Jumat, 26 Januari 2024

KEMUNCULAN AI: SEBUAH PARADOKS ANTARA KEMUDAHAN DAN HILANGNYA KEASLIAN SUATU KARYA

 

Saya kagum dengan animasi-animasi karya Hayao Miyazaki yang menampilkan suasana zaman yang belum modern. Hayao Miyazaki pernah mengatakan bahwa ia adalah manusia yang lebih cocok hidup di era yang belum modern. Ia nggak akan pernah relate dengan hal-hal modern saat ini.

Sejenak, saya seperti menemukan teman sepemikiran. Karena saya sendiri nggak suka perubahan teknologi yang terlalu cepat ini. Kemajuan teknologi tidak dibarengi oleh kesiapan manusia. Beberapa ASN yang sudah berumur senja harus menguasai teknologi modern dalam hitungan minggu atau bahkan bulan. Kemajuan teknologi membuat beberapa manusia yang tidak bisa menggunakannya terkesan seperti manusia yang tertinggal.

Walaupun di satu sisi beberapa hal menjadi mudah, seperti ketika belanja dan pesan makanan nggak perlu datang ke tempatnya, bisa transfer jarak jauh tanpa harus ke bank, sampai bisa pesan ojek lewat hape, tapi kemajuan teknologi jadi cukup merugikan ketika ia sudah memasuki dunia seni apalagi semenjak kemunculan AI atau Artificial Intelligent. Sekarang, orang yang nggak bisa menggambar pun bisa menggambar dengan bantuan AI, yang sibuk nggak ada waktu untuk mengerjakan esai, bisa dibantu dengan AI. Pekerjaan memang menjadi lebih cepat, tapi apakah semuanya yang cepat selalulah baik? Padahal dalam penciptaan sebuah karya seni, khususnya gambar, bukanlah sesuatu yang dapat dikerjakan dalam waktu singkat. Bisa berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Dan semenjak kemunculan AI, orang-orang bisa menggambar hanya dengan mengetikkan prompt, tekan enter, dan BOOM! Mereka sudah mendapatkan gambar digital yang diinginkan sesuai dengan prompt. Bahkan ketika saya mencoba salah satu jasa menggambar dengan AI gratis, AI juga memberikan beberapa referensi mengenai gambar-gambar lain yang relevan dengan prompt, yang tentunya tidak sebagus referensi gambar kalau menggunakan AI berbayar.

Banyak protes yang dilayangkan oleh para seniman khususnya yang bergerak di seni menggambar dan sejenisnya. Kemunculan AI membuat para seniman konvensional yang masih menggunakan kuas, kanvas, pensil, sketchbook, dan media non elektronik untuk menggambar tergerus eksistensinya. Menggunakan AI dinilai lebih praktis dibanding menyewa jasa illustrator konvensional. Belum lagi AI juga mencuri data-data dari gambar-gambar seniman yang diunggah ke internet tanpa seizin senimannya dan tentu saja hal ini tidak membuat para seniman menerima kompensasi atas data-data karya mereka yang dicuri untuk pengembangan AI.

Dalam salah satu video youtube yang mewawancarai Hayao Miyazaki dan melihat bagaimana beliau bekerja di balik layar untuk menghasilkan animasi-animasi Ghibli yang epik, saya cukup terkejut saat melihat bahwa beliau masih menggunakan kertas-kertas untuk menggambar karakternya menggunakan pensil lalu mewarnainya dengan pensil warna dan cat air. Saya pikir, sekelas Hayao Miyazaki pasti sudah menggambar menggunakan peralatan menggambar modern, tapi saya kagum dengan beliau yang selalu berusaha menjaga keaslian dari karyanya dengan tetap menggambarnya dengan cara yang tidak modern. Hal ini juga seperti gayung bersambut karena Hayao Miyazaki didukung oleh industry kreatif Jepang yang menghargai proses pembuatan karya dengan cara konvensional, baru nanti mereka yang akan mentransfer atau mengadaptasikannya dalam bentuk animasi digital, dengan tetap memperbolehkan Hayao Miyazaki mengawasi proses pengerjaannya dari awal hingga akhir. Dari kertas ke animasi digital. Padahal Jepang adalah salah satu negara dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat. Bahkan sekadar alat memesan es krim di toko-toko sudah menggunakan robot pintar, tapi untuk urusan seni, saya menghargai Jepang yang masih mau menerima karya-karya seniman yang digambar di atas kertas.

Maka dari itu, saya katakan bahwa saya cukup relate dengan apa yang disampaikan oleh Hayao Miyazaki yang kalimatnya saya tulis di awal tulisan ini. Enggak semua perubahan yang serba memudahkan urusan manusia ini lantas membuat saya ikut merasa senang. Menurut hemat saya, ada beberapa hal yang tetap harus dijaga keasliannya dan dibiarkan konvensional. Seharusnya teknologi bisa hidup berdampingan dengan karya-karya konvensional, bukan malah menindas dan menggerus eksistensi seniman-seniman yang tidak menggunakan alat-alat modern untuk menciptakan karya seni.

Penikmat karya konvensional memang akan selalu ada. Sama halnya beberapa orang masih menyukai buku fisik dibanding buku digital, begitupun beberapa orang pasti lebih suka menikmati karya seni dalam bentuk lukisan di atas kanvas dibanding gambar-gambar AI yang modern, tapi kemunculan AI masih menjadi momok yang membuat tidur para seniman tidak nyenyak. Dan sudah seharusnya nasib para seniman di negeri ini lebih diperhatikan dan dihargai.

Share:

0 comments:

Posting Komentar