Saya kagum dengan animasi-animasi karya Hayao
Miyazaki yang menampilkan suasana zaman yang belum modern. Hayao Miyazaki
pernah mengatakan bahwa ia adalah manusia
yang lebih cocok hidup di era yang belum modern. Ia nggak akan pernah relate
dengan hal-hal modern saat ini.
Sejenak, saya seperti menemukan teman
sepemikiran. Karena saya sendiri nggak suka perubahan teknologi yang terlalu
cepat ini. Kemajuan teknologi tidak dibarengi oleh kesiapan manusia. Beberapa
ASN yang sudah berumur senja harus menguasai teknologi modern dalam hitungan
minggu atau bahkan bulan. Kemajuan teknologi membuat beberapa manusia yang
tidak bisa menggunakannya terkesan seperti manusia yang tertinggal.
Walaupun di satu sisi beberapa hal menjadi
mudah, seperti ketika belanja dan pesan makanan nggak perlu datang ke
tempatnya, bisa transfer jarak jauh tanpa harus ke bank, sampai bisa pesan ojek
lewat hape, tapi kemajuan teknologi jadi cukup merugikan ketika ia sudah
memasuki dunia seni apalagi semenjak kemunculan AI atau Artificial Intelligent.
Sekarang, orang yang nggak bisa menggambar pun bisa menggambar dengan bantuan
AI, yang sibuk nggak ada waktu untuk mengerjakan esai, bisa dibantu dengan AI.
Pekerjaan memang menjadi lebih cepat, tapi apakah semuanya yang cepat selalulah
baik? Padahal dalam penciptaan sebuah karya seni, khususnya gambar, bukanlah
sesuatu yang dapat dikerjakan dalam waktu singkat. Bisa berbulan-bulan bahkan
bertahun-tahun. Dan semenjak kemunculan AI, orang-orang bisa menggambar hanya
dengan mengetikkan prompt, tekan enter, dan BOOM! Mereka sudah mendapatkan
gambar digital yang diinginkan sesuai dengan prompt. Bahkan ketika saya mencoba
salah satu jasa menggambar dengan AI gratis, AI juga memberikan beberapa
referensi mengenai gambar-gambar lain yang relevan dengan prompt, yang tentunya
tidak sebagus referensi gambar kalau menggunakan AI berbayar.
Banyak protes yang dilayangkan oleh para
seniman khususnya yang bergerak di seni menggambar dan sejenisnya. Kemunculan AI
membuat para seniman konvensional yang masih menggunakan kuas, kanvas, pensil,
sketchbook, dan media non elektronik untuk menggambar tergerus eksistensinya. Menggunakan
AI dinilai lebih praktis dibanding menyewa jasa illustrator konvensional. Belum
lagi AI juga mencuri data-data dari gambar-gambar seniman yang diunggah ke
internet tanpa seizin senimannya dan tentu saja hal ini tidak membuat para
seniman menerima kompensasi atas data-data karya mereka yang dicuri untuk
pengembangan AI.
Dalam salah satu video youtube yang
mewawancarai Hayao Miyazaki dan melihat bagaimana beliau bekerja di balik layar
untuk menghasilkan animasi-animasi Ghibli yang epik, saya cukup terkejut saat
melihat bahwa beliau masih menggunakan kertas-kertas untuk menggambar
karakternya menggunakan pensil lalu mewarnainya dengan pensil warna dan cat
air. Saya pikir, sekelas Hayao Miyazaki pasti sudah menggambar menggunakan
peralatan menggambar modern, tapi saya kagum dengan beliau yang selalu berusaha
menjaga keaslian dari karyanya dengan tetap menggambarnya dengan cara yang
tidak modern. Hal ini juga seperti gayung bersambut karena Hayao Miyazaki
didukung oleh industry kreatif Jepang yang menghargai proses pembuatan karya
dengan cara konvensional, baru nanti mereka yang akan mentransfer atau
mengadaptasikannya dalam bentuk animasi digital, dengan tetap memperbolehkan Hayao Miyazaki mengawasi proses pengerjaannya dari awal hingga akhir. Dari kertas ke animasi
digital. Padahal Jepang adalah salah satu negara dengan perkembangan teknologi
yang sangat pesat. Bahkan sekadar alat memesan es krim di toko-toko sudah menggunakan robot
pintar, tapi untuk urusan seni, saya menghargai Jepang yang masih mau menerima
karya-karya seniman yang digambar di atas kertas.
Maka dari itu, saya katakan bahwa saya cukup
relate dengan apa yang disampaikan oleh Hayao Miyazaki yang kalimatnya saya
tulis di awal tulisan ini. Enggak semua perubahan yang serba memudahkan urusan
manusia ini lantas membuat saya ikut merasa senang. Menurut hemat saya, ada
beberapa hal yang tetap harus dijaga keasliannya dan dibiarkan konvensional.
Seharusnya teknologi bisa hidup berdampingan dengan karya-karya konvensional,
bukan malah menindas dan menggerus eksistensi seniman-seniman yang tidak
menggunakan alat-alat modern untuk menciptakan karya seni.
Penikmat karya konvensional memang akan selalu
ada. Sama halnya beberapa orang masih menyukai buku fisik dibanding buku
digital, begitupun beberapa orang pasti lebih suka menikmati karya seni dalam
bentuk lukisan di atas kanvas dibanding gambar-gambar AI yang modern, tapi
kemunculan AI masih menjadi momok yang membuat tidur para seniman tidak
nyenyak. Dan sudah seharusnya nasib para seniman di negeri ini lebih
diperhatikan dan dihargai.
0 comments:
Posting Komentar