari supaya kedepannya kita paham aturan main dari masing-masing dosen saat memberikan tugas, jadi aku memutuskan untuk beradaptasi dan membaca karakter dosenku selama beberapa bulan dan aku baru bisa membiasakan diri ketika aku sudah ada di semester tiga karena ibarat kata, aku udah nggak kagok lagi sama jurusanku.
Kilas balik, aku nggak pernah melakukan konsultasi kepada guru BK atau orang tuaku tentang jurusan apa yang harus aku ambil karena kalau aku bertanya pada orang tuaku dan mereka menyuruhku untuk masuk ke salah satu jurusan yang mereka inginkan, aku takut tidak bisa memenuhi permintaan mereka, ataupun kalau aku bisa memenuhinya, aku menjadi tidak bisa menikmati perkuliahanku karena mata kuliah yang aku pelajari jauh dari apa yang aku pahami. Aku pernah ingin masuk jurusan hukum, tapi membayangkan kalau harus menghafalkan banyak pasal yang membuatku pusing, aku undur diri. Mau masuk akuntansi supaya bisa cari kerja dengan cepat setelah lulus nanti, aku sama sekali nggak pernah bersahabat baik dengan pelajaran yang banyak angkanya. Aku nggak paham tentang hutang dan neraca, jadi daripada aku bisa masuk tapi nggak bisa keluar, aku memutuskan untuk mencoret jurusan akuntansi dari daftar jurusan yang akan aku pilih. Ingin masuk ilmu sosiologi, aku akhirnya sadar kalau sosiologi adalah mata pelajaran yang cukup sulit aku pahami saat SMA karena terlalu banyak istilah rumit yang memang susah dipahami, jadi aku coret juga sosiologi dari daftar jurusan yang akan aku pilih. Ingin pilih sastra Indonesia, takutnya nanti nggak dapat kerja yang baik karena jurusan itu cukup banyak diragukan oleh lingkungan tempat tinggalku tentang prospek kerjanya, yang belakangan malah membuatku menyesal kenapa aku nggak masuk sasindo mengikuti kata hatiku karena ternyata semakin kesini, aku semakin menyukai sastra dan dunia kepenulisan. Dan karena nggak mau jadi guru, jelas aku nggak memilih FKIP, dan disinilah aku sekarang, di jurusan Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya. Yang aku pelajari adalah sejarah murni, sejarah yang dari akarnya, bukan sejarah yang ditambahi unsur pendidikan seperti jurusan FKIP sejarah.
Karena sibuk bertahan hidup di jurusan ini, ketika teman-temanku mendaftar organisasi, UKM, dan HMJ, aku hanya diam saja dan benar-benar nggak punya minat lagi untuk masuk ke organisasi atau UKM atau HMJ di jurusanku. Kukira, semester selanjutnya aku akan punya semangat itu lagi, tapi di sinilah aku, sampai aku semester tujuh pun, aku nggak pernah ikut satu organisasi, UKM, apalagi HMJ. Anggapan ‘mahasiswi apatis’ mulai menggerayangi benakku. Memang nggak ada yang mengatakan secara langsung kalau aku adalah mahasiswi apatis, tapi aku merasa sendiri bahwa aku punya label itu, sehingga untuk membuktikan bahwa aku bukanlah mahasiswi apatis, aku punya keinginan untuk ikut demo. Waktu itu, ada dua demo besar yang terjadi, yaitu tentang OMNIBUS LAW dan UU Cipta Kerja. Banyak teman jurusanku ikut turun ke jalan, dan waktu aku mau ikutan, aku nggak sengaja baca salah satu story whatsapp temanku yang bilang bahwa “ngapain ikut demo kalau nggak paham sama isu yang mau didemokan, mending ikut demo pas udah paham masalahnya apa, supaya pas turun ke jalan tau apa yang mau diorasikan”—di sana aku merasa tertampar—kayak, oh, iya juga ya, bener. Akhirnya aku mengurungkan niat untuk ikut demo, karena waktu itu aku juga nggak diperbolehkan sama orang tuaku untuk turun ke jalan. Akhirnya supaya aku merasa “menjadi bagian” dari perjuangan teman-teman, aku me-retweet banyak tweet tentang demo-demo besar itu di twitter. Cerita yang dibagikan macam-macam, sampai akhirnya aku melihat sisi demo yang lain, yang membuatku mempertanyakan apakah wajar suasana demo yang sekarang malah seperti panggung untuk sekadar bikin konten di sosial media? Bahkan ada yang bikin video joget bareng-bareng, dan drama lainnya yang bikin suasana demo seperti bukan sedang demo. Banner dan kertas-kertas yang diusung untuk memprotes kebijakan pemerintah juga banyak yang kata-katanya nggak relevan dengan apa yang akan mereka demokan. Semuanya jadi melenceng jauh dari ekspektasiku tentang suasana demo. Bahkan setelah demo selesai, ada yang mengupload foto mereka ke sosial media dengan caption-caption pembangkit semangat, dan aku bertanya, perlukah mengupload foto selfie saat demo ke sosial media untuk membakar semangat pelajar yang lain? Berapa banyak yang orasi dan berapa banyak yang ikut demo hanya untuk kebutuhan konten di sosial media? Dua hal itu jadi bias di mataku.
Permasalahanku nggak sampai sana aja, aku juga merasa ingin diakui bahwa aku ini bukan mahasiswi apatis dengan memperbaiki selera humorku. Selera humorku receh, biasanya, tapi aku mulai ada keinginan untuk punya selera humor yang cerdas, alias yang mau ketawa aja aku harus mikir dan membaca. Akhirnya aku mengikuti banyak akun meme sejarah di instagram dan beberapa kali mengupload meme-meme itu ke story whatsappku setelah aku paham tentang meme itu sehingga kalau ada orang yang reply untuk menanyakan tentang apa maksud meme itu, aku bisa menjawabnya dan aku dianggap pintar. Tapi ternyata, dari sekian ratus kontak teman yang aku simpan, bisa dihitung jari, bahkan Cuma satu-dua orang yang menanyakan maksud meme yang aku posting, sisanya hanya melihat, lalu sudah. Kemudian aku menjadi agak kesal tentang kenapa mereka, teman-temanku yang masih muda ini nggak peduli sama sejarah bangsanya sendiri, bla, bla, bla. Aku merasa kecewa dan malu karena ekspektasiku adalah mereka akan peduli dengan meme yang aku posting, padahal enggak sama sekali. Mereka punya kehidupan sendiri yang jauh lebih penting dibanding mikirin sejarah bangsa atau bahkan demo-demo besar di luaran sana.
Di sana aku sadar, ternyata ketika kita nggak jadi diri sendiri, rasanya sangat berat dan melelahkan. Semakin aku berusaha membuat orang-orang terkesan, semakin mereka enggak terkesan. Butuh waktu beberapa bulan untuk aku mulai bisa menghilangkan kebiasaan “haus pengakuan orang lain” ini. Salah satu cara yang aku lakukan adalah menghapus aplikasi sosial media yang aku punya, bahkan beberapa akun sosmed juga aku hapus, dan aku juga mengaktifkan fitur mute pada semua story whatsapp teman-temanku dan berhenti untuk upload story whatsapp terlalu banyak, sampai akhirnya aku nggak pernah upload apa-apa di sosial media, dan kalaupun upload, rentang waktunya pasti sekian bulan atau sekian tahun, sampai beberapa teman ada yang bertanya apakah nomor atau sosmedku masih aktif atau nggak.
Bahkan, aku juga menghapus aplikasi quora—dimana quora adalah sosial media yang bisa digunakan untuk tanya jawab semua hal—aku awalnya aktif sekali di quora sekadar untuk membaca dan menjawab beberapa pertanyaan ringan yang masuk, tapi lama-lama, terlalu banyak informasi yang aku konsumsi di quora membuatku kecanduan dan melupakan beberapa hal di dunia nyata yang harus aku selesaikan. Aku bahkan merasa jadi orang paling bodoh di antara sekian banyak pengguna quora yang punya jawaban-jawaban fantastis untuk pertanyaan yang berat. Too much information will kill you, dan kadang itu memang benar. Akhirnya, aku menyudahi keaktifanku di quora. Aku mencoba hidup tanpa media sosial, and guess what? Ternyata rasanya jauh lebih baik.
Aku sudah mulai jarang membandingkan diri sendiri dengan kehidupan orang lain di sosmed, aku lebih fokus dengan diri sendiri, dan melakukan banyak hal di dunia nyata daripada di sosmed.
Sampai sekarangpun, aku masih orang yang apatis dan nggak tau banyak soal isu-isu dunia bahkan di negaraku sendiri, karena aku sibuk menata kehidupan dan diri sendiri yang masih kacau, dan menurutku itu nggak apa-apa ketika aku nggak tau tentang banyak hal, karena manusia pada dasarnya nggak tau banyak hal, tapi bukan berarti rasa simpati harus berkurang karena tidak memedulikan atau tahu banyak hal. Menurutku kita punya kendali untuk menyeleksi hal-hal apa yang harus dipedulikan dan tidak. Karena aku mulai paham ketika ada banyak masalah pribadi yang datang dalam hidupku, ketika masalah itu berlalu-lalang, aku tahu kalau aku harus menyelesaikan masalahku dulu, urusan masalah di luar diriku, masalah negara dan lain sebagainya, biarlah menjadi tugas orang-orang yang ada di bidangnya, aku hanya ingin menjadi manusia biasa-biasa saja yang membantu semampunya dan tetap berkarya.
0 comments:
Posting Komentar